Dr. Eleonora Agustine, M.T., Ciptakan Alat Efektif untuk Mendeteksi Pencemaran Tanah

[unpad.ac.id, 15/8/2019] Dosen Geofisika Universitas Padjadjaran Dr. Eleonora Agustine, M.T., mengembangkan alat untuk mendeteksi struktur di bawah permukaan tanah. Alat yang diberi nama “Resistivity Meter Small Scale & Small Pin Electrode” atau RMSS ini dapat mendeteksi kadar polutan yang ada di dalam tanah, termasuk yang dekat dengan permukaan.

Dr. Eleonora Agustine, M.T., (Foto: Arief Maulana)*

“RMSS merupakan salah satu alat ukur yang selama ini digunakan untuk mendeteksi stuktur di bawah permukaan yang biasanya berhubungan dengan fluida atau mineral yang ada di bawah tanah,” jelas Dr. Eleonora.

Lebih lanjut Dr. Eleonora mengungkapkan, dibandingkan alat lain yang sudah ada sebelumnya, RMSS memiliki keunggulan karena dapat mengukur kondisi di dekat permukaan tanah. Kebanyakan alat pengukuran yang ada saat ini mengukur terlalu dalam sehingga kurang mendapatkan hasil yang optimal. Dengan RMSS, pengukuran dapat dilakukan lebih detail dengan resolusi yang lebih baik pula.

“Kalau untuk pencemaran, RMSS ini lebih baik karena pencemaran ‘kan tidak terlalu dalam biasanya, apalagi masih dalam rentang 10-20 tahun itu dia masih di permukaan biasanya,” jelas Kepala Pusat Studi Geofisika, Eksplorasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan FMIPA Unpad ini.

Jika tanah diketahui sudah tercemar, Dr. Eleonora dan tim akan melakukan pengujian pada lapisan tanah yang lebih dalam untuk mengetahui apakah pencemaran sudah sampai lapisan dalam atau tidak. “Nah, itu kita akan menggunakan bentangan yang lebih panjang,” ungkapnya.

Adapun tingkat kedalaman pengukuran RMSS dapat bergantung pada panjangan bentangan kabel yang terkoneksi pada RMSS. Diperkirakan, kedalaman tanah yang diukur merupakan sepertujuh dari panjang bentangan.

Di bidang pertanian, dengan mengetahui tingkat pencemarannya dapat mengetahui kondisi kesuburan tanah. Dengan demikian, dapat diketahui langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya, apakah tanah aman untuk ditanami, perlu ditingkatkan kesuburannya, atau justru tidak dapat ditanami sama sekali.

Selain itu, dengan mengetahui kondisi tanah, dapat diketahui pula tanaman apa yang cocok untuk di tanam di lahan tersebut. Sementara pada bidang lain, penggunaan RMSS biasanya dapat dilakukan untuk mengukur kemampuan menahan beban bangunan hingga menentukan mineral yang ada di bawah permukaan.

Bukan hanya itu, RMSS pun dapat digunakan untuk mengukur kadar polutan di dalam air sungai. Alat ini sendiri sudah pernah digunakan untuk mengukur kondisi sub DAS Citarum, tepatnya di bantaran sungai Cikapundung. Untuk melakukan pengukuran, tim biasanya membutuhkan satu main unit RMSS, sejumlah elektroda, kabel, dan sumber arus listrik.

Selain untuk mempermudah pengukuran, penggunaan RMSS juga dapat mempercepat proses pengambilan data.

“Kalau di satu luasan ambil sampel satu persatu kan lama. Ini kita bisa gunakan di satu lintasan, langsung dapat di bawah permukaan seperti apa. Jadi membantu percepatan,” ujarnya.

Alat RMSS merupakan hasil penelitian yang dilakukan Dr. Eleonora sejak 2010. Alat ini terus menagalami perkembangan hingga kini, khususnya melalui skema penelitian Hibah Internal Unpad. Alat ini pun sudah dipresentasikan pada berbagai kesempatan, nasional dan internasional. Saat ini, RMSS sedang dalam proses untuk mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual.

Dr. Eleonora pun berharap alat ini dapat digunakan oleh berbagai pihak. Bukan hanya oleh mereka yang bergerak di bidang Geofisika, tetapi juga oleh masyarakat lebih luas.

“Jadi membantu proses awal sebelum mereka melakukan preses pertanian, atau pada saat proses pengembangan perumahan,” ujarnya.

Ke depan, Dr. Eleonora berencana dan tim berencana untuk membuat RMSS versi digital agar lebih mudah digunakan oleh pengguna yang bukan berasal dari ilmu Geofisika.

“Akan lebih mudah dipakai, walaupun nanti analisisnya harus sama kita (tim Geofisika),” ujarnya.*

Laporan oleh Artanti Hendriyana/am