<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> <rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
><channel><title>Universitas Padjadjaran &#187; Berita</title> <atom:link href="http://www.unpad.ac.id/arsip/berita/feed" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://www.unpad.ac.id</link> <description>To Be Recognized as World Class University</description> <lastBuildDate>Thu, 02 Sep 2010 15:16:02 +0000</lastBuildDate> <generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator> <language>en</language> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <item><title>Teladan Pemerintahan Babad Galuh Imbanagara untuk Pemerintahan Saat Ini</title><link>http://www.unpad.ac.id/archives/34675</link> <comments>http://www.unpad.ac.id/archives/34675#comments</comments> <pubDate>Thu, 02 Sep 2010 15:16:02 +0000</pubDate> <dc:creator>erman</dc:creator> <category><![CDATA[Berita]]></category><guid
isPermaLink="false">http://www.unpad.ac.id/?p=34675</guid> <description><![CDATA[Laporan oleh: Artanti Hendriyana
[Unpad.ac.id, 2/09] Keberhasilan yang dicapai oleh seorang kepala pemerintahan, khususnya bupati, tentu sangat didukung oleh kemampuan dalam memberdayakan masyarakatnya. Di masa lalu, sosok seorang bupati termasuk ke dalam kategori pemimpin karismatik, pemimpin yang mampu menggerakkan orang lain melalui kekuasaan pribadinya.
“Bupati memiliki kekuasaan dan kewenangan untuk membuat program-program strategis untuk membangun daerahnya. Bagi [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Laporan oleh: Artanti Hendriyana</p><p>[Unpad.ac.id, 2/09] Keberhasilan yang dicapai oleh seorang kepala pemerintahan, khususnya bupati, tentu sangat didukung oleh kemampuan dalam memberdayakan masyarakatnya. Di masa lalu, sosok seorang bupati termasuk ke dalam kategori pemimpin karismatik, pemimpin yang mampu menggerakkan orang lain melalui kekuasaan pribadinya.</p><p>“Bupati memiliki kekuasaan dan kewenangan untuk membuat program-program strategis untuk membangun daerahnya. Bagi seorang bupati yang memiliki kecerdasan dan kemampuan yang tinggi, banyak gagasannya yang dituangkan dalam memberdayakan dan membangun berbagai kebutuhan masyarakatnya,” jelas Nenny Kencanawati saat mempertahankan disertasinya yang berjudul “Babad Galuh Imbanagara (BGI), Kajian Tentang Penerapan Unsur-unsur Pemberdayaan dan Hubungan Manusiawi Masa Pemerintahan Bupati Galuh Abad ke-19, Disertai Edisi Teks” pada Sidang Terbuka Promosi Doktor di Ruang Sidang Gedung Pascasarjana Unpad, Jln. Dipati Ukur No.35 Bandung, Kamis (2/09).</p><p>Dalam disertasinya ini, Nenny membahas naskah yang ditulis oleh Wiraadikosoema mengenai keadaan Kabupaten Galuh (sekarang Ciamis) di bawah pemerintahan Bupati Galuh pada masa itu, Raden Adipati Aria Kusumadiningrat.</p><p>Ketua Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Jawa Barat ini berharap, nilai-nilai luhur warisan masa lalu yang terkandung dalam naskah selayaknya harus tetap diberdayakan dan dihidupkan kembali di tengah-tengah masyarakat, agar nilai-nilai tersebut memberikan manfaat positif dalam mendukung pembangunan masa kini dan masa yang akan datang. Contohnya adalah nilai-nilai positif yang terkandung dalam BGI ini, dimana sosok bupati yang diceritakan dalam naskah tersebut layak untuk dijadikan panutan bagi generasi masa kini.</p><p>”Keberhasilan yang dicapai oleh Raden Adipati Aria Kusumadiningrat dulu dapat memberikan inspirasi pada bupati pada saat ini. Kiprah pembangunan dengan gagasan yang cemerlang darinya, bisa dijadikan contoh untuk bupati pada saat ini,” ungkap Nenny.</p><p>Raden Adipati Aria Kusumadiningrat merupakan sosok kepala pemerintahan, dalam hal ini tingkat kabupaten, yang dianggap telah menampakkan usaha-usaha pemberdayaan masyarakat dan hubungan manusiawi. Nenny menjelaskan bahwa ada beberapa kiprah dari Raden Adipati Aria Kusumadiningrat yang telah diwujudkan dalam program-program di beberapa bidang kehidupan bermasyarakat.</p><p>Misalnya, dalam bidang pertanian, Bupati Abad ke-19 tersebut membantu para pertani dalam pengairan sawah, dimana pada masa itu para petani Galuh sangat kesulitan dalam mengairi sawah. Kemudian dalam bidang pendidikan, ditandai dengan dibangunnya sekolah-sekolah yang tersebar di wilayah Galuh pada saat itu.</p><p>Kesuksesan dalam bidang keagamaan misalnya, Raden Adipati Aria Kusumadiningrat yang dikenal sebagai seseorang dengan pengetahuan agama cukup tinggi melakukan pembangunan masjid-masjid hingga ke desa-desa.  Dalam bidang  ekonomi, Kangjeng Prabu ini membangun pegadaian untuk membantu masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah.</p><p>”Pada masa itu, Raden Adipati Aria Kusumadiningrat melakukan pembangunan-pembangunan dengan memprioritaskan kebutuhan utama masyarakat,” jelas Nenny.</p><p>Nenny pun menjelaskan bahwa Raden Adipati Aria Kusumadiningrat bukan hanya memiliki kredibilitas di mata masyarakatnya saja, tapi ia juga dipercaya oleh pemerintahan Belanda pada masa itu. Bahkan karena kepercayaan itulah, usulan-usulan dari Raden Adipati Aria Kusumadiningrat banyak dikabulkan oleh pemerintah Belanda. Raden Adipati Aria Kusumadiningrat juga banyak mendapatkan penghargaan dari pemerintah Belanda seperti payung kebesaran, Songsong Kuning dan bintang <em>Ridder in de Orde Van den Naderlanschen Leew</em>.</p><p>Atas disertasinya ini, Nenny berhasil meraih gelar Doktor dengan predikat ”Sangat Memuaskan”. Nenny meraih gelar akademis tertingginya itu setelah menempuh perkuliahan di Pasca Sarjana Unpad Fakultas Sastra dengan Bidang Kajian Ilmu Filologi. <em>(eh)*</em></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.unpad.ac.id/archives/34675/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Sumbangan Beras dari Unpad Mulai Dibagikan</title><link>http://www.unpad.ac.id/archives/34667</link> <comments>http://www.unpad.ac.id/archives/34667#comments</comments> <pubDate>Thu, 02 Sep 2010 08:38:33 +0000</pubDate> <dc:creator>erman</dc:creator> <category><![CDATA[Berita]]></category><guid
isPermaLink="false">http://www.unpad.ac.id/?p=34667</guid> <description><![CDATA[Laporan oleh: Eka Bahtera
[Unpad.ac.id, 02/09] Sebanyak 130 warga yatim piatu dan kurang mampu di Desa Cikeruh Kecamatan Jatinangor, menerima bantuan beras dari Unpad. Beras yang berasal dari sumbangan mahasiswa baru, dosen, karyawan serta pimpinan Unpad ini dibagikan langsung oleh petugas desa kepada warga, dan setiap warga menerima 5 kg beras.
“Beras yang akan dibagikan di Desa [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Laporan oleh: Eka Bahtera</p><p>[Unpad.ac.id, 02/09] Sebanyak 130 warga yatim piatu dan kurang mampu di Desa Cikeruh Kecamatan Jatinangor, menerima bantuan beras dari Unpad. Beras yang berasal dari sumbangan mahasiswa baru, dosen, karyawan serta pimpinan Unpad ini dibagikan langsung oleh petugas desa kepada warga, dan setiap warga menerima 5 kg beras.</p><div
id="attachment_34669" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a
href="http://www.unpad.ac.id/files/data/2010/09/beras2.jpg"><img
class="size-medium wp-image-34669" title="beras2" src="http://www.unpad.ac.id/files/data/2010/09/beras2-300x225.jpg" alt="beras" width="300" height="225" /></a><p
class="wp-caption-text">Petugas Desa Cikeruh Jatinangor menyerahkan sumbangan beras dari Unpad kepada warga di Kantor Desa Cikeruh, Jatinangor, Kamis (2/09). (Foto: Eka Bahtera)</p></div><p>“Beras yang akan dibagikan di Desa Cikeruh ini ada sebanyak 650 kilogram, itu akan dibagikan kepada 130 warga, itu artinya setiap warga mendapatkan 5 kilogram beras,” tutur Koordinator Divisi Kesejahteraan Masyarakat Desa Cikeruh, Rudi Priadi.</p><p>Sebagaimana <a
href="http://www.unpad.ac.id/archives/34645" target="_blank">diberitakan sebelumnya</a>, Unpad menyerahkan 7 Ton Beras untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Pembagian beras yang dilaksanakan di Kantor Desa Cikeruh, Jln. Kol A.Syam Ciawi Cikeruh Jatinangor, Sumedang, Kamis (02/09), berlangsung lancar aman dan tertib. Setiap warga yang akan menerima sumbangan beras mengantri dan menunggu panggilan dengan tertib untuk mendapatkan beras.</p><p>“Warga di Desa Cikeruh ini berasal dari 9 Rukun Warga (RW) yang ada, data-data penerima sudah kami dapatkan dari RW setempat. Warga yang hadir kemudian kami absen dan menunggu untuk mendapatkan beras. Syukur semua lancar dana aman,” ujar Rudi.</p><p>Pembagian beras tersebut dihadiri juga oleh lima orang perwakilan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unpad dan beberapa fakultas di Unpad. Mereka hadir dalam pembagian ini sebagai saksi bahwa beras telah disumbangkan langsung, selain itu juga membantu petugas desa membagikan beras tersebut.</p><p>Pembagian beras tersebut merupakan bentuk kepedulian Unpad kepada warga yang ada di sekitar Kampus Unpad yang berada di Bandung dan Jatinangor. Pengumpulan beras sendiri dilakukan oleh panitia Bakti Sosial Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Unpad Tahun Akademik 2010-2011.</p><p>Namun walaupun semua lancar dan aman, Rudi mengatakan bahwa waktu yang diberikan untuk mengelola beras tersebut sedikit mepet. “Waktunya sempit, kami hanya punya waktu satu hari untuk membuat program dan mengumpulkan data masayarakat. Kemarin beras datang, hari ini langsung dibagikan. Untuk selanjutnya waktu yang diberikan jangan terlampau mendadak,” saran Rudi.</p><p>Beberapa warga yang menerima sumbangan beras ini mengaku senang dan mengucapakan rasa terimakasih atas kepedulian Unpad.</p><p>“<em>Hatur nuhun pisan</em> (terimakasih banyak) saya ucapkan sama Unpad. Saya senang sekali dapat beras. Mudah-mudahan dapat balasan yang setimpal dari yang Kuasa,” ungkap Engkom, warga Cikeruh.</p><p>“Berasnya <em>katampi</em> <em>pisan </em>(keterima), mudah-mudahan ikhlas yah. Mudah-mudahan dapat balasan yang setimpal, saya doakan lahir bathin,” ungkap Ida, seorang warga lainnya.  <em>(eh)*</em></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.unpad.ac.id/archives/34667/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Program Bidik Misi Merupakan Amanah Masyarakat</title><link>http://www.unpad.ac.id/archives/34659</link> <comments>http://www.unpad.ac.id/archives/34659#comments</comments> <pubDate>Thu, 02 Sep 2010 08:24:35 +0000</pubDate> <dc:creator>erman</dc:creator> <category><![CDATA[Berita]]></category><guid
isPermaLink="false">http://www.unpad.ac.id/?p=34659</guid> <description><![CDATA[Laporan oleh: Eka Bahtera
[Unpad.ac.id, 02/09] Rektor Unpad, Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, melakukan tatap muka dengan mahasiswa baru Unpad penerima Beasiswa Pendidikan Bagi Calon Mahasiswa Berprestasi dari Keluarga Kurang Mampu (Bidik Misi). Rektor Unpad mengatakan bahwa Bidik Misi merupakan amanah yang berasal dari masyarakat, oleh karena itu mahasiswa Unpad yang menerima harus memanfaatkan sebaik-baiknya [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Laporan oleh: Eka Bahtera</p><p>[Unpad.ac.id, 02/09] Rektor Unpad, Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, melakukan tatap muka dengan mahasiswa baru Unpad penerima Beasiswa Pendidikan Bagi Calon Mahasiswa Berprestasi dari Keluarga Kurang Mampu (Bidik Misi). Rektor Unpad mengatakan bahwa Bidik Misi merupakan amanah yang berasal dari masyarakat, oleh karena itu mahasiswa Unpad yang menerima harus memanfaatkan sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab.</p><div
id="attachment_34661" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a
href="http://www.unpad.ac.id/files/data/2010/09/bidikmisi.jpg"><img
class="size-medium wp-image-34661" title="bidikmisi" src="http://www.unpad.ac.id/files/data/2010/09/bidikmisi-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p
class="wp-caption-text">Rektor Unpad berbincang dengan salah satu mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi di Kampus Unpad, Jatinangor, Kamis (2/09). (Foto: Eka Bahtera)</p></div><p>“Belajarlah dengan baik, kalian mendapatkan beasiswa ini selama delapan semester. Kalian orang-orang trepilih, maka manfaatkanlah dan buktikan dengan prestasi yang baik,” ujar Rektor saat memberikan arahan, di Gedung Pusat Pelatihan <em>Basic Science (PPBS) </em>Unpad Lt. 2, Jln. Raya bandung-Sumedang KM 21, Kamis (02/09).</p><p>“Kalian adalah orang-orang yang mempunyai potensi, itu harus kalian buktikan dengan prestasi di kuliah. Kalian bukan hanya bertanggungjawab pada diri sendiri tapi juga mempunyai tanggungjawab kepada negara,” jelas Rektor.</p><p>Acara tersebut dihadiri juga oleh Pembantu Rektor Bagian Kemahasiswaan (PR III) Unpad, Trias Nugrahadi, dr., Sp.KN., Koordinator Bidik Misi di Unpad, Drs. Slamet Usman Ismanto, M.S., Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan Unpad, Herdis Chandra Poernama, SE., MM., serta para Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan (PD III).</p><p>Rektor menjelaskan bahwa Unpad akan terus memantau prestasi dari mahasiswa penerima Bidik Misi ini. “Kemajuan studi kalian akan terus dipantau, oleh karena itu kami akan titipkan kepada para Pembantu Dekan III dari masing-masing fakultas untuk terus memantau prestasi mereka,” jelas Prof. Ganjar.</p><p>“Ini merupakan upaya Unpad dan kepedulian terhadap pemerataan pendidikan. Tahun 1957 Unpad didirikan, tujuan awalnya adalah untuk memberikan pendidikan bagi warga daerah Jawa Barat. Dengan adanya mahasiswa Bidik Misi yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat, maka mudah-mudahan akan tercapai cita-cita pertama Unpad itu,” ungkap Rektor.</p><p>Dalam acara tersebut, mahasiswa baru Unpad penerima Bidik Misi melakukan pengisian formulir untuk permohonan pembukaan rekening baru di Bank Rakyat Indonesia (BRI).</p><p>“Kalian mempunyai hak dari Bidik Misi ini sebesar 3 juta per semester. Itu berarti setiap bulan akan menerima 500 ribu, manfaatkanlah dengan bijak. Hak kalian itu akan disalurkan melalui BRI, karena BRI jaringannya bisa sampai ke daerah pelosok,” ungkap Rektor.</p><p>Beasiswa Bidik Misi ini merupakan tahun pertama dilakukan, pemerintah memberikan dana untuk 20.000 penerima Bidik Misi, dan Unpad memperoleh kuota sebanyak 500 mahasiswa untuk menerima beasiswa Bidik Misi.</p><p>“Kuota Unpad 500 orang untuk Bidik Misi, kepada kalian yang mendapatkan atas nama Unpad saya ucapkan selamat dan rasa bangga bisa bergabung. Harapan saya bisa dimanfaatkan dengan baik,” harap Rektor. <em>(eh)*</em></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.unpad.ac.id/archives/34659/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Unpad Serahkan 7 Ton Beras ke BAZIS Jatinangor</title><link>http://www.unpad.ac.id/archives/34645</link> <comments>http://www.unpad.ac.id/archives/34645#comments</comments> <pubDate>Tue, 31 Aug 2010 06:57:49 +0000</pubDate> <dc:creator>erman</dc:creator> <category><![CDATA[Berita]]></category><guid
isPermaLink="false">http://www.unpad.ac.id/?p=34645</guid> <description><![CDATA[Laporan oleh: Malikkul Shaleh
[Unpad.ac.id, 31/08] Panitia Bakti Sosial Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Unpad 2010-2011 hari ini, Selasa (31/08), menyerahkan sumbangan beras sebanyak 7 ton dari mahasiswa baru kepada masyarakat kurang mampu di sekitar kampus Unpad Jatinangor. Penyerahan diberikan melalui Badan Amal Zakat Infaq Sedekah (BAZIS) di Desa Sayang, Jatinangor sebelum akhirnya didistribusikan kepada masyarakat.
“Melalui Bazis [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Laporan oleh: Malikkul Shaleh</p><p>[Unpad.ac.id, 31/08] Panitia Bakti Sosial Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Unpad 2010-2011 hari ini, Selasa (31/08), menyerahkan sumbangan beras sebanyak 7 ton dari mahasiswa baru kepada masyarakat kurang mampu di sekitar kampus Unpad Jatinangor. Penyerahan diberikan melalui <em>Badan Amal Zakat</em> Infaq Sedekah (BAZIS) di Desa Sayang, Jatinangor sebelum akhirnya didistribusikan kepada masyarakat.</p><div
id="attachment_34647" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a
href="http://www.unpad.ac.id/files/data/2010/08/beras.jpg"><img
class="size-medium wp-image-34647" title="beras" src="http://www.unpad.ac.id/files/data/2010/08/beras-300x200.jpg" alt="beras" width="300" height="200" /></a><p
class="wp-caption-text">Beras yang akan diserahkan ke BAZIS Jatinangor diangkut dengan truk dari Kampus Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Selasa (31/08). (Foto: Dadan T.)</p></div><p>“Melalui Bazis agar tepat sasaran dan langsung dari pintu ke pintu. Prioritas pendistribusian beras ditujukan untuk penduduk sekitar jatinangor. Untuk wilayah Bandung, akan disebarkan di sekitar Dipati Ukur melalui DKM dan yayasan yang nanti kita diundang atau kita langsung antarkan,” ujar Ketua Koordinator Bakti Sosial PMB Unpad 2010-2011, Ir. Yadi Supriadi yang ditemui di gudang penyimpanan beras Kampus Unpad, Jln. Dipatiukur no. 35, Bandung, Selasa (31/08).</p><p>Menurut Yadi, beras yang berhasil terkumpulkan sejauh ini ada sekira 20 ton, dan masih mungkin ada penambahan lagi. Selain dari mahasiswa, beras ini juga berasal dari dosen, karyawan dan pimpinan fakultas dan universitas Unpad. “Partisipasi ini datang dari semua elemen di Unpad. Dari Unpad untuk masyarakat, itu esensinya,” jelasnya.</p><p>Mengingat semua itu adalah amanah dari penyumbang, apalagi jumlahnya tidak sedikit, Unpad harus mengawal proses ini. “Kami dalam hal ini mencoba belajar mengawal amanah. Unpad punya kekuatan yang besar, dampaknya memang tidak akan dirasakan sekarang, tapi ini berpengaruh bagi warga di daerah pedesaan,” tambahnya.</p><p>Selain beras, Unpad juga akan membagikan buku dari mahasiswa baru. Jumlah buku yang mencapai 20.500 eksemplar tersebut rencananya akan didistribusikan kepada masyarakat desa setelah Idul Fitri nanti. Buku akan diorientasikan kepada desa yang akses bukunya sulit, terutama yang letaknya di daerah pinggiran,</p><p>“Sekarang buku-bukunya telah di<em>packing, </em>didata oleh LPM Unpad dan siap didistribusikan. Setiap desa akan dibagikan masing-masing sebanyak 200 buku,” ujar Yadi.</p><p>Berbeda dari konsep awal yang akan disalurkan ke daerah-daerah yang mempunyai perpustakaan di seluruh Jawa Barat, Yadi mengatakan bahwa konsepnya akan dibalik, yaitu akan diberikan kepada masyarakat desa yang belum memiliki perpustakaan sehingga mereka termotivasi untuk membuat perpustakaan. Apalagi dalam pelaksanaannya nanti akan melibatkan mahasiswa secara langsung.</p><p>“Ini juga tantangan bagi Unpad untuk menindaklanjuti masalah ini, sebab hanya memberikan buku saja semua orang bisa, tapi bagaimana menumbuhkan minat baca ini yang tidak mudah,” tutur pria yang pernah menjadi bagian dari tim pengembangan dan perencanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unpad ini.</p><p>Sebagai <em>follow up</em> dari kegiatan ini, Yadi bersama timnya akan membuat <em>website</em> khusus, sehingga pembagian buku dapat terpantau oleh semua pihak. Ini dilakukan sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban bahwa pemberian dari mahasiswa baru benar-benar tersalurkan. Lebih jauh, Yadi mengatakan akan menyurati Bupati di daerah yang menjadi tempat penyaluran buku-buku ini, tetang hasil kegiatan yang telah 3 tahun ini Unpad lakukan.</p><p>“Membagi buku berbagi ilmu, itu temanya tahun ini. Unpad berusaha memposisikan orang yang memberi sebagai pihak yang membagikan ilmu, bukan membantu. Mereka kita anggap sebagai mitra. Dan pemerintah daerah akan sangat membantu bila mau ikut ambil bagian,” ucapnya. <em>(eh)*</em></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.unpad.ac.id/archives/34645/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Rektor Unpad Lantik Tiga Guru Besar Baru</title><link>http://www.unpad.ac.id/archives/34637</link> <comments>http://www.unpad.ac.id/archives/34637#comments</comments> <pubDate>Tue, 31 Aug 2010 05:44:18 +0000</pubDate> <dc:creator>erman</dc:creator> <category><![CDATA[Berita]]></category><guid
isPermaLink="false">http://www.unpad.ac.id/?p=34637</guid> <description><![CDATA[Laporan oleh: Artanti Hendriyana
[Unpad.ac.id, 31/08] Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia melantik tiga Guru Besar baru di lingkungan Universitas Padjadjaran. Mereka sekaligus  diangkat  sebagai anggota Senat Universitas Padjadjaran . Pelantikan ini dilakukan dalam Sidang Senat Unpad di Ruang Serba Guna Gedung 2, Kampus Unpad, Jl. Dipati Ukur No.35 Bandung, Selasa (31/08).
Ketiga guru besar itu yaitu Prof. [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Laporan oleh: Artanti Hendriyana</p><p>[Unpad.ac.id, 31/08] Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia melantik tiga Guru Besar baru di lingkungan Universitas Padjadjaran. Mereka sekaligus  diangkat  sebagai anggota Senat Universitas Padjadjaran . Pelantikan ini dilakukan dalam Sidang Senat Unpad di Ruang Serba Guna Gedung 2, Kampus Unpad, Jl. Dipati Ukur No.35 Bandung, Selasa (31/08).</p><div
id="attachment_34639" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a
href="http://www.unpad.ac.id/files/data/2010/08/gubes.jpg"><img
class="size-medium wp-image-34639" title="gubes" src="http://www.unpad.ac.id/files/data/2010/08/gubes-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p
class="wp-caption-text">Rektor Unpad saat melantik tiga guru besar baru di Ruang Serba Guna Gedung 2 Kampus Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Selasa (31/08). (Foto: Tedi Yusup)</p></div><p>Ketiga guru besar itu yaitu Prof. Dr. Ir. Tino Mutiawarti (Fakultas Pertanian/ Faperta), Prof. Dr. Ir. Jajang Sauman Hamdani, MS (Fakultas Pertanian), dan Prof. Dr. dr. Jusuf Sulaeman Effendi, SpoG-K (Fakultas Kedokteran/FK) yang dilantik sebagai anggota Komisi I dan Komisi IV Senat Universitas Padjadjaran,.</p><p>Prof. Dr. Ir. Tino Mutiawarti  dan Prof. Dr. Ir. Jajang Sauman Hamdani, MS adalah dosen jurusan Budidaya Pertanian pada Faperta Unpad dan merupakan guru besar Unpad pada bidang Ilmu Holtikultura. Sementara Prof. Dr. dr. Jusuf Sulaeman Effendi, SpOG-K  adalah guru besar Unpad pada bidang Ilmu Kebidanan dan Ilmu Penyakit Kandungan. Selain aktif sebagai staf pengajar di FK Unpad, Dr. Sulaeman Effendi juga menjabat sebagai <em>Sekretaris bagian Obstetri dan Ginekologi</em><em> (</em><em>OBGIN</em><em>) </em><em>FK Unpad di Rumah Sakit Hasan Sadikin</em><em> (</em><em>RSHS</em><em>) </em>Bandung sejak tahun 2005.</p><p>Selain itu, Rektor juga melantik tiga Anggota Senat Universitas Padjadjaran perwakilan fakultas non Guru Besar. Mereka adalah Dr. Hj. Lastuti Abubakar, S.H.,M.H. sebagai anggota komisi UU Senat Universitas Padjadjaran (perwakilan Fakultas Hukum), Dr. med Setiawan, dr sebagai anggota komisi V Senat Universitas Padjadjaran (perwakilan Fakultas Kedokteran), dan Dr. Dra. Hj. R. Ira Irawati, M.S.i sebagai anggota komisi V Senat Universitas Padjadjaran (perwakilan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik). <em>(eh)*</em></p><p><em> </em></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.unpad.ac.id/archives/34637/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Agar Tidak Kalah Bersaing, Perusahaan Pelayaran Harus Tawarkan Nilai Lebih</title><link>http://www.unpad.ac.id/archives/34629</link> <comments>http://www.unpad.ac.id/archives/34629#comments</comments> <pubDate>Tue, 31 Aug 2010 02:15:22 +0000</pubDate> <dc:creator>erman</dc:creator> <category><![CDATA[Berita]]></category><guid
isPermaLink="false">http://www.unpad.ac.id/?p=34629</guid> <description><![CDATA[Laporan oleh: Malikkul Shaleh
[Unpad.ac.id, 31/08] Bauran pemasaran jasa dan kualitas pelayanan memiliki pengaruh terhadap nilai yang dirasakan, serta bersama-sama dapat meningkatkan kepuasan penumpang. Keduanya memiliki keterkaitan yang linier, dimana tingginya nilai yang dirasakan bisa meningkatkan kepuasan penumpang. Hal tersebut  yang perlu dilakukan oleh pelaku industri transportasi laut untuk bisa terus memberi jaminan pelayanan terbaik terhadap [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Laporan oleh: Malikkul Shaleh</p><p>[Unpad.ac.id, 31/08] Bauran pemasaran jasa dan kualitas pelayanan memiliki pengaruh terhadap nilai yang dirasakan, serta bersama-sama dapat meningkatkan kepuasan penumpang. Keduanya memiliki keterkaitan yang linier, dimana tingginya nilai yang dirasakan bisa meningkatkan kepuasan penumpang. Hal tersebut  yang perlu dilakukan oleh pelaku industri transportasi laut untuk bisa terus memberi jaminan pelayanan terbaik terhadap penumpang kapal.</p><div
id="attachment_34631" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a
href="http://www.unpad.ac.id/files/data/2010/08/mhthamrin.jpg"><img
class="size-medium wp-image-34631" title="HM. Thamrin AR" src="http://www.unpad.ac.id/files/data/2010/08/mhthamrin-225x300.jpg" alt="HM. Thamrin AR" width="225" height="300" /></a><p
class="wp-caption-text">HM. Thamrin AR (Foto: Malikkul Shaleh)</p></div><p>“Merancang bauran pemasaran yang baik dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan harus dilakukan sebagai bagian dari strategi untuk menghadapi permasalahan semakin menurunnya jumlah penumpang pada kapal laut dibandingkan dengan alat transportasi lain,” ujar HM. Thamrin AR saat mempertahankan disertasinya yang berjudul “Pengaruh Bauran Pemasaran Jasa dan Kualitas Pelayanan Terhadap Nilai yang Dirasakan serta Dampaknya pada Kepuasan Penumpang Kapal” pada Sidang Terbuka Promosi Doktor di Ruang Sidang Gedung Pascasarjana Unpad, Jln. Dipati Ukur No.35 Bandung, Senin (30/08).</p><p>HM. Thamrin menjelaskan bahwa penurunan tersebut disebabkan adanya perilaku pindah penumpang, dimana moda transportasi pesawat telah memberikan harga yang murah, dengan waktu tempuh yang sangat cepat, dibandingkan dengan naik kapal laut yang harganya sama dengan waktu tempuh lebih lama. “ Kebijakan pemerintah yang menerapkan tarif batas atas antar moda penerbangan juga memiliki dampak menurunnya jumlah penumpang pada transportasi laut terutama perusahaan pelayaran,” tambahnya.</p><p>Kepuasan penumpang merupakan tanggapan emosional pada evaluasi terhadap pengalaman konsumsi suatu produk atau jasa. Kepuasan konsumen dirumuskan sebagai sikap keseluruhan terhadap suatu barang atau jasa setelah perolehan dari pemakaiannya. “Tindakannya adalah apabila keseimbangan tidak tercapai, maka akan terjadi disonansi atau rasa tidak senang,” jelas pria yang sekarang menjabat sebagai Kepala Bagian Tata Usaha Administrator Pelabuhan Utama Tanjung Priok.</p><p>Mengenai kemungkinan diterapkan strategi ini, HM. Thamrin mengatakan bahwa pentingnya memahami kepuasan penumpang dalam hal menyampikan jasa pelayanan kepada pelanggan dihadapkan pada kemungkinan terjadinya kegagalan. Kegagalan antara lain diindikasikan oleh berbagai bentuk ekspresi ketidakpuasan dari pelanggan terhadap pelayanan yang dirasakan. “Untuk itu perusahaan harus memberikan solusi dengan merespon komplain dari setiap penumpang yang mengadu tentang jasa pelayanan,” tambahnya.</p><p>Kemudian dipaparkan juga bahwa salah satu yang dapat mempengaruhi kepuasan adalah nilai yang dirasakan. Nilai yang dirasakan merupakan nilai dasar yang dapat berpengaruh pada kepuasan penumpang. Penumpang akan membuat pilihan pembelian berdasarkan persepsi mereka terhadap nilai yang melekat pada jasa karena penumpanglah yang menilai secara menyeluruh pada suatu kualitas layanan.</p><p>“Nilai yang dirasakan penumpang memiliki manfaat dalam bentuk nilai produk yang berkualitas dengan yang diharapkan seperti nilai jasa, nilai personal, dan nilai <em>image </em>yang  menjadi bahan pertimbangan penumpang dalam menilai kualitas pelayanan,” ujar HM. Thamrin.</p><p>Diakhir pemaparannya, HM. Thamrin menyarankan agar perusahaan memperbaiki dan meningkatkan serta memenuhi alat-alat perlengkapan dan fasilitas kapal yang diisyaratkan oleh regulasi sehingga bisa mengurangi kemungkinan kecelakaan yang sering menelan korban jiwa. “Namun faktor sumber daya manusia juga memiliki pengaruh besar terhadap terjadinya kecelakaan di laut. Ini juga perlu diperbaiki,” katanya mengakhiri. <em>(eh)*</em></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.unpad.ac.id/archives/34629/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Ujian Seleksi Bukan Sekadar Kumpulan Soal</title><link>http://www.unpad.ac.id/archives/34615</link> <comments>http://www.unpad.ac.id/archives/34615#comments</comments> <pubDate>Mon, 30 Aug 2010 08:24:47 +0000</pubDate> <dc:creator>erman</dc:creator> <category><![CDATA[Berita]]></category><guid
isPermaLink="false">http://www.unpad.ac.id/?p=34615</guid> <description><![CDATA[Laporan oleh: Artanti Hendriyana
[Unpad.ac.id, 30/08] Kualitas output yang baik dapat diawali dengan kualitas input yang baik pula.  Untuk mendapatkan mahasiswa dengan kualitas terbaik, maka perlu diperhatikan sejak pelaksanaan seleksi penerimaan mahasiswa baru. Dalam materi tes misalnya, perlu diketahui materi soal seperti bagaimana agar bisa menjaring mahasiswa baru dengan kualitas yang diharapkan.
“Ada beberapa hal penting [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Laporan oleh: Artanti Hendriyana</p><p>[Unpad.ac.id, 30/08] Kualitas <em>output </em>yang baik dapat diawali dengan kualitas <em>input </em>yang baik pula.<span
style="text-decoration: underline;"> </span> Untuk mendapatkan mahasiswa dengan kualitas terbaik, maka perlu diperhatikan sejak pelaksanaan seleksi penerimaan mahasiswa baru. Dalam materi tes misalnya, perlu diketahui materi soal seperti bagaimana agar bisa menjaring mahasiswa baru dengan kualitas yang diharapkan.</p><div
id="attachment_34623" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a
href="http://www.unpad.ac.id/files/data/2010/08/humas-unpad_2010_08_30_054384.jpg"><img
class="size-medium wp-image-34623" title="penyusunan soal" src="http://www.unpad.ac.id/files/data/2010/08/humas-unpad_2010_08_30_054384-300x200.jpg" alt="penyusunan soal" width="300" height="200" /></a><p
class="wp-caption-text">Waras Kamdi (kiri) dan Slamet Usman dari Unpad (Foto: Tedi Yusup)</p></div><p>“Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam mengembangkan materi tes, yaitu jenis tes, taksonomi kognitif, pengembangan kisi atau indikator, penulisan soal, dan konstruksi tes,” jelas ketua Lembaga Pengembangan Pendidikan dan pembelajaran (LP3) Universitas Negeri Malang, Waras Kamdi saat menjadi pembicara pada “Lokakarya Strategi Pembuatan dan Pengukuran Soal Ujian SMUP” yang di selenggarakan di Bale Rumawat Padjadjaran, kampus Unpad, Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Senin (30/08).</p><p>Waras menjelaskan bahwa sebelum membuat soal, perlu ditentukan terlebih dahulu untuk keperluan apa tes itu dikembangkan. Apabila bertujuan untuk untuk mengukur hasil belajar seseorang , maka titik pijaknya adalah tujuan pembelajaran yang sebelumnya telah ditetapkan, apakah siswa sudah mencapai tujuan belajar tersebut  atau belum. Kemudian, apabila tes dilakukan untuk keperluan seleksi, acuan yang digunakan bisa standar, bisa juga tidak.</p><p>“Tes ini bisa lepas dari standar kompetensi tujuan pembelajaran. Tes ini dilakukan untuk mengukur derajat kemampuan orang, dari yang paling rendah hingga paling tinggi,” jelas Waras.</p><p>Seringkali, persoalan utama yang ditemui ketika membuat materi soal adalah mengenai akurasi. Memang sangat sulit untuk mencapai keakurasian yang sempurna. Namun, perlu diperhatikan bagaimana cara membuat soal dengan derajat akurasi yang setinggi mungkin. Caranya adalah dengan memperhatikan pada tingkat kesulitan soal. Tes yang baik adalah tes yang tingkat kesulitan soalnya sesuai dengan prediksi tingkat kemampuan subjek.</p><p>“Tes yang sulit dan ditujukan kepada sekelompok subjek yang kemampuannya rendah, tidak akan menghasilkan akurasi. Begitu juga sebaliknya, tes yang mudah tidak akan cocok untuk sekelompok subjek yang kemampuannya tinggi karena tidak sesuai dengan levelnya. Jadi, tes yang baik adalah tes yang mampu mengukur semua tingkat kemampuan subjek sasaran,” jelas Waras.</p><p>Oleh karena itulah perlu dibuat prediksi soal yang tepat untuk ditujukan kepada subjek sasaran. Waras pun menyampaikan jalan keluar terbaiknya, yaitu tes harus terdiri atas soal-soal dari yang paling mudah hingga yang paling sulit. “Topik soalnya dapat sama, tapi derajat kesulitannya yang diubah, sehingga kita bisa mengukur dari variasi subjek yang kita prediksi, kira-kira sesuai dengan kemampuan atau tidak dengan tes ini,” jelas Waras.</p><p>Ketika membuat soal, perlu juga ditentukan acuan atau taksonomi kognitif mana yang akan digunakan dalam penentuan jenjang berpikir dalam pengembangan tes. Taksonomi Bloom adalah salah satu jenis taksonomi kognitif yang dapat digunakan dan merupakan taksonomi kognitif yang paling banyak digunakan oleh para tenaga pendidik dewasa ini.</p><p>Taksonomi Bloom ini terdiri dari mengingat (C1), memahami (C2), menerapkan (C3), menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan menciptakan (C6). Waras pun memberi contoh soal yang baik dan yang buruk berdasarkan Taksonomi Bloom ini. Untuk C1 dan C2 misalnya, soal yang diberikan adalah mengenai konsep dasar yang menjadi kunci pada suatu bidang. Waras menyarankan agar tipe soal ini tidak terlalu banyak diberikan, melainkan hanya satu atau dua soal saja pada setiap tesnya.</p><p>“Dengan tipe soal seperti ini, akan menjadi sangat sulit bagi siswa yang tidak pernah tahu sama sekali. Tapi bagi siswa yang tahu, tentu menjawab soal ini akan sangat mudah,” ujar Waras.</p><p>Waras pun menjelaskan mengenai prinsip-prinsip substansial ketika membuat soal. Yaitu, soal hendaknya tidak menyangkut SARA, tidak mengungkap hal-hal yang tidak mendidik, hal yang ditanyakan dalam soal harus mengenai bidang yang diujikan, dan permasalahan (apa yang ditanyakan) harus ditempatkan pada pokok soal.</p><p>Pembicara lain, Urip Purwano mengungkapkan bahwa dalam membuat suatu tes itu bukan hanya sekedar mengumpulkan soal belaka, melainkan ada suatu desain di belakangnya atau urutan berpikir yang menjadikan tes akan lebih bermakna. Selain itu, pembuat soal janganlah orang yang sembarangan, melainkan seseorang yang ahli di bidangnya,</p><p>Di akhir acara, kedua pembicara sepakat bahwa perlu dilakukan evaluasi terhadap setiap strategi yang dilakukan, dalam hal ini tes masuk mahasiswa baru. “Seharusnya kita dapat menilai apakah efektif atau tidak strategi yang kita lakukan, dan itu dapat dilakukan melalui evaluasi. Jika tidak ada evaluasi, kita tidak akan pernah tahu apa yang harus kita perbaiki. Evaluasi perlu dilakukan pada setiap bagian dari proses selesi,” jelas Urip. <em>(eh)*</em></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.unpad.ac.id/archives/34615/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Upaya Kurangi Stigma Jahat pada Warga Binaan Lapas Belum Berdampak Signifikan</title><link>http://www.unpad.ac.id/archives/34597</link> <comments>http://www.unpad.ac.id/archives/34597#comments</comments> <pubDate>Mon, 30 Aug 2010 07:31:23 +0000</pubDate> <dc:creator>erman</dc:creator> <category><![CDATA[Berita]]></category><guid
isPermaLink="false">http://www.unpad.ac.id/?p=34597</guid> <description><![CDATA[Laporan oleh: Eka Bahtera
[Unpad.ac.id, 30/08] Terdapat berbagai sisi lain serta fenomena kehidupan seorang narapidana (napi) di dalam penjara sebagai individu, serta di luar penjara sebagai sebuah keluarga. Selain melekatnya sebuah stigma pada seorang napi yang dianggap sebagai sesuatu yang lekat dengan kejahatan dan kekerasan, persoalan juga muncul di luar penjara seperti di dalam kehidupan keluarga.
“Identitas [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Laporan oleh: Eka Bahtera<br
/> [Unpad.ac.id, 30/08] Terdapat berbagai sisi lain serta fenomena kehidupan seorang narapidana (napi) di dalam penjara sebagai individu, serta di luar penjara sebagai sebuah keluarga. Selain melekatnya sebuah stigma pada seorang napi yang dianggap sebagai sesuatu yang lekat dengan kejahatan dan kekerasan, persoalan juga muncul di luar penjara seperti di dalam kehidupan keluarga.</p><div
id="attachment_34599" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a
href="http://www.unpad.ac.id/files/data/2010/08/Satriawan.jpg"><img
class="size-medium wp-image-34599" title="Satriawan" src="http://www.unpad.ac.id/files/data/2010/08/Satriawan-200x300.jpg" alt="Satriawan" width="200" height="300" /></a><p
class="wp-caption-text">Satriawan (Foto: Eka Bahtera)</p></div><p>“Identitas diri sebagai narapidana menjadi bagian tak terpisahkan dengan julukan  yang melekat sebagai “penjahat” sebagai konsekuensi logis dari tindak pidana yang telah dilakukan,” ujar Satriawan saat mempertahankan disertasinya yang berjudul “Komunikasi Narapidana Pada Subkultur Penjara” pada Sidang Terbuka Promosi Doktor di Ruang Sidang Gedung Pascasarjana Unpad, Jln. Dipati Ukur No.35 Bandung, Senin (30/08).</p><p>Satriawan mengatakan bahwa saat ini berbagai cara telah dikembangkan pemerintah untuk membantu mengurangi makna pada diri seorang narapidana, termasuk melakukan pergantian nama, namun tetap dianggap tidak efektif. “Bagi sebagian narapidana, perubahan nama penjara menjadi lembaga permasyarakatan tidak berdampak signifikan terhadap perubahan persepsi sebagai penjahat,” ungkapnya.</p><p>Satriawan juga menjelaskan bahwa dalam sebuah Lembaga Permasyarakatan (Lapas), selain melekatnya makna sebagai “penjahat”, seorang narapidana juga mengalami sebuah situasi yang akan berujung pada dua pilihan, yaitu menjadi bertobat dan berkarya atau menjadi lebih jahat dan mengulangi kejahatannya.<br
/> “Tidak sedikit orang yang mampu merenovasi identitasnya seperti Anton Medan dan Johny Indo. Namun ada juga seorang narapidana yang justru “menambah” ilmu mencuri motor serta mencuri handphone karena berada dalam satu sel dengan narapidana pencuri motor dan handphone,” jelas Satriawan yang sehari-hari merupakan pegawai Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Bandung.</p><p>Di luar penjara, Satriawan menuturkan bahwa persoalan pemenjaraan dan persoalan kehidupan keluarga memiliki korelasi erat dalam konteks realitas sosial. Menurutnya, seorang anak, istri, dan keluarga akan menghadapi kemungkinan diskriminasi, stigmatisasi oleh masyarakat terhadap label narapidana pada anggota keluarganya.</p><p>“Persoalan pemenjaraan tidak hanya persoalan individu terpidana semata, tetapi juga menyangkut persoalan krusial pihak keluarga dan masyarakat dalam mengadapi implikasi dalam kehidupan nyata,” tutur Satriawan.</p><p>Berbagai macam sisi lain serta fenomena yang dialami seorang narapidana, baik di dalam maupaun di luar penjara. Oleh karena itu Satriawan menghimbau bahwa proses komunikasi serta keterlibatan tim ahli untuk pembelajaran diri terhadap napi akan berperan sangat penting.</p><p>“Proses komunikasi yang dilakukan narapidana pada dasarnya merupakan upaya mempertahankan dan menyelamatkan diri selama pemenjaraan dengan merekontruksi realitas penjara menurut pemaknaan kejadian yang dialami sebagai proses pembelajaran diri dalam mengkontruksi realitas penjara secara realistik,” pungkas Satriawan.</p><p>“Saya menyarankan juga untuk mengoptimalkan pelibatan tim ahli psikologi, psikiater, pekerja sosial koreksional, dokter, dan therapist untuk menangani narapidana yang menagalami permasalahan dalam sel maupun pasca bebas sebagai mantan napi,” tambah Satriawan, yang akhirnya dinyatakan lulus dengan yudisium “Sangat Memuaskan”. <em>(eh)*</em></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.unpad.ac.id/archives/34597/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Dua Mahasiswa Keperawatan Unpad Berangkat ke Gunma University Jepang</title><link>http://www.unpad.ac.id/archives/34567</link> <comments>http://www.unpad.ac.id/archives/34567#comments</comments> <pubDate>Mon, 30 Aug 2010 01:16:00 +0000</pubDate> <dc:creator>erman</dc:creator> <category><![CDATA[Berita]]></category><guid
isPermaLink="false">http://www.unpad.ac.id/?p=34567</guid> <description><![CDATA[Laporan oleh: Lydia Okva Anjelia
[Unpad.ac.id, 28/08] Putra-putri terbaik Universitas Padjadjaran semakin melebarkan sayapnya di kancah internasional. Kali ini dua mahasiswa Fakultas Keperawatan (Fkep) Unpad, Selasa (31/08) besok akan berangkat ke Gunma University, Maebashi, Jepang untuk mengikuti program Student Career Development. Mereka adalah Yusshy Kurnia Heliani dan An Nisa Rushtika Kersana.
“Kami akan berada di Gunma University [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Laporan oleh: Lydia Okva Anjelia</p><p>[Unpad.ac.id, 28/08] Putra-putri terbaik Universitas Padjadjaran semakin melebarkan sayapnya di kancah internasional. Kali ini dua mahasiswa Fakultas Keperawatan (Fkep) Unpad, Selasa (31/08) besok akan berangkat ke Gunma University, Maebashi, Jepang untuk mengikuti program <em>Student Career Development</em>. Mereka adalah Yusshy Kurnia Heliani dan An Nisa Rushtika Kersana.</p><div
id="attachment_34565" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a
href="http://www.unpad.ac.id/files/data/2010/08/keperawatan.jpg"><img
class="size-medium wp-image-34565 " title="keperawatan" src="http://www.unpad.ac.id/files/data/2010/08/keperawatan-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a><p
class="wp-caption-text">Yusshy Kurnia Heliani (kanan) dan An Nisa Rushtika Kersana (Foto: Dadan T.)</p></div><p>“Kami akan berada di Gunma University selama 11 bulan. Program <em>Student Career Development</em> ini merupakan program pertukaran mahasiswa khusus untuk <em>nursing student</em> yang diadakan Gunma University,” tutur Yusshy, mahasiswa Fkep angkatan 2006 saat ditemui di Ruang UPT. Humas Unpad, Jln. Dipatiukur No.35 Bandung, Jumat (27/08).</p><p>Program yang akan diikuti Yusshy dan An Nisa di Gunma University ini merupakan program yang berbasiskan riset. Maka sebelumnya mereka telah mempersiapkan <em>research plan</em> yang nantinya akan dilakukan di negeri sakura tersebut. Yusshy mengatakan tertarik untuk meneliti kualitas hidup para lansia di Jepang, sementara An Nisa sangat tertarik untuk meneliti fenomena menyusui para Ibu dalam pemberian Air Susu Ibu (ASI) atau <em>Breast feeding</em> kepada bayinya.</p><p>“Kondisi yang melatarbelakangi saya untuk meneliti <em>breast feeding</em> ini adalah melihat kondisi di Indonesia, dimana masih ada yang belum memberikan ASI ekslusif pada bayinya. Ini sangat memperihatinkan. Padahal ASI ekslusif sangat mendukung tumbuh kembang bayi agar lebih optimal,” jelas An Nisa, mahasiswi angkatan 2009 yang saat ini masih duduk di semester III.</p><p>Sementara Yusshy menambahkan, terkait riset yang akan dilakukannya merupakan lanjutan dari skripsi yang sebelumnya telah ia selesaikan mengenai insomnia. Insomnia menurutnya akan sangat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Maka ia ingin mengetahui bagaimana seorang lansia yang memiliki dan atau tidak memiliki insomnia ini dalam memiliki kualitas hidup yang baik.</p><p>“Setelah keseluruhan diketahui dan teridentifikasi maka selanjutnya adalah membuat dan memberikan terapi yang tepat,” tambah mahasiswi kelahiran 14 Juli 1988 ini. Tak hanya <em>program research</em>, nantinya mereka juga akan mempelajari bahasa setempat, bahkan terjun langsung ke lahan praktek,</p><p>Pada kesempatan yang sama, Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan (PD III) Fkep Unpad, Hana Rizmadewi Agustina, S.Kp, MN., mengatakan bahwa ini adalah kali pertamanya Fakultas Keperawatan Unpad mengirimkan mahasiswanya untuk mengikuti <em>student exchange</em> ke universitas di luar negeri. Menurutnya, kesuksesan mereka diharapkan dapat membawa nama baik almamater dan dapat memotivasi rekan-rekan lainnya.</p><p>“Apalagi mereka menjadi satu-satunya perwakilan dari universitas di seluruh Indonesia, bersama 10 Universitas di negara Asia lainnya seperti Myanmar, Vietnam, dan Philiphina,” tutur Hana.</p><p>Bekal lainnya yang telah dipersiapkan Yusshy dan An Nisa, menurut Hana adalah pemahaman mereka akan negara yang dikenal memiliki disiplin waktu yang tinggi. Kejutan budaya menurutnya bisa saja terjadi ketika mereka sebelumnya tidak mencari tahu tentang budaya setempat.</p><p>“Saya meminta mereka untuk mencari tahu. Setelah ada sesuatu yang tidak mereka pahami, kemudian kami melakukan diskusi ringan mengenai kondisi disana. Setidaknya kecemasan mereka dapat berkurang,” tambah Hana yang juga mengatakan bahwa dua mahasiswinya akan dibimbing oleh Prof. Yoshie Mori, PhD, RN, <em>Dean of School of Nursing</em>, Gunma University.</p><p>Hana menambahkan, Gunma University memiliki kekuatan dalam <em>community health nursing</em>. Kekuatan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dimana pelayanan kesehatan komunitas dapat menyelesaikan masalah kesehatan.</p><p>“Saya yakin mereka dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Prof. Yoshie Morie menginginkan para <em>excellent student</em>, dan mereka adalah mahasiswa terbaik Fakultas Keperawatan Unpad,” lengkap Hana yang juga berharap sekembalinya ke Indonesia, Yusshy dan An Nisa membawa hasil yang terbaik bagi diri sendiri, maupun almamater. <em>(eh)*</em></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.unpad.ac.id/archives/34567/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Prof. Oekan S. Abdoellah Meneliti “Ilmu Kampung”</title><link>http://www.unpad.ac.id/archives/34569</link> <comments>http://www.unpad.ac.id/archives/34569#comments</comments> <pubDate>Sun, 29 Aug 2010 00:30:22 +0000</pubDate> <dc:creator>erman</dc:creator> <category><![CDATA[Berita]]></category><guid
isPermaLink="false">http://www.unpad.ac.id/?p=34569</guid> <description><![CDATA[Pengantar redaksi:
Bila anda hendak merekomendasikan dosen Unpad untuk ditampilkan dalam rubrik ini, kami tunggu rekomendasinya beserta sekilas informasi tentang sisi menarik dari sang dosen tersebut ke email info@unpad.ac.id dan cc ke webunpad@yahoo.com.
Laporan oleh: Malikkul Shaleh
[Unpad.ac.id, 29/08] Guru yang baik adalah guru yang cepat digantikan oleh muridnya. Artinya jika tidak ada seorang murid pun yang bisa [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pengantar redaksi:</strong><br
/> <em>Bila anda hendak merekomendasikan dosen Unpad untuk ditampilkan dalam rubrik ini, kami tunggu rekomendasinya beserta sekilas informasi tentang sisi menarik dari sang dosen tersebut ke email <a
href="mailto:info@unpad.ac.id">info@unpad.ac.id</a> dan cc ke <a
href="mailto:webunpad@yahoo.com">webunpad@yahoo.com</a>.</em></p><p>Laporan oleh: Malikkul Shaleh</p><p>[Unpad.ac.id, 29/08] Guru yang baik adalah guru yang cepat digantikan oleh muridnya. Artinya jika tidak ada seorang murid pun yang bisa lebih hebat dari gurunya, maka bisa dikatakan bahwa sang guru tidak berhasil dalam mendidik.</p><div
id="attachment_34571" class="wp-caption alignleft" style="width: 234px"><a
href="http://www.unpad.ac.id/files/data/2010/08/oekan.jpg"><img
class="size-medium wp-image-34571" title="prof. oekan" src="http://www.unpad.ac.id/files/data/2010/08/oekan-224x300.jpg" alt="Prof. Oekan S. Abdoellah, M.A., Ph.D" width="224" height="300" /></a><p
class="wp-caption-text">Prof. Oekan S. Abdoellah, M.A., Ph.D (Foto: Malikkul Shaleh)</p></div><p>Prinsip itu lah yang diyakini Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) Unpad, Prof. Oekan S. Abdoellah, M.A., Ph.D dalam kesehariannya menjalankan profesinya sebagai dosen dan juga sebagai peneliti. Seorang pendidik seperti dosen berbeda dengan guru silat, yang punya jurus pamungkas sehingga tidak bisa kalah dari muridnya. Seorang dosen harus memotivasi muridnya untuk bisa lebih hebat dari dirinya. Ketika muridnya terkenal, maka dunia pun tidak mungkin menutup mata kepada siapa dibalik kesuksesan sang murid.</p><p>Sejak masih menjadi mahasiswa, Prof. Oekan telah menunjukkan bakat dan talentanya sebagai peneliti. Terbukti Prof. Oekan pernah  mempresentasikan papernya pada seminar internasional di Kuala Lumpur, Malaysia. Baginya penelitian sudah menjadi suatu kebutuhan.</p><p>“Saya hanya bisa bersyukur karena berkat publikasi-publikasi hasil penelitian saya selama ini, saya bisa dikenal dan diakui oleh dunia internasional,” ujar pria kelahiran 6 Mei 1954 ini.</p><p>Guru besar Unpad yang memperoleh gelar PhD-nya dari Universitas California, Berkeley, USA ini memiliki spesialisasi dalam bidang ilmu <em>Human Ecology</em>, dan fokus terhadap <em>Agroforestry</em>. Segudang pengalaman kerja telah Prof. Oekan dapatkan sejak lulus dari Departemen Biologi, FMIPA Unpad tahun 1980 hingga sekarang. Sebut saja salah satunya adalah menjadi <em>Project Coordinator for Bioresource Management</em>, hasil kerjasama antara Unpad dan Tokyo University sejak tahun 1998. Belum lagi kesibukannya menjadi <em>editor</em> dan <em>external reviewer</em> pada Jurnal terbitan Springer Belanda dan Jepang, salah satu jurnal terbaik di dunia.</p><p>“Saya bisa dikenal dan diundang berbicara oleh dunia internasional karena saya  mempelajari ‘ilmu kampung’, yaitu <em>Traditional</em> <em>Agroforestry</em>. Konsepnya sangat sederhana. Karena saya berkutat dengan pekarangan, kebun talu, tanaman awi, dan albasiah yang bagi banyak orang tidak berpotensi,” tambahnya.</p><p>Prof. Oekan mengutarakan bahwa orang desa telah secara efesien memanfaatkan ruang untuk menanam berbagai tingkatan struktur tanaman dikebun mereka, dan keanekaragaman yang tinggi itu membuat energi matahari dapat masuk secara efesien, sehingga stabilitas lingkungannya juga tinggi. “Banyak yang bisa diadopsi dari mereka, seperti prinsip <em>reduce, reuse, </em>dan<em> recycle</em>. Jangan pernah malu belajar dari desa,“ katanya.</p><p>Ketika ditanya pendapat mengenai peran penelitian bagi seorang dosen, Prof. Oekan menjelaskan bahwa antara penelitian, kualitas mengajar dan mahasiswa semuanya memiliki keterkaitan. Dan menurutnya hal ini lah yang perlu ditingkatkan jika Unpad ingin menjadi <em>World Class University</em> (WCU). Atmosfir akademik untuk menciptakan iklim penelitian yang kondusif harus terus dijaga.</p><p>“Pengajaran berbasis penelitian akan semakin menambah wawasan dosen, sehingga meningkatkan kualitas mengajar dan mahasiswa yang diajarnya. Setelah itu dosen harus didorong untuk menulis publikasi internasional. Jangan lupa untuk melibatkan mahasiswa agar mereka mendapat pengalaman baru. Dengan itu Unpad bisa terbawa baik,” jelas Prof. Oekan yang juga pernah menjabat sebagai <em>Home Country Program Coordinator for The Southest Asia Sustainable Forest Management Research Network 4</em>.</p><p>Menurutnya, kebanggaan suatu universitas adalah bisa diakui oleh dunia internasional dan menjadi bagian dari komunitas dunia. Untuk itu, sumber daya manusia yang berkualitas, komitmen, kerja keras, dan kebijakan kearah sana menjadi syarat mutlak. Unpad memiliki segalanya untuk mendunia, ditambah dengan <em>trademark </em>lokal Sunda yang menjadikan Unpad berbeda dengan yang lain.</p><p>“Rektor Unpad (Prof. Ganjar Kurnia) itu teman seperjuangan saya waktu di pascasarjana dulu, kami punya visi dan misi yang sama untuk membuat Unpad mendunia, dan saya rasa kita sedang menuju kesana. Tapi anda bisa lihat Unpad tetap milik masyarakat Sunda bukan?. Jadilah lokal yang mendunia,” tuturnya.</p><p>Di sela-sela jadwalnya yang padat, mantan Kepala Pascasarjana Ilmu Lingkungan Unpad ini masih menyempatkan diri untuk menulis buku. Prof. Oekan sedang menyelesaikan 3 buku sekaligus yang bukan tidak mungkin bisa menjadi referensi internasional di bidangnya.</p><p>“Kebanggaan seorang peneliti bukan dari berapa banyak uang yang saya dapatkan dari sana, tapi bagaimana saya dikenal melalui publikasi internasional. Dan disetiap kesempatan, saya selalu melibatkan Unpad di dalam tulisan saya, ini sebagai bentuk pengabdian saya,” tambahnya.</p><p>Fakta menarik dari Prof. Oekan di luar pekerjaannya sebagai peneliti kelas internasional, dia adalah seorang ketua Rukun Warga (RW) di daerah tempat tinggalnya, yaitu Komplek Cipadung Permai, Bandung, dan tahun ini adalah periode kedua beliau menjabat. Diakuinya bahwa menjadi ketua RW tidak lebih mudah ketimbang mengurus sebuah penelitian. Seperti harapannya kepada Unpad, Prof. Oekan tidak melupakan kelokalannya dirinya di lingkungan warga meski dirinya telah mendunia. <em>(eh)*</em></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.unpad.ac.id/archives/34569/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> </channel> </rss>
<!-- This site's performance optimized by W3 Total Cache. Dramatically improve the speed and reliability of your blog!

Learn more about our WordPress Plugins: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk
Page Caching using disk (enhanced) (user agent is rejected)

Served from: pataruman.unpad.ac.id @ 2010-09-03 00:27:39 -->