Berita Terbaru
“Woiseks” Teater Bel Pukau Penonton
Laporan oleh: Inge Suratmining
[Unpad.ac.id, 6/03] Teater Bel, salah satu teater tua yang masih bertahan di Indonesia, kembali menggelar pertunjukan. Teater yang telah ada sejak 1973 itu sempat vakum selama 10 tahun pada periode 1998 – 2008. Kelompok teater yang lahir di Bandung ini kembali beraktivitas pada November 2008 lalu di Teater Tertutup Taman Budaya Jabar, Bandung. Kemarin, Kamis (5/03) malam, Teater Bel mementaskan drama berjudul “Woiseks” di Grha Sanusi Hardjadinata, Kampus Unpad, Jl. Dipati Ukur 35 Bandung.
Sebelum pementasan dimulai, Yesmil Anwar, S.H., M.Si., yang banyak terlibat dalam pagelaran ini memberikan kata sambutan dan ucapan terima kasih kepada sivitas akademika Unpad. “Tanpa terasa tahun ini Teater Bel sudah mencapai usia 36 tahun dan terselenggaranya pagelaran ini tentunya tidak lepas dari peran serta sivitas akademika Unpad”, tutur Yesmil yang juga salah satu staf dosen di Fakultas Hukum (FH) Unpad.
Pementasan yang diadaptasi dari naskah berjudul Woyzeck karangan George Büchner ini memercayai Erry Anwar sebagai Sutradara. Sedangkan para pemain yang terlibat banyak berasal dari alumni Unpad, dan Yesmil Anwar, S.H., M.Si. sendiri dipercaya sebagai Dramaturg pementasan ini. Teater Bel sudah berdiri sejak tahun 1973 lalu dengan berbagai pementasan diantaranya “Usus Dua Belas Jari” (1974), “Perjalanan Kehilangan” (1979), “Perhitungan” (1982), “Titik-titik Hitam” (1990), “Pelangi” (1994), dll.
Di tahun 1985 Teater Bel juga menggelar pementasan “Performance Art” yang berhasil menjadi penampilan terbaik dalam acara Gelanggang Film Anak Muda, FFI di Bandung serta memeroleh Piala Citra Bayangan. Dari catatan pada tahun 1996, anggota Teater Bel melebihi 500 orang. Teater Bel telah banyak melahirkan beberapa sutradara, aktor/aktris handal, penulis, dan penata artistik melalui pementasan-pementasannya.
Pagelaran berjudul “Woiseks” merupakan drama dari gambaran nyata seorang prajurit rendahan di tangsi militer bernama Woyzeck. Himpitan kondisi sosial ekonomi membuat Woyzeck yang beristrikan perempuan cantik bernama Mari ini, berpacu memenuhi kebutuhan hidupnya. Intimidasi dari lingkungan sekitarnya, juga pengkhianatan yang dilakukan istrinya, menjadi sebuah tekanan bagi Woyzeck sehingga ia berhalusinasi dan dikejar-kejar bayangan kekalahan atas pertarungan hidup.
Tekanan-tekanan terhadap Woyzeck ditunjukkan dalam 26 adegan-adegan pendek pementasan ini. Drama ini membawa pesan bahwa kekuatan moral saja tidak cukup untuk memberikan suatu perubahan di tengah masyarakat yang tidak bermoral. Akting yang maksimal dari seluruh pemain mampu memukau penonton dan menjadikan pagelaran ini terasa sangat hidup.
Diantara sekian banyak pemain yang terlibat, Sigrid Minerva Boni Avibus adalah salah satu pemain termuda dalam pementasan ini. Bocah Sekolah Dasar (SD) yang akrab dipanggil Boni ini masih berumur 8 tahun dan mengaku senang bisa ikut bermain dalam pagelaran teater. “Kalau latihan biasanya di Gedung Indonesia Menggugat mulai dari jam 1 siang sampai jam 10 malam,” ujar Boni yang ditemui usai pementasan malam itu.
Drama teater yang berdurasi hampir 2 jam ini dihadiri oleh Rektor Unpad Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA., Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, Trias Nugrahadi, dr., Sp. KN., para guru besar Unpad, beberapa pejabat Unpad, dan juga tentunya mahasiswa Unpad yang sangat antusias dan memiliki apresiasi tinggi terhadap hasil karya seni teater. (eh)*
![]() |





