Dr. Dewi Marhaeni Diah Herawati, drg., M.Si., Ciptakan Makanan Pendamping ASI dari Ikan Sidat

[unpad.ac.id, 6/11/2017] Masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengetahui kekayaan kandungan nutrisi dari ikan sidat. Ikan ini memiliki kandungan protein, lemak, dan mikronutrien yang sangat tinggi serta baik untuk dikonsumsi seluruh kalangan, mulai dari bayi hingga usia lanjut. Salah satu manfaat mengonsumsi ikan sidat adalah dapat meningkatkan status gizi, yaitu meningkatkan berat badan dan tinggi badan anak balita pendek (stunted).

Dosen Fakultas Kedokteran Unpad Dr. Dewi Marhaeni Diah Herawati,drg., M.Si., (Foto: Tedi Yusup)*

“Masyarakat Indonesia banyak yang tidak paham bahwa kandungan gizi Ikan sidat sangat tinggi. Jauh lebih tinggi dari ikan salmon. Saat ini ikan sidat ini justru diambil/diekspor ke negara-negara lain. terutama dagingnya,” ujar dosen Fakultas Kedokteran Unpad Dr. Dewi Marhaeni Diah Herawati,drg, MSi.

Menurut Dr. Dewi, saat ini permasalahan malnutrisi seperti gizi buruk, wasting (berat badan rendah), stunted, dan obesitas di Indonesia, khususnya Jawa Barat masih cukup tinggi. Malnutrisi dapat menjadi penyebab dari penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabates mellitus, stroke, jantung, dan gagal ginjal.

Jika tidak dilakukan upaya yang optimal, dikhawatirkan pada 2025 bonus demografi akan menjadi bencana demografi. Selain itu, program Jaminan Kesehatan Nasional yang telah mencanangkan universal coverage akan bangkrut karena digunakan untuk membiayai penyakit katastropik, seperti penyakit gagal ginjal.

Sebagai akademisi di Bidang Ilmu Gizi Medik, Dr. Dewi melakukan penelitian tentang pemanfaatan ikan sidat (Anguilla) dalam mengatasi malnutrisi dan pencegahan penyakit infeksi.

Melalui penelitiannya, ia menciptakan berbagai produk seperti makanan pendamping ASI (MPASI) untuk bayi usia 6-12 bulan, functional food berupa biskuit untuk balita serta nutraceutikal berupa kapsul suplemen ikan sidat.  Seluruh produk tersebut telah dilakukan uji Randomized Control Trial (RCT)  yang dilakukan ke sejumlah daerah di Jawa Barat dan Papua. Untuk MPASI bayi usia 6-12 bulan ada 2 macam produk yang dihasilkan yaitu Anguilla MP-ASI Ubi Cilembu dan Anguilla MPASI Sagu.

Hasil RCT yang dilakukan di Kabupaten Nabire selama satu bulan menunjukkan bahwa bayi yang diberi Anguilla MPASI Sagu kejadian diarenya turun, sedangkan yang diberi MPASI pabrikan masih terjadi diare. Untuk uji RCT Anguilla Biskuit status gizi dilakukan selama 3 bulan di wilayah kecamatan Rancakalong kabupaten Sumedang. Adapun hasilnya adalah terjadi peningkatan berat badan dan tinggi badan balita yang diberi Anguilla dibanding yang diberi biskuit Kemenkes.

Menurut Dr. Dewi, angka penderita stunted di Jawa Barat termasuk tinggi dibanding provinsi lain di Indonesia, begitu pula kota Bandung. Salah satu penyebabnya adalah kekurangan asupan nutrisi yang baik.

“Anak yang lahir BBLR (berat badan lahir rendah), tidak mendapatkan ASI eksklusif, serta MPASI-nya tidak berkualitas, maka ketika balita akan terganggu pertumbuhannya dan bisa menjadi stunted. Balita stunted ketika remaja dapat menjadi obesitas dan menjadi faktor risiko terjadinya  metabolik sindrom,” ujarnya.

Dijelaskan Dr. Dewi, anak-anak stunted bukan hanya memiliki tinggi badan yang lebih rendah dari anak-anak seusianya, tetapi juga memiliki tingkat intelegensi yang lebih rendah. Hal ini tentu akan berpengaruh pada penurunan daya saing bangsa. 

“Oleh karena itu saya akan mencoba membantu pemerintah. Sebagai akademisi, saya ingin berkontribusi,” ujar perempuan kelahiran Lombok, 20 Februari 1961 ini.

Dalam membuat produknya, Dr. Dewi memanfaatkan kepala, tulang, dan hati ikan sidat untuk dibuat menjadi tepung. Tepung inilah yang dimanfaatkan untuk membuat MPASI, biskuit, dan kapsul suplemen. Menurutnya, kepala ikan sidat kaya akan kandungan protein, sementara tulang ikan sidat kaya akan kandungan kalsium. Dalam penelitiannya itu, Dr. Dewi memanfaatkan ikan sidat jenis Anguilla bicolor yang banyak ditemui di Jawa Barat.

Untuk beberapa produknya,  Dr. Dewi juga menambah bahan pangan lokal lain, yaitu ubi cilembu dan sagu sebagai sumber karbohidrat. Ia sendiri ingin menujukkan bahwa bahan pangan lokal sangat kaya akan gizi. Diharapkan dengan produknya itu reputasi pangan lokal pun akan meningkat.

Diungkapkan Dr. Dewi,  saat ini ia memfokuskan produknya pada bayi dan balita karena kelompok ini merupakan kelompok yang masih rentan. Dengan menyiapkan nutrisi baik pada bayi dan balita, diharapkan dapat berkontibusi pula dalam menyiapkan sumber daya manusia yang lebih baik.

Meski diperuntukkan untuk balita, Dr. Dewi mengungkapkan bahwa biskuit ikan sidat ini dapat juga dikonsumsi orang dewasa hingga lansia. Kandungan kalsium yang tinggi, dapat meningkatkan kekuatan tulang pada lansia.

“Dengan diberikan makanan ini diharapkan dia bisa lebih baik lagi,” ujarnya.

Selain untuk memperbaiki status gizi, pertumbuhan anak, dan mencegah penyakit infeksi, Dr. Dewi juga sedang mengembangkan functional food berbahan ikan sidat untuk ibu hamil anemia dan risiko “Kurang Energi Kronis” (KEK), serta untuk lansia.

Dengan tingginya kandungan nutrisi ikan sidat, Dr. Dewi pun menyayangkan masih minimnya masyarakat yang mengonsumsi ikan tersebut. Padahal, ikan sidat banyak ditemui di perairan Indonesia. Ikan sidat dari Indonesia malah lebih banyak dilirik negara lain, termasuk Jepang dan Korea.

“Sesungguhnya Indonesia itu harusnya berbahagia sekali dan harus berterimakasih kepada Alloh SWT. Kita diberi sumber daya alam yang luar biasa yang seharusnya dikembangkan secara optimal untuk keperluan bangsa kita,” ujar Dr. Dewi.*

Laporan oleh: Artanti Hendriyana/am