Dr. Cipta Endyana, M.T., Teliti Citarum Lewat Perangkat Drone

[unpad.ac.id, 15/7/2019] Perangkat drone kini semakin akrab digunakan orang salah satunya untuk mengambil foto/video dari udara. Namun, bagi Geolog Universitas Padjadjaran Dr. Cipta Endyana, M.T., drone menjadi alat riset efektif untuk mengetahui kondisi detail tentang lingkungan.

Dr. Cipta Endyana, M.T. (Foto: Tedi Yusup)*

Dosen Fakultas Teknik Geologi dan Sekolah Pascasarjana Unpad ini memanfaatkan drone untuk melakukan pemetaan mengenai kondisi lahan di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Ia memanfaatkan perangkat ini untuk mendapatkan citra yang biasa diperoleh dari citra satelit.

“Penggunaan drone memiliki cost yang lebih murah dibanding citra satelit beresolusi tinggi,” ungkap Dr. Cipta saat diwawancarai Kantor Komunikasi Publik Unpad beberapa waktu lalu.

Kelebihan lain dari penggunaan drone adalah perangkat ini mampu menyajikan data foto secara berkala. Ketika Dr. Cipta membutuhkan data berkala mengenai kondisi lahan di suatu wilayah, ia tinggal menerbangkan drone untuk mendapatkan citra yang dibutuhkan.

Dari hasil foto udara tersebut, Dr. Cipta mendapatkan berbagai data mengenai sebaran lahan kritis yang berada di kawasan DAS Citarum. Data ini kemudian bisa menjadi referensi bagi para ilmuwan lainnya untuk melakukan penelitian lanjutan terkait sungai Citarum.

Agar mendapatkan obyek foto yang lebih detail, Dr. Cipta menambahkan drone-nya dengan sejumlah sensor. Salah satu sensor yang digunakan adalah sensor multispektral. Sensor ini menjadikan foto memiliki frekuensi gelombang sehingga bisa diolah untuk beberapa keperluan.

Sensor kamera tersebut dikembangkan Dr. Cipta melalui kerja sama dengan komunitas drone di kota Bandung.  Sensor ini pun bisa disesuaikan dengan kebutuhan akan data yang akan diambil.

Ketahui Titik Kritis

Sudah 2 tahun Dr. Cipta “menerbangkan” drone untuk keperluan risetnya di DAS Citarum. Pada tahun ini, pengambilan citra dilakukan di kawasan hulu Citarum dan sub DAS Cirasea. Data yang diambil lebih berbicara tentang persentase bukaan lahan, data daerah aliran sungai dan jaringan sungai, hingga simulasi mengenai banjir dan gerakan tanah.

Penelusuran data lahan yang dibutuhkan awalnya dilakukan dengan bantuan aplikasi peta digital milik Google. Lewat Google Maps, Dr. Cipta menemukan beberapa titik lahan kritis. Untuk mendapatkan pembuktian, penelusuran selanjutkan dilakukan dengan menerbangkan drone di titik yang telah ditentukan.

“Data dari Google ‘kan bisa saja belum berkala. Drone bisa memberikan data secara berkala. Karena lahan kritis akibat pembukaan lahan dapat terjadi sepanjang tahun,” ujar Dr. Cipta.

Terkait persentase bukaan lahan, Dr. Cipta menerangkan, setidaknya ada ratusan ribu hektar lahan kritis berada di kawasan hulu Citarum. Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama. Tidak hanya akademisi, masyarakat, pemerintah, dan pelaku industri harus bersama-sama menyelesaikan permasalahan di Citarum.

Data yang dihasilkan lewat citra ini berfungsi menjadi referensi lanjutan bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian di Citarum.

“Drone itu sebagai supporting, untuk menyajikan data spasial dan visualisasi dari lahan tersebut. Lanjutannya adalah bagaimana mempergunakan data untuk riset. Kerja sama sharing data untuk mendukung riset lanjutannya. Kolaborasi dengan semua periset,” kata Dr. Cipta.

Pusat Riset Citarum

Dr. Cipta mengatakan, permasalahan di Citarum bukan hanya soal lahan kritis saja. Ada sejumlah masalah serupa yang diprioritaskan. Mulai dari sampah, limbah domestik, hingga limbah industri. Masalah ini sangat berkaitan dengan pola kehidupan dan budaya masyarakat.

Pasca digulirkannya program nasional “Citarum Harum” sebagai upaya untuk memulihkan kembali sungai Citarum, seluruh unsur bersatu, mulai dari unsur pemerintah, kepolisan, militer, pelaku bisnis, komunitas, hingga akademisi, membentuk Satuan Tugas (Satgas) Citarum Harum.

Unpad sendiri ikut andil dalam penanganan masalah di Citarum. Hal ini diwujudkan dengan dibentukan Pusat Riset Citarum atau Citarum Center of Research (CCR) yang dikomandoi oleh Dr. Cipta. Dibentuknya pusat riset ini menjadi jembatan antara kebutuhan satgas dengan komunitas dan akademisi.

“Pusat Riset Ciarum ini jadi jembatan ke semua dosen dan mahasiswa juga. Permasalahan yang ada dikumpulkan di CCR akan disebarkan kepada dosen dan mahasiswa di Unpad. Misalkan, suatu industri membutuhkan kajian tertentu, otomatis kita akan mencari akademisi yang ahli,” kata Dr. Cipta.

Menurut Dr. Cipta, dilakukannya sejumlah riset dan berbagai upaya untuk mengatasi berbagai masalah di Citarum merupakan bentuk dari tanggung jawab sebagai masyarakat Jawa Barat. Sungai Citarum merupakan nadi bagi masyarakat Jawa Barat. Mengaliri sejumlah kota dan kabupaten dan memberikan kehidupan bagi masyarakatnya.

“Citarum masih sakit. Apakah kita mau diam, atau punya sedikit kontribusi membenahi citarum?” pungkas Dr. Cipta.*

Laporan oleh Arief Maulana