Dr. Ir. H. Wahyu Daradjat Natawigena, M.Si., Ciptakan Racun Tikus yang Efektif, Inovatif, dan Aman bagi Manusia

[unpad.ac.id, 15/06/2017] Tikus menjadi hama yang merugikan bagi manusia. Hewan pengerat ini bukan hanya merusak berbagai tanaman pertanian, pesawahan dan perkebunan sehingga mengancam ketahanan pangan, tetapi juga berpotensi menjadi hama di rumah-rumah (urban pest).

Dr. Ir. H. Wahyu Daradjat Natawigena, M.Si. (Foto; Tedi Yusup)*

Tikus juga mengancam kesehatan lingkungan karena tikus sebagai vektor penyebar lebih dari 200 organisme patogenik berbahaya seperti : Leptospira icterohaemorrhagiae, (penyebab Leptospirosis), Spirillum minus & Streptobacillus moniliformis, Salmonella, Yersenia pestis. Tikus juga dapat tertular penyakit dari manusia dan berpotensi menularkan kembali ke individu lainnya.

Salah satu upaya untuk mengendalikan hama tikus adalah dengan menggunakan umpan beracun (Rodentisida). Hingga saat ini, telah banyak diciptakan produk rodentisida. Namun, produk Rodentisida yang banyak beredar di pasaran saat ini lebih ditujukan hanya untuk mengendalikan tikus sawah (Rattus argentiventer), sehingga untuk mengendalikan jenis tikus yang lain, seperti tikus rumah (Rattus diardi), Tikus got (Bandicota indica) dan tikus  perkebunan kelapa sawit (Rattus tiomanicus) masih kurang nyata keberhasilannya.

Rodentisida yang beredar saat ini juga kurang memperhatikan segi keamanan bagi pengguna. Selain itu, desain kurang praktis, tidak berorientasi pada semua target spesies tikus, kurang berestetika dan juga tidak dilengkapi sistem pengumpanan yang baik.

Hal ini menggugah Dr. Ir. H. Wahyu Daradjat Natawigena, M.Si., Dosen Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Unpad, untuk mengembangkan produk rodentisida yang lebih inovatif aman dan sesuai dengan keinginan konsumen. Dr. Wahyu saat ini telah berhasil mengembangkan rodentisida dengan nama “Rodentox” yang memiliki keunggulan dibanding rodentisida lain di pasaran.

Produk Rodentox merupakan pengembangan mutakhir atas berbagai produk rodentisida yang diciptakan Dr. Wahyu selama bertahun tahun. “Rodentox” mengandung bahan aktif yang membuat tikus kehausan dan keluar mencari cahaya sebelum waktu kematiannya. Racun tersebut akan bekerja sebagai antagonis vitamin K dalam darah dan menghambat proses pembekuan darah. Setelah memakan racun, tikus akan mati dalam waktu seminggu.

Dr. Wahyu mengatakan, proses kematian yang menghabiskan waktu seminggu ini merupakan kesengajaan. Ini didasarkan bahwa tikus merupakan hewan yang pintar. Apabila kematian tikus berdekatan dengan rodentisida, maka tikus lainnya mampu mengaitkan proses kematian temannya dengan  umpan  yang berada didekatnya tersebut.

Selain itu Tikus juga mempunyai perilaku “Neophobia” atau curiga terhadap sesuatu makanan yang baru. Tikus hanya mencicipi sedikit makanan baru tersebut, apabila ada hal yang mencurigakan, seperti membuat sakit, maka tikus segera memberi tanda bahaya berupa sinyal kimiawi bahwa umpan tersebut tidak boleh dimakan, sehingga tikus lainnya tidak akan memakan umpan tersebut hal inilah yang biasa disebut “jera umpan”.

“Jika waktu kematian diperlama hingga seminggu dan tidak ada efek sakit terhadap tikus (sakit dalam waktu dekat), tikus lain tidak akan curiga dan ramai ramai ikut memakan Rodentox,” ujar Dr. Wahyu.

Keunggulan lain dari Rodentox adalah Rodentisida ini memiliki unique selling point, diantaranya efektif digunakan tanpa membuka kemasan serta tidak membuat jera umpan. Dengan demikian, tikus tidak sadar bahwa sedang memakan racun tikus. Aroma racun pun diciptakan untuk disukai tikus.

Rodentox juga aman bagi manusia. Racun ini memiliki penawarnya (antidotum), yaitu vitamin K. Jika racun ternyata dimakan oleh bukan target, seperti hewan peliharaan atau bahkan manusia, maka proses pengobatannya cukup dengan meminum tablet vitamin K, dengan meminum vitamin K, maka pemakan racun akan terhindar dari kematian.

Lebih lanjut Dr. Wahyu menjelaskan, setelah 3-4 hari tikus memakan “Rodentox”, tikus akan merasa tidak berdaya. Formula khusus dalam Rodentox membuat tikus keluar mencari cahaya dan mencari sumber air, seperti sungai, selokan, ataupun kamar mandi. Maka, tidak jarang tikus akan mati di tempat-tempat yang dekat dengan sumber air atau di tempat yang penuh cahaya.

Produk “Rodentox” ini juga jauh lebih efektif dibanding racun tikus lainnya. Racun cukup diletakkan di tempat yang menjadi jalur aktivitas tikus tanpa membutuhkan tempat umpan. Prosesnya juga sangat mudah, yaitu dengan hanya menekan beberapa titik ferporasi dari kemasan luar “Rodentox”, lalu tikus akan langsung memakan racun berikut kemasan luarnya.

Didanai Pemerintah

Saat ini, penelitian yang dilakukan Dr. Wahyu telah mendapat hibah Riset Andalan Perguruan Tinggi dan Industri (RAPID) dari Dikti selama tiga tahun. Melalui penelitian ini, Dr. Wahyu mengembangkan produk Formula Rodentisida Multi Aroma dan Rasa, Serta Inovasi Kemasan Berpori yang merupakan pengembangan dari produk Rodentox. Produk ini dikembangkan dengan menambahkan beberapa keunggulan lainnya, diantaranya mengembangkan formula rodentisida agar bangkai tikus tidak mengeluarkan bau menyengat.

Produk rodentisida yang sedang dikembangkan ini nantinya  dapat digunakan sebagai racun untuk segala jenis hama tikus. Dr. Wahyu menjelaskan, satu batang kemasan Marit memiliki empat aroma dan rasa berbeda di setiap bagiannya. Satu batang Rodentox dapat ampuh membunuh hingga 10 tikus.

“Kalau rasa dan aromanya dipisah, umpan  ini berhasil disukai segala jenis hama tikus. Tapi kalau dicampur dan disatukan jadi satu, maka rasa dan aroma umpan tersebut jadi aneh dan tidak disukai oleh tikus,” ujar Dosen kelahiran Kuningan, 20 Juli 1961 tersebut.

Hasil uji coba “Marit” melalui Laboratorium Hama Sublab Vertebrata Hama Faperta Unpad menunjukan hasil yang signifikan. Produk ini juga telah diuji oleh beberapa perusahaan pest control untuk mengendalikan tikus rumah dengan hasil yang memuaskan.

Produk “Rodentisida plus-plus” ini juga tengah dikerjasamakan dengan sektor industri. Bersama CV. Bintang Asri Arthauly, Dr. Wahyu tengah mengembangkan produk hingga siap dipasarkan ke masyarakat. Diharapkan, produk ini dapat menjawab berbagai keinginan masyarakat akan produk racun tikus yang efektif, efisien, inovatif, dan aman.

“Diharapkan dengan produk ini, populasi hama tikus di Indonesia berada di bawah ambang yang tidak merugikan untuk manusia. Lingkungan sehat, tanaman pangan pun akan terlindungi,” kata Dr. Wahyu.

Kiat Terhindar dari Tikus Rumah

Rumah menjadi tempat favorit tikus untuk tinggal dan mencari makan. Sebagai hewan mamalia omnivora, tikus juga menyukai makanan yang dimakan manusia. Tidak heran jika tikus mampu memakan beras, ataupun bahan makanan lain yang terserak di sekeliling rumah.

Nah, Dr. Wahyu pun memiliki beberapa kiat agar si hewan berkumis ini tidak betah tinggal di rumah kita. Kiat pertama, pastikan untuk menyimpan makanan di tempat yang tidak bisa dijangkau dan digigiti tikus. Sebagai contoh, simpanlah beras di tempat penyimpanan dengan tingkat kekerasan geologi di atas 5,5. Sebab, tikus mampu menggigit properti dengan tingkat kekerasan geologi maksimal 5,5.

Jangan biarkan remah bekas makanan berserakan di lantai. Sediakan tempat sampah yang berkualitas yang ada tutupnya. Tempat sampah terbuka kemungkinan akan menjadi sumber makanan tikus dan menjadi penarik tikus lain untuk masuk ke rumah.

Kiat kedua, pastikan tidak ada tempat air tergenang di rumah. Buanglah secara teratur air yang biasanya tergenang di belakang kulkas. Tutup rapat-rapat segala sumber penyimpanan air. Buang apabila ada tempat yang digenangi air. Pelihara juga wastafel dan tempat cuci piring jangan sampai bocor, serta biasakan mengeringkan percikan air dengan lap setelah mencuci tangan atau piring.

Kiat ketiga yaitu pastikan rumah selalu dalam keadaan bersih dan rapi. Bersihkan tumpukan barang bekas yang rentan menjadi sarang tikus. Hindari ada ruangan atau gudang yang minim cahaya matahari atau lampu, karena tikus merupakan hewan nokturnal sehingga menyukai tempat-tempat yang remang.

Kiat terakhir Dr. Wahyu menjelaskan, sebagai hewan yang selalu bergerak, tikus bisa bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Tutuplah akses yang bisa dilalui tikus dari area luar ke dalam rumah dengan smen atau ram kawat. Untuk mempercepat meminimalkan populasi tikus yang sudah berada di rumah dapat digunakan rodentisida, lem tikus, atau perangkap.*

 

Laporan oleh Arief Maulana