Berita Terbaru
Pasar Tradisional Punya Potensi Saingi Pasar Modern
Laporan oleh: Ratih Anbarini
[Unpad.ac.id, 2/06] Persoalan pasar tradisional seakan tidak pernah selesai. Kondisi bangunan pasar yang tua, lingkungan yang kumuh dan kotor, tidak tertibnya petugas dalam memungut retribusi dari tiap pedagang, serta kasus premanisme selalu menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pasar tradisional. Kenyataan ini memprihatinkan, mengingat sebenarnya pasar tradisional mampu bersaing dengan pasar modern yang kini mulai menjamur di Bandung.
Demikian kesimpulan yang disampaikan Tim Holding Seminar Manajemen Stratejik (SMS) bimbingan Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi (FE) Unpad, Popy Rufaidah, SE., MBA., Ph.D. pada kegiatan bertajuk “Seminar Manajemen Stratejik: Studi Kasus Pasar Tradisional di Kota Bandung”. Kegiatan yang diselenggarakan Selasa (2/06) di Ruang Multimedia B1 FE Unpad, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung ini merupakan kerja sama antara FE Unpad dengan Perusahaan Daerah (PD) Pasar Bermartabat Kota Bandung. Tampak hadir dalam kegiatan itu Dekan FE Unpad, Prof. Dr. Hj. Ernie Tisnawati Sule, SE., M.Si., Direktur Utama PD Pasar Bermartabat Kota Bandung, Dr. Dodi Soeryadi beserta jajarannya.
Popy menjelaskan, tim yang terdiri dari delapan orang tersebut sebelumnya melakukan penelitian pada 12 pasar tradisional dari 37 pasar tradisional yang dikelola PD Pasar Bermartabat Kota Bandung. Mereka adalah mahasiswa jurusan manajemen angkatan 2006 yang terdiri atas Febriola A. Simanjuntak, Handoko Rahmat Purbo Utomo, Mochamad Reza Enoch, Nopriandi M. Ikbal, Fika Zaviera Remalia, Trisnayanti Pardede, Intan Maulida Suryaningsing, dan Suharyadi Pratama.
Dr. Dodi menjelaskan bahwa upaya pemerintah dalam merevitalisasi pasar tradisional memang telah dilakukan. Namun, jumlahnya masih sangat kecil, yaitu 6 hingga 7 pasar tradisional. “Itu pun banyak yang bermasalah,” tambah Dr. Dodi. Belum lagi keberadaan pasar modern di Kota Bandung yang mencapai 350 buah, mulai ukuran hyper, super, hingga mini. Jumlah tersebut menunjukan bahwa satu pasar tradisional bersaing dengan hampir 10 pasar modern.
Kepala Bidang Pengelolaan dan Pemeliharaan Aset, Drs. Yaya Suryana mengatakan bahwa pihaknya sangat membutuhkan rencana strategis guna meningkatkan daya saing dengan pasar-pasar modern. “Sejumlah permasalahan yang meliputi pasar tradisional menunjukan perlunya pengelolaan pasar secara profesional,” ujar Drs. Yaya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama dua bulan, Tim Holding SMS merumuskan sejumlah langkah stratejik bagi PD Pasar Bermartabat dan seluruh pasar tradisional yang dikelolanya. Langkah-langkah tersebut diambil dari metode analisis yang terdiri dari kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dimiliki PD Pasar Bermartabat.
Dalam paparannya dijelaskan bahwa sudah saatnya PD Pasar Bermartabat memiliki website resmi agar dapat menyosialisasikan keberadaan pasar-pasar yang dikelolanya beserta produk unggulan yang dijajakan di pasar-pasar tersebut. Selain itu, PD Pasar Bermartabat juga perlu mengoptimalisasikan retribusi dari pedagang di setiap pasar yang dikelolanya.
Retribusi ini dianggap sebagai masalah paling utama di PD Pasar Bermartabat. Dijelaskan bahwa mekanisme penarikan retribusi masih tidak sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. “Para petugas retribusi biasanya tidak memberikan kewajibannya, yaitu tanda bukti pembayaran atau karcis ketika memungut dana dari pedagang. Akibatnya beberapa pedagang harus membayar dua kali dalam sehari, karena tidak mampu menunjukan karcis. Ini menciptakan kondisi yang tidak harmonis antara pedagang dengan PD Pasar Bermartabat,” jelas Febiola.
Ia juga mengungkapkan bahwa petugas retribusi biasanya memaklumi kondisi pedagang yang barang dagangannya belum terjual, sehingga tidak memungut retribusi. Padahal, PD Pasar Bermartabat memiliki payung hukum yang jelas dalam memungut retribusi itu dari para pedagang.
Strategi lain yang dapat dilakukan PD Pasar Bermartabat berdasarkan penelitian tersebut adalah melakukan positioning pasar. Dijelaskan bahwa positioning tersebut mampu memperkuat posisi pasar di mata konsumen. “Pasar Astana Anyar terkenal akan baksonya, sehingga banyak orang mencarinya ke pasar itu. Sayangnya, pasar-pasar lain belum memiliki keunggulan semacam ini,” kata penyaji lainnya, Reza.
Penerapan teknologi informasi, pembuatan manajemen rantai pasokan yang diperpendek, reposisi pegawai, relokasi pedagang kaki lima (PKL), dan mengolah sampah organik menjadi pupuk merupakan strategi lain yang dapat dilakukan PD Pasar Bermartabat. Bila semua hal itu dapat dilakukan, maka potensi pendapatan yang dapat diperoleh dari 12 pasar tradisional tersebut mampu mencapai 22 miliar per tahun. “Hal ini jauh berbeda dengan perolehan pendapatan saat ini yang hanya tercapai 4 miliar per tahun,” tukas penyaji lainnya, Suharyadi. (eh)*
![]() |




