Berita Terbaru
- Kuota Bidikmisi Meningkat, Unpad Tingkatkan Sosialisasi ke Daerah
- Lowongan Kerja di PT Indosat Tbk
- Pelatihan Bahasa Inggris Batch II Untuk Dosen Perguruan Tinggi Tahun 2012
- ESU Unpad Catat Prestasi di Kejuaraan Debat Tingkat Nasional dan Internasional
- Dharma Wanita Persatuan Unpad Serahkan Buku ke 3 Desa di Sekitar Jatinangor
Prof. Dr. Avip Syaefullah, “Pendidikan Kesehatan Masyarakat Kita Tidak Efektif”
[Unpad.ac.id, 27/01/2012] Apa pengertian dari kata “sehat”? Jika menurut Anda sehat itu bebas dari segala macam penyakit, persepsi Anda hanya sebatas dalam dimensi negative health. Persepsi seperti itu pula yang saat ini masih dimiliki para birokrat dan elit politik di Indonesia dengan berbagai program dan kebijakannya dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Avip Syaefullah, drg., M.Pd. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah sehat dalam arti sejahtera (positive health). Sehingga masyarakat memiliki kemampuan dalam meningkatkan kualitas hidupnya.
“Kondisi ini merupakan bukti bahwa program Pendidikan Kesehatan Masyarakat tidak efektif atau gagal sehingga elit pemerintahan dan politik saat ini diselimuti oleh fenomena Low Literacy on Health Policy Related Quality Of Life (HPRQoL),” ungkap Prof. Dr. Avip dalam Orasi Ilmiah berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Pendidikan Kesehatan Masyarakat, FKG Unpad di Grha Sanusi Hardjadinata, Jln. Dipati Ukur No.35 Bandung, Jumat (27/01).
Dalam orasinya yang berjudul “Low Literacy on HPRQoL; Kegagalan Pendidikan Kesehatan Masyarakat; Penyebab Terjadinya Siklus Kebodohan Kemiskinan, Penyakit di Indonesia” Prof. Avip meyakini bahwa munculnya paradigma vicsous circle (kebodohan-kemiskinan-penyakit) sejak orde lama, orde baru, hingga saat ini adalah akibat dari kurangnya pemahaman para birokrat, dan elit politik terhadap terminologi WHO-Quality of Life.
“Dugaan ini dibuktikan di bidang kesehatan gigi dan mulut, dimana fenomena tersebut terefleksikan secara terukur dengan menggunakan indeks Oral Health Related Quality of Life (OHRQoL index),” tambah Prof. Avip dihadapan ratusan tamu undangan.
Hal tersebut tercermin dari riset di 5 kota/kabupaten Jawa Barat, dimana data menunjukkan bahwa dental health education program yang dilaksanakan pemerintah daerah tidak efektif. Fakta rendahnya OHRQoL dan tidak efektifnya DHE menjadi dasar yang logis untuk memprediksi terjadinya fenomena low literacy on HPRQoL di berbagai sektor dan masyarakat.
“Dengan demikian, paradigma viscous Kebodohan-Kemiskinan-Penyakit akan sulit dicegah akibat adanya misperception, impairments, disabilities birokrat, elit politik terhadap HPRQoL” lengkapnya. Termasuk kebijakan pemerintah dalam pembiayaan pelayanan kesehatan. Maka, tambah Prof. Avip, untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu ada kebijakan kesehatan (health policy) untuk membuka keikutsertaan masyarakat dalam mengatasi permasalahan pembiayaan kesehatan.
Seusai menyampaikan orasi ilmiahnya, Pria kelahiran Tasikmalaya, 19 Januari 1950 ini kemudian menerima ucapan selamat dari Rektor, guru besar, dan sejumlah tamu undangan. Dalam kesempatan ini, Ayah dari dua orang anak ini menyampaikan terima kasih atas pengukuhannya sebagai guru besar dalam Ilmu Pendidikan Kesehatan Masyarakat FKG Unpad.
“Terima kasih atas kepercayaan kepada saya untuk menjadi guru besar dalam Ilmu Pendidikan Kesehatan Masyarakat FKG Unpad, sehingga bisa melaporkan pertanggung jawab moral saya selama 32 tahun mengabdi sebagai PNS, melalui orasi ilmiah ini kepada publik, civitas akademika, dan khususnya kepada keluarga,” tutupnya. *



