Dr. Atikah Nurhayati, S.P., M.P.,: Agar Bermanfaat, Eceng Gondok Perlu Diolah Melalui Teknologi Nirlimbah

[unpad.ac.id, 21/03/2018] Cepatnya perkembangbiakan tanaman eceng gondok sebagai gulma perairan menimbulkan berbagai masalah sosial, ekologis, maupun ekonomis. Hal ini mendorong adanya pemberantasan eceng gondok oleh masyarakat. Namun, hal ini belum efektif dilakukan sampai saat ini. Erosi, sedimentasi lahan, hingga perilaku masyarakat menjadi pemicu terjadinya peningkatan pertumbuhan eceng gondok di wilayah perairan.

Dr. Atikah Nurhayati, S.P., M.P. (Foto: Tedi Yusup)*

Menurut dosen Program Studi Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad, Dr. Atikah Nurhayati, S.P., M.P., eceng gondok perlu diolah lebih lanjut untuk memberikan manfaat optimal bagi masyarakat sekaligus mengatasi berbagai permasalahan. Faktanya, terdapat teknologi nirlimbah untuk pengolahan eceng gondok.

“Pertama, eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar untuk pakan ikan, khususnya ikan yang bersifat herbivora. Kedua, ada teknologi biobikret yang bahan dasarnya eceng gondok. Ketiga, eceng gondok dapat dijadikan berbagai bentuk kerajinan tangan,” ungkapnya.

Saat ini, Dr. Atikah sedang melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terkait strategi adopsi inovasi perikanan budidaya keramba jaring apung di waduk Cirata, Jawa Barat. Ia mengungkapkan, kondisi perikanan budidaya sistem keramba jaring apung di perairan waduk Cirata sudah melebihi kapasitas.

“Dari aspek produksi perikanan budidaya keramba jaring apung itu menghasilkan limbah turunan, salah satunya adalah tumbuhnya eceng gondok. Kalau dibiarkan, eceng gondok itu lambat laun akan menutupi seluruh perairan di waduk Cirata,” kata dosen yang mendalami ilmu sosial ekonomi perikanan dan kelautan ini.

Jika pertumbuhan eceng gondok terus menutupi perairan, kadar oksigen di perairan pun akan berkurang. Ini berakibat pada menurunnya produktivitas perikanan budidaya. Selain itu, eceng gondok juga menghambat sarana transportasi di perairan umum. Keberadaan eceng gondok yang tidak terkendali juga akan mengurangi keindahan waduk Cirata sebagai tempat wisata.

Dr. Atikah berpendapat, penggabungan upaya pemanfaatan teknologi nirlimbah dengan konsep blue economy akan memberikan pengaruh positif bagi perairan umum waduk Cirata maupun perairan serupa di tempat lain. Dengan konsep tersebut, kelestarian akan terjaga, kesejahteraan masyarakat sekitar meningkat, dan permasalahan sosial dapat ditekan.

Melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, Dr. Atikah mengajak stakeholder terkait untuk bersama-sama meningkatkan pemanfaatan eceng gondok bagi kesejahteraan masyarakat sekaligus menyehatkan lingkungan perairan waduk. Ia juga merangkul warga untuk dapat mengolah eceng gondok menjadi produk yang lebih ekonomis, seperti pakan ikan, biobriket, dan kerajinan tangan.

Dr. Atikah menambahkan, penerapan teknologi pengolahan eceng gondok untuk bahan dasar produk pakan ikan herbivora mempunyai nilai ekonomis yang tinggi mengingat adanya potensi besar sektor perikanan budidaya di sana.

Sebagai pakan ikan, eceng gondok dapat menggantikan bahan baku kedelai yang harganya lebih mahal. Di sisi lain, peluang ekonomi pengolahan eceng gondok menjadi kerajinan tangan dapat dikaitkan dengan potensi pemasaran buah tangan khas bagi para wisatawan di waduk Cirata.

“Biobriket juga dapat menjadi peluang untuk energi alternatif. Kalau kita memanfaatkan eceng gondok menjadi biobriket, itu kan lebih ramah lingkungan dan lebih aman digunakan, biayanya lebih murah, lebih padat karya dibandingkan padat modal,” imbuh Dr. Atikah.

Ada sejumlah tahapan adopsi inovasi yang dilakukan Dr. Atikah untuk mengajak stakeholders memanfaatkan nilai sosial ekonomi dari eceng gondok. Mulai dari menyadarkan, menumbuhkan minat, hingga melakukan pendampingan dan evaluasi. Masyarakat pun diharapkan mampu mengadopsi teknologi nirlimbah eceng gondok menjadi produk yang bernilai ekonomi.

“Teknologinya sudah ada, yang diperlukan saat ini adalah penguatan kelembagaan yang melibatkan seluruh stakeholders, karena tidak bisa berdiri sendiri,” ujar perempuan kelahiran Bandung, 15 Januari 1977 ini.

Untuk konteks Cirata, stakeholders dimaksud di antaranya adalah Badan Pengelolaan Waduk Cirata (BPWC), Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat, pembudidaya ikan di perairan umum waduk Cirata, kelompok Masyarakat Peduli Cirata,  serta akademisi.

Stakeholders yang terlibat ini semuanya memiliki fungsi dan peran masing-masing. Kalau misalnya eceng gondok yang ada di perairan waduk Cirata dibiarkan, seluruh stakeholders tersebut akan dirugikan,” ujar Dr. Atikah.

Selain menjadikan eceng gondok menjadi produk yang lebih bernilai, permasalahan di waduk Cirata juga perlu diselesaikan melalui penataan ulang dan zonasi keramba jaring apung. Ini dilakukan mengingat jumlah keramba jaring apung di perairan tersebut sudah melebihi kapasitas. Saat ini ada lebih dari 51.000 petak keramba apung di waduk Cirata. Jumlah ini melebihi kapasitas yang seharusnya berjumlah 12.000 petak.

Dr. Atikah pun berharap ke depannya perairan waduk Cirata dapat kembali ke fungsi utama dan turunannya. Dengan demikian, masyarakat dapat kembali menikmati manfaat sosial dan ekonomi dari waduk Cirata.

Aktivitas di perairan waduk Cirata pun harus dapat berkelanjutan, dengan memperhatikan semua aspek, termasuk ekologi, teknologi, regulasi, sosial, dan ekonomi.

“Saya sebagai bagian dari masyarakat, tergelitik untuk mengkaji apa yang harus dilakukan disana. Saya mengharapkan, ilmu yang saya peroleh ini bisa diaplikasikan di masyarakat melalui program pengabdian kepada masyarakat. Selain ilmu ini dapat diaplikasikan, diharapkan juga mampu mensejahterakan mereka,” tutur Dr. Atikah.*

Laporan oleh Artanti Hendriyana/am