Dr. Reiza D. Dienaputra, M.Hum., Ingin Menjadi Pelopor Sejarah Visual di Indonesia

[Unpad.ac.id., 26/10/2012] Sejarawan konvensional biasanya melakukan rekonstruksi sejarah berdasarkan sumber-sumber tertulis, seperti dokumen atau teks. Hal ini disebabkan kesamaan anggapan oleh para sejarawan yang menganggap apabila tidak ada sumber tertulis, maka tidak ada sejarah, sehingga dalam perkembangannya muncul aksioma yang dikembangkan oleh mereka yaitu, “no document no history”.

Dr. Reiza D. Dienaputra, M.Hum. (Foto: Tedi Yusup)

Namun, tidak bagi Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unpad yang juga Dosen pada Program Studi Ilmu Sejarah, Dr. Reiza D. Dienaputra, M.Hum. Menurutnya, saat ini dunia sudah memasuki era paperless culture, yaitu sebuah zaman dimana tradisi menulis di atas kertas bisa dikatakan “punah”. Perkembangan Teknologi Informasi yang demikian pesat membuat tradisi menulis di atas media kertas kini beralih kepada media elektronik.

“Apabila sejarawan masih berpikir kalau sejarah hanya bisa direkonstruksi melalui sumber tulis, bisa jadi ke depan sejarah sudah tidak punya bahan apa-apa,” ungkapnya ketika ditemui di ruang kerjanya di kampus FIB Unpad, Jatinangor beberapa waktu lalu.

Saat ini ia tengah mengembangkan metode Visual History (Sejarah Visual), yaitu metode rekonstruksi sejarah dengan berdasar pada sumber-sumber visual, seperti foto, visual, atau film (dokumenter, fiksi, atau berita di media elektronik). Hal inilah yang belum dilirik oleh sejarawan di Indonesia, pada khususnya.

“Sementara, perkembangan Teknologi Informasi memperlihatkan bahwa sumber visual itu begitu kaya sekali, terutama sumber-sumber sejarah yang ada di media elektronik. Inilah yang perlu dicermati oleh para sejarawan,” Dr. Reiza menjelaskan.

Keterbatasan pemahaman mengenai Sejarah Visual inilah yang menyebabkan belum banyak sejarawan yang berkecimpung dalam metode ini. Sebab, sejarah visual memerlukan bantuan dari ilmu sosial dan humaniora lainnya, seperti ilmu komunikasi yang digunakan untuk mengkaji apakah suatu sumber visual tersebut merupakan asli atau manipulasi, dan juga ilmu seni rupa dan desain yang dengan teori elemen visualnya digunakan untuk membedah sumber-sumber seperti foto atau lukisan.

“Hal itulah yang menyebabkan para sejarawan dahulu tidak bisa membedah sumber-sumber visual, sebab tidak ada teori dan metode yang bisa digunakan. Dengan bantuan ilmu-ilmu tersebut, akan menjadikan sejarah visual akan tampil lebih komprehensif,” ujarnya.

Apa yang dihasilkan dari Sejarah Visual? Mengacu pada sumber visual, ada dua capaian yang bisa dihasilkan melalui metode ini, yakni tekstual dan murni visual. Tekstual, merupakan hasil rekonstruksi dari analisis yang dilakukan terhadap sumber-sumber visual yang ada lalu dituangkan ke dalam media tulisan, sedangkan murni visual ialah hasil rekonstruksi yang dilakukan lalu dituangkan ke dalam media visual juga, contohnya film.

Dilihat dari minat, publik sendiri tentunya akan lebih menikmati produk sejarah berupa film daripada buku. Sebab, film akan jauh lebih menarik kontennya dibanding buku teks, ada unsur hiburan bercampur edukatif di dalamnya. Namun, Dr. Reiza pun tidak membantah apabila suatu buku sejarah yang banyak unsur visualnya juga akan menjadi menarik. Hal ini disebabkan, adanya sumber visual dalam sejarah, pembaca akan terhanyut dalam imajinasi yang terukur, sehingga seolah-olah sumber visual merupakan mesin waktu untuk mengajak pembaca merasakan apa yang terjadi di masa lampau.

“Saya yakin apabila sejarah tampil dalam bentuk nonkonvensional, sejarah akan tampil jauh lebih menarik,” tegasnya optimis.

Perlahan tapi pasti, sejarah visual akan menjadi metode rekonstruksi sejarah baru di Indonesia. Ia pun memelopori sejarah visual di Unpad dengan menerapkannya pada mata kuliah di Program S1 Ilmu Sejarah, yakni Sejarah Visual dan Metode Sejarah Visual. Berdasarkan pengamatannya, belum ada Program Studi Ilmu Sejarah lainnya di Indonesia yang memiliki dua mata kuliah tersebut. Sehingga, ke depannya Unpad sendiri akan menjadi Pusat Kajian Sejarah Visual, yang diharapkan pula akan menjadi lokomotif pengembangan Sejarah Visual di Indonesia.

“Ke depan saya harapkan di Ilmu Sejarah, tugas akhir mahasiswa sudah bukan lagi skripsi, tapi bisa berupa film sejarah, dalam artian merupakan representasi sejarah visual. Dan saya kira apabila sejarah tampil seperti itu, sejarah menjadi ilmu yang menarik untuk diteliti orang,” harapnya.

Bagaimanapun, usaha Dr. Reiza untuk memajukan ilmu Sejarah khususnya di Indonesia patut dibanggakan. Sebab, peran sejarawan yang serius berkecimpung dalam sejarah visual masih terbilang sedikit. Peran Dr. Reiza tersebut tak lepas dari rasa cintanya yang dalam terhadap ilmu sejarah.

Sejarah mengajarkan manusia menjadi dewasa dan bijak karena apa yang mengajarkan masa lalu yang menjadi cerminan bagi masa kini ataupun di masa yang akan datang. Itulah yang menjadi titik awal Dr. Reiza untuk selalu mengembangkan Ilmu Sejarah, sebuah ilmu yang akan selalu lahir dan berkembang selama peradaban kehidupan terus bergulir.*

Laporan oleh Arief Maulana/mar