Berita Terbaru
Terbuka, Peluang Kerja Sama dengan Universitas di Rusia
Laporan oleh: Anton Sumantri
[Unpad.ac.id, 19/01] Peluang kerja sama Universitas Padjadjaran (Unpad) dengan universitas-universitas di Rusia sangatlah terbuka karena Rusia kini berbeda dengan Rusia dahulu saat masih merupakan bagian dari Uni Soviet. Demikian disampaikan Wakil Kepala Perwakilan RI di Rusia, A. Agus Sriyono di Bale Rumawat Padjadjaran, Jl. Dipati Ukur 35 Bandung, Senin (19/01) .

Wakil Dubes RI untuk Rusia, Agus Sriyono, sedang memaparkan presentasinya (Foto: Dadan T.)
Acara tersebut dihadiri Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia, Pembantu Rektor (PR) I, Prof. Dr. Husein Hernadi Bahti, PR III, dr. Trias Nugrahadi, Sp. KN., PR IV, Prof. Dr. Tb. Zulrizka Iskandar, S.Psi., M.Sc., dan Direktur Kerja Sama Unpad, Ramdan Panigoro, MD., M.Sc., Ph.D. “Bila dulu Rusia yang merupakan pecahan Uni Soviet, lebih dikenal sebagai negara komunis, tertutup, dan kaku, kini Rusia telah berubah menjadi negara yang terbuka,” kata Agus.
Hadir pula sejumlah pejabat Fakultas Sastra (Fasa) Unpad, seperti Dekan Fasa, Prof. Dr. Dadang Suganda, Drs., M.Hum., Pembantu Dekan I Fasa, Reiza D. Dienaputra, M.Hum., Ketua Jurusan Sastra Rusia, Dra. Upik Rafida, M.Hum., Guru Besar Fasa Unpad, Prof. Dr. Davidescu Sp. Cristiana Victoria Martha, MA., dan sejumlah undangan serta mahasiswa Jurusan Sastra Rusia.
Wakil Duta Besar RI di Rusia ini juga menyebutkan, sejak dulu hubungan Indonesia dan Rusia telah terjalin baik. “Hal ini terbukti dengan banyaknya warga negara Indonesia yang belajar di Rusia pernah mencapai angka 2.000 orang. Namun ketika tahun 1988 angka ini menyusut hingga dua orang saja. Kini setelah 20 tahun berlalu, angka ini mengalami kenaikan menjadi 90 orang,” papar Agus.
Lebih lanjut Agus mengatakan, jika dibandingkan dengan Cina, India, Korea, Vietnam, dan Malaysia, jumlah mahasiswa asal Indonesia sangat jauh berbeda. “Sebut saja mahasiswa Vietnam yang menimba ilmu di Rusia mencapai 6.000 orang dan mahasiswa Malaysia berjumlah 2.000 orang, sementara mahasiswa asal Indonesia jumlahnya sangat sedikit,” kata Agus.

Persembahan Lagu Rusia oleh Mahasiswa Sastra Rusia Unpad (Foto: Dadan T.)
Agus Sriyono memandang, ada hal yang perlu segera dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk menjawab persoalan tersebut. “Suka atau tidak, Rusia masih dikenal dengan negara super power. Teknologi energi yang mereka kembangkan merupakan salah satu teknologi yang mumpuni di dunia. Siapa yang menguasai energi, dialah yang akan menguasai dunia,” ujar Agus.
Dalam kesempatan ini, ia juga menyampaikan kesempatan yang bagus untuk mahasiswa Indonesia, khususnya mahasiswa Unpad. Pada 2009 ini, lanjut Agus, pemerintah melalui Pusat Kebudayaan Rusia menyediakan 35 beasiswa untuk program pendidikan S1, S2, dan S3. “Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Ditjen Dikti) juga menyediakan 600 beasiswa ke luar negeri, khusus bagi pengajar atau dosen. Setidaknya 50 dari total beasiswa Ditjen Dikti diusahakan ke Rusia,” kata Agus. (rth)*


