Dr. Dini Rochdiani, Ir., M.Si., “Manggis Jadi Komoditas Ekspor Unggulan Indonesia”

Laporan oleh Arif Maulana

Dr. Dini Rochdiani, Ir., M.Si. (Foto: Dadan Triawan)*

[unpad.ac.id, 18/2/2020] Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan di Indonesia. Selain berkhasiat bagi kesehatan tubuh, manggis bisa menjadi peluang bisnis yang menjanjikan di Indonesia.

Sejumlah wilayah di Indonesia menjadi sentra budidaya buah eksotik ini. Namun, hanya ada satu sentra budidaya manggis terbesar di Indonesia, yaitu kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya. Bahkan, wilayah ini telah dikelola menjadi kawasan agrowisata manggis.

Manggis dari Puspahiang tidak hanya memasok kebutuhan pasar lokal, tetapi telah menembus pasar ekspor. Tercatat, negara Republik Rakyat Tiongkok menjadi pengimpor tetap manggis Puspahiang. Ini disebabkan, kualitas manggis Puspahiang dinilai baik dan sesuai dengan kebutuhan di Tiongkok.

Potensi ini pula mendorong sejumlah dosen Universitas Padjadjaran terjun di dunia manggis. Sejak 2007, penelitian mengenai manggis telah diprakarsai oleh Prof. Dr. Ir. Roni Kastaman, M.SIE. Puspahiang menjadi lokasi penelitian tersebut. Selanjutnya, beberapa dosen di Unpad aktif melakukan penelitian terkait manggis berdasarkan sudut pandang keilmuannya.

Salah satu dosen yang berkecimpung meneliti manggis adalah Dr. Dini Rochdiani, Ir., M.Si., dosen Departemen Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Unpad. Sejak 2015, Dr. Dini dan tim melakukan penelitian mengenai manggis dilihat dari aspek sosial ekonominya.

Dr. Dini menjelaskan, wilayah Puspahiang telah menjadi sentra berkumpulnya pedagang manggis skala kecil hingga besar. Bahkan, para eksportir juga banyak yang langsung membeli manggis dari Puspahiang untuk kemudian diekspor langsung ke negara tujuan.

Wilayah Puspahiang sendiri telah menghasilkan varietas khusus manggis, yaitu manggis puspahiang. Varietas ini dinilai menjadi varietas unggulan di Indonesia, sehingga sejumlah wilayah lain turut membudidayakan manggis puspahiang.

Hampir seluruh manggis berkualitas baik yang diproduksi di Indonesia menjadi komoditas ekspor. Pendampingan yang intensif harus terus dilakukan agar mutu manggis Indonesia dapat meningkat. Karena itu, Dr. Dini dan tim peneliti Unpad terus berupaya meningkatkan potensi manggis dari segi dinamika bisnisnya.

Dilirik Anak Muda

Ada yang unik dari kondisi budidaya manggis di Indonesia, yaitu banyaknya anak muda yang mau terjun sebagai petani manggis. Hal ini menjadi secercah harapan yang baik, di saat sektor pertanian lainnya minim keikutsertaan generasi muda.

Menurut Dr. Dini, banyak generasi muda yang turun menjadi pembudidaya salah satunya disebabkan kuatnya potensi ekspor manggis Indonesia. Tidak hanya Tiongkok, manggis puspahiang juga telah diekspor ke negara lainnya, seperti Dubai, Arab Saudi, hingga Perancis.

Setiap negara memiliki karakteristik permintaan manggis yang berbeda. Tiongkok misalnya, menyukai manggis berukuran besar. Dengan demikian, manggis-manggis yang berkualitas baik dan berukuran besar dipastikan menjadi komoditas ekspor ke Tiongkok.

Sejak 2016, Puspahiang menghasilkan manggis dengan ukuran yang lebih kecil. Manggis jenis ini memiliki biji yang lebih kecil. Namun, Tiongkok justru menolak manggis dengan ukuran seperti itu.

“Ternyata (manggis kecil) ada alternatif eskpor. Dubai lebih menyukai manggis dengan ukuran kecil. Selain itu, Dubai menjadi pintu masuk ekspor manggis ke negara lainnya, seperti Arab Saudi dan Perancis,” kata Dr. Dini.

Dengan demikian, pembudidaya manggis tidak pernah kehilangan pasar. Dalam kondisi apa pun, manggis tetap bisa diekspor ke berbagai negara. Kondisi ini tentunya menguntungkan para petani. Apalagi, pada waktu-waktu tertentu permintaan pasar internasional cukup tinggi, sehingga harga jual manggis di Puspahiang bisa melonjak.

Lika-liku

Potensi yang kuat tentunya dibayangi oleh sejumlah tantangan. Hal ini menjadi tugas akademisi untuk menyelesaikannya.

Dr. Dini Rochdiani mengatakan, pengelolaan budidaya manggis di Indonesia membutuhkan beragam teknologi. Selama ini pengelolaan masih dilakukan secara tradisional dan dilakukan secara turun temurun. Mengubah pola pikir dan kebiasaan petani manggis menjadi lebih terstruktur sangat dibutuhkan.

“Petani sekarang masih berpikir bahwa manggis tidak perlu perawatan. Manggis telah merasa memberikan penghidupan. Padahal, faktor budidaya menentukan kualitas manggis yang akan dipasarkan. Kualitas bagus harga pun tinggi,” papar Dr. Dini.

Dr. Dini mencontohkan, jarak tanam pohon dan pola perawatan intensif harus diperhatikan. Selain itu, penanganan hama maupun jamur juga harus diantisipasi. Hal ini bertujuan mendorong peningkatan produktivitas manggis.

Pekerjaan rumah lainnya dari budidaya manggis di Indonesia adalah menciptakan teknologi budidaya yang takkenal musim. Dr. Dini menjelaskan, panen manggis di Indonesia sudah terpetakan. Periode Januari-Maret, manggis panen di wilayah Puspahiang. Bulan Mei hingga Agustus, manggis akan panen di wilayah Lampung. Selanjutnya, periode September-Desember manggis akan panen di wilayah Tuban, Bali.

Apabila Jawa Barat tidak kebagian musim panen, maka manggis akan didatangkan dari wilayah yang panen. Hal ini tentunya berdampak pada naiknya harga jual manggis. Begitu pula sebaliknya di daerah lain.

Selain itu, faktor ketidakpastian cuaca juga berdampak signifikan. Manggis merupakan tanaman yang menyukai wilayah dengan curah hujan rendah. Jika pada periode Januari-Maret Jawa Barat mengalami musim hujan yang lebat, akan berdampak pada produktivitasnya.

Karena itu, Dr. Dini tidak lelah untuk berproses. Sinergi dengan peneliti lainnya terus dilakukan. Harapannya, aktivitas Tridarma yang dilakukan Unpad di Puspahiang berhasil menciptakan “Rumah Manggis” yang mengintegrasikan berbagai sektor keilmuan. Selain sentra manggis, Dr. Dini bersama tim juga mulai mengembangkan produk-produk olahan manggis lainnya untuk bisa dijadikan proses bisnis oleh warga Puspahiang.*