Henny Suzana Mediani, M.Ng., PhD., “Keperawatan Anak Berpusat pada Keluarga dan Pencegahan Trauma”

[Unpad.ac.id, 5/09/2016] Keluarga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan anak. Dengan demikian, apabila seorang anak menderita suatu penyakit dan memerlukan perawatan di  rumah sakit (hospitalisasi), anak dan keluarga merupakan fokus utama dalam proses perawatan. Hal ini yang membedakan proses keperawatan anak dengan keperawatan pada umumnya.

Henny Suzana Mediani, M.Ng., PhD. (Foto oleh: Dadan T.)*

Henny Suzana Mediani, M.Ng., PhD. (Foto oleh: Dadan T.)*

“Keperawatan anak adalah asuhan keperawatan pada anak yang berpusat pada keluarga dan upaya pencegahan trauma pada anak,” ujar Dosen Fakultas Keperawatan Unpad, Henny Suzana Mediani, M.Ng., PhD.

Menurut Henny, ada dua aspek yang menjadi filosofi keperawatan anak. Pertama, aspek family center care. Filosofi ini memperkenalkan keluarga sebagai suatu kehidupan yang konstan, dimana individu dalam keluarga harus saling mendukung, menghargai, hingga meningkatkan kekuatan dan kompetensi dalam memberikan asuhan terhadap anak. Aspek ini yang harus dipahami dengan baik oleh seorang perawat.

Henny menjelaskan, secara pskilogis, berbagai tindakan invasif, misalnya tindakan pembedahan atau pemasangan infus  akan menyebabkan  anak akan merasa nyeri,  cemas, bahkan ketakutan. Perasaan cemas dan ketakutan tersebut akan juga dirasakan baik oleh keluaganya, terutama orang tuanya.

Di dalam aspek family center care  terdapat dua konsep penting yaitu konsep enabling dan empowering. Konsep enabling, kata Henny, memandang bahwa keluarga punya andil dalam asuhan yang diberikan. Perawat harus melibatkan keluarga dalam pemberian asuhan perawatan agar memenuhi kebutuhan anak maupun keluarga secara umum.

Pada konsep empowering, dosen lulusan program Doktor di School of Nursing Faculty of Health Science Curtin University Australia ini menjelaskan, perawat dapat melibatkan keluarga dalam hal pengambilan keputusan terhadap tindakan yang akan dilakukan. Keterlibatan keluarga dibutuhkan mengingat anak selalu membutuhkan orang tua ketika berada dirumah sakit.

Selain itu, hubungan keluarga dengan tenaga kesehatan selama anak berada di rumah sakit juga sangat diperlukan. Fasilitasi anak dengan keluarga oleh perawat dapat membantu proses penyembuhan anak, sehingga kebutuhan keamanan dan kenyamanan bagi keluarga dan anak dapat diperhatikan.

Sementara aspek kedua yaitu  a traumatic care yaitu asuhan keperawatan yang tidak menyebabkan trauma pada anak. Seorang perawat anak harus mampu memberikan asuhan keperawatan terapeutik melalui pelaksananaan intervensi keperawatan. Intervensi ini untuk mengurangi pengalaman yang tidak menyenangkan terhadap anak dan keluarga.

Perawat juga harus memandang bahwa anak merupakan individu yang unik. Perawat harus menjaga anak jangan sampai mengalami trauma. Asuhan yang diberikan kepada anak pun seminimal mungkin jangan membuat anak menjadi trauma.

Agar lebih mendukung proses penyembuhan anak, Henny menyarankan agar sebisa mungkin kontak orang tua dengan anak jangan terpisah. Orang tua diusahakan untuk terus berada di samping anak. Ini dilakukan agar anak minimal tidak mengalami trauma karena berada di tempat asing dan jauh dari orang tua.

Saran ini juga dilakukan bagi anak yang dirawat di ruang perawatan khusus. Henny yang pernah bekerja sebagai Kepala Ruangan Bedah Anak RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung ini mendorong perawat untuk memberikan kesempatan lebih bagi orang tua untuk selalu kontak dengan anak.

“Perawatan di ruang intensif itu berbeda dengan di ruang biasa. Ini akan membuat anak menjadi lebih trauma. Perawat harus memberi kesempatan lebih banyak pada orang tua. Kalau misalnya ada intervensi yang bisa dilakukan orang tua, lakukanlah oleh orang tua, misalnya saat proses memandikan dan mengelap klien, orang tuanya diikutkan,” papar dosen kelahiran Bogor, 1 Januari 1965 tersebut.

Konsep inilah yang belum banyak dipraktikkan di rumah sakit Indonesia. Selain keterlibatan orang tua, rumah sakit juga harus mendukung proses perawatan anak. Henny menuturkan, ruang rawat anak sebaiknya dirancang seolah-olah bukan berada dalam ruang perawatan. Dekorasi ruang rawat yang ramah anak, penyediaan fasilitas bermain diantaranya penting diupayakan agar beban trauma anak dapat berkurang.

“Kalau konsep ini diaplikasikan dalam pemberian asuhan keperawatan , anak yang dirawat di RS akan berkurang rasa traumanya. Trauma yang berkepanjangan itu tidak baik, anak bisa mengalami post traumatic stress diorder (stres karena trauma yang berkepanjangan),” jelasnya.

Tingkatkan Komunikasi Terapeutik
humas-unpad-2016_09_05-henny-sm-2-dadanPerawat juga menjadi sektor krusial dalam meminimalkan trauma pada anak. Perawat di bagian anak harus memiliki kemampuan komunikasi terapeutik yang lebih luwes ketimbang perawat di bagian umum. Hal ini diperlukan karena anak merupakan individu yang unik. Komunikasi tersebut akan mendorong anak lebih percaya kepada perawat.

“Kalau anak tidak punya rasa kepercayaan (miss trust) kepada perawat, itu akan sulit bagi kita (perawat) melakukan pendekatan dan tindakan tertentu,” kata Henny.

Kemampuan komunikasi dan pendekatan yang baik  juga dibutuhkan agar anak tidak mengalami trauma pada saat dilakukan tindakan. Anak sebisa mungkin tidak fokus pada tindakan yang dilakukan. Perawat harus lihai mengalihkan perhatian sang anak atau melakukan distraksi agar nyeri/trauma yang timbul pada proses tindakan tidak terlalu kentara.

Namun, sebagai individu yang unik, tidak semua perawat melakukan komunikasi yang sama kepada anak. Henny menuturkan, karena tahap tumbuh kembang yang berbeda, perawat anak harus punya strategi dalam melakukan komunikasi dan pendekatan kepada tiap kliennya.

“Ada istilah ‘nursing is knowledge, nursing is art’.  Artinya keperawatan itu sebagai suatu ilmu juga keperawatan sebagai suatu seni. Sebagai suatu seni, ada kiat-kiat yang harus dipahami dan dilakukan oleh  perawat dalam menghadapi anak,” ujar Wakil Dekan bidang Perencanaan, Sistem Informasi, Tata Kelola, dan Sumber Daya Fakultas Keperawatan Unpad tersebut.

Spesialis Keperawatan Anak
Jika dibandingkan dengan negara maju perkembangan keperawatan anak di Indonesia masih jauh tertinggal, meskipun saat ini sudah mulai ada perubahan yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Henny mengungkapkan, perawat anak di luar negeri memiliki latar pendidikan khusus di bidang spesialisasi keperawatan anak. Sedangkan di Indonesia sebagian besar masih merupakan lulusan keperawatan umum (nurse generalis).

“Kalaupun ada yang lulusan spesialis keperawatan anak, biasanya banyak lari bekerja ke sektor pendidikan,” ujar dosen yang telah lama bergelut di bidang kajian keperawatan anak ini.

Di Indonesia, program Spesialis Keperawatan Anak sendiri baru dibuka di Universitas Indonesia. Ini tentunya mendorong Henny untuk membuka program studi Spesialis Keperawatan Anak di Unpad. Saat ini, di Unpad sudah berjalan program Magister Keperawatan dengan peminatan Magister Keperawatan Anak, program ini dimulai sejak tahun 2015.

Rencana ini diharapkan terealisasi di tahun mendatang. Saat ini, pihaknya tengah menyiapkan pembukaan program studi Spesialis Keperawatan Kritis dan Komunitas di Unpad mulai semester depan. Selanjutnya diharapkan program Spesialis Keperawatan Anak juga dapat dibuka.

“Ini memang jadi kebutuhan. Kuncinya untuk peningkatan pelayanan kesehatan, bukan untuk pendidikan. Bagaimana meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit,” pungkas Henny.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh