Dr. Atwar Bajari, Drs., M.Si., “Perkembangan Dunia Komunikasi Harus Dihadapi Secara Kreatif”

[Unpad.ac.id, 31/08/2015] Seiring dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi , ilmu komunikasi telah menjadi rumpun ilmu tersendiri yang hakikatnya setara dengan rumpun ilmu sosial lainnya. Salah satu faktor pendorong, diantaranya, adalah program studi di bawah rumpun ilmu komunikasi, saat ini memiliki tren peningkatan peminat yang cukup tinggi. Masyarakat telah mengetahui bahwa ilmu komunikasi dan profesinya terus berkembang seiring dengan perkembangan kebutuhan stakeholder terhadap lulusan prodi-prodi komunikasi.

Dr. Atwar Bajari, Drs., M.Si (Foto oleh: dadan T.)*

Dr. Atwar Bajari, Drs., M.Si (Foto oleh: dadan T.)*

Kondisi ini menjadi tantangan bagi para pengelola pendidikan komunikasi untuk menawarkan sistem pendidikan yang profesional. Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Atwar Bajari, Drs., M.Si., Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad. Menurutnya, setiap pengelola harus mampu menjelaskan kompetensi apa yang akan dimiliki lulusan guna menjawab tantangan pasar.

“Bagaimanapun kita boleh mendirikan prodi komunikasi di mana saja. Tapi kalau ternyata profil dan kompetensi lulusanya tidak jelas, siapa nanti yang mau mendaftar?” kata Dr. Atwar saat ditemui Humas Unpad beberapa waktu lalu.

Dr. Atwar Bajari yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan I Fikom Unpad dan Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (Aspikom) Indonesia mengatakan, pendidikan komunikasi sekarang menjadi salah satu prodi yang banyak diminati. Perkembangan teknologi melahirkan perubahan peradaban baru. Peradaban baru ini tidak ada yang tidak menyentuh aspek komunikasi.

Untuk itu, perubahan ini memerlukan adanya para professional di bidang komunikasi. Hal inilah yang sudah dibaca dan diapresiasi dengan baik oleh masyarakat seiring dengan meningkatnya literasi mereka terhadap pekerjaan bidang komunikasi. Oleh karena itu Dr. Atwar menyarankan agar pengelola pendidikan komunikasi perlu kreatif guna mendukung lulusannya bisa mengisi kebutuhan tersebut.

Dosen kelahiran Sumedang 27 Maret 1965 ini menjelaskan, di bidang kurikulum pengajaran, pengelola harus menyiapkan kurikulum yang dibutuhkan oleh pasar. Jika kurikulum tersebut dekat dengan kebutuhan pasar dan kultur masyarakat, Dr. Atwar optimis program studi tersebut dapat direspons dengan baik.

“Orang komunikasi harus punya kreativitas dalam menyusun konsep baru di dalam penyusunan kurikulum program studi,” kata Dr. Atwar.

Kreativitas itu tecermin di berbagai aspek. Dr. Atwar mengungkapkan, dari segi pengembangan program studi, pengelola harus pandai mencari peluang-peluang baru dari kebutuhan pasar terhadap para profesional komunikasi. Hal ini tentu akan menjamin lulusannya siap kerja sekaligus dapat membangun kekuatan program studi yang bersangkutan.

Dari segi layanan akademik, pengembangan ilmu komunikasi harus dihadapi secara kreatif pula. Seorang dosen harus mampu mengikuti perkembangan zaman.

“Tanpa kita (dosen) mampu memahami dan menyesuaikan dengan perubahan masyarakat, atau tidak ikut nimbrung dalam dunia keseharian komunikasi, pasti ngajarnya bakalan macet. Malah ketinggalan sama mahasiswanya,” terang Dr. Atwar.

Selain harus dihadapi secara kreatif, para profesional komunikasi juga harus memiliki integritas. Hal ini pula yang harus ditekankan oleh pengelola program studi komunikasi.

“Setidaknya proses pembelajaran itu harus dikembangkan pada pembangunan integritas. Integritas pada profesinya, statusnya, dan pada bidang pekerjaannnya. Ketika intergitas itu ada, kita akan berani jujur, bertanggung jawab, serta memiliki totalitas dalam bekerja,” jelasnya.

atwar badjari 02 DADANLanjutnya, selain aktif mengajar, dosen juga harus mengembangkan diri dengan melakukan aktivitas penelitian dan menulis. Menurut Dr. Atwar, saat ini orientasi dosen masih dominan pada aktivitas mengajar di kelas. Padahal, dosen harus mampu menulis, memublikasikan berbagai hasil penelitiannya di jurnal ilmiah, hingga mempresentasikannya pada acara seminar ilmiah.

Aktivitas menulis inilah yang terus diupayakan oleh Dr. Atwar. Di sela kesibukannya, Dr. Atwar juga menulis beberapa buku. Tidak kurang sudah 4 buku yang dihasilkan olehnya. Buku tersebut berbicara tentang metode penelitian komunikasi, komunikasi kontekstual, dunia anak-anak terlantar/devian, hingga human trafficking. Selain itu, ia juga aktif memublikasikan penelitiannya di jurnal ilmiah, baik nasional maupun internasional.

Publikasi internasional yang sudah diterbitkannya antara lain International Journal Research on Humanities and Social Sciences, dengan judul“Women as Commodities,” United Kingdom, IISTE, tahun 2013, kemudian GSTF Journal, denganjudul “Three C’s on Television and Internet,” Singapore, GSTF, 2013 dan bersama tim penelitiannya diterbitkan pula di Jurnal Research on Humanities and Social Sciences,dengan judul “Perceptions and Behaviors of Health Communication on Poor with High and Low Human Development Index,” United Kingdom, IISTE, 2014. Serta yang terakhir menulis bersama mahasiswa bimbingannya diterbitkan di Life Science Journal dengan judul “An Analysis of the Defects of Therepeutic Communication between Nurses and Patient in a Hospital: The Case of RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang, 2015.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh