Muchtaridi, PhD, Apt., Hasilkan Bahan Baku Obat Herbal dari Buah Manggis

[Unpad.ac.id, 19/04/2017] Sejak beberapa tahun terakhir, popularitas manggis semakin meningkat. Manggis pun menjadi salah satu komoditas ekspor yang paling banyak di Indonesia dan acapkali dimanfaatkan sebagai obat herbal. Meski demikian, produksi manggis sebagai bahan baku obat  herbal terstandar di Indonesia masih terbilang minim.

Dosen Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Muchtaridi, Ph.D., Apt .

Dosen Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Muchtaridi, Ph.D., Apt ., mengungkapkan, meski Indonesia kaya akan produksi buah manggis, Indonesia masih kalah dengan China dan Amerika Serikat jika dilihat dari sediaan senyawa aktif sebagai bahan baku obat herbal. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara terbesar pengekspor manggis jika dibandingkan China dan Amerika Serikat.

“Ini sebenarnya peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan ekstrak kulit manggis untuk makanan atau untuk pharmaceutical. Jadi ekspornya tuh jangan hanya dalam bentuk buah manggisnya saja, tetapi juga dalam bentuk produknya,” kata Muchtaridi yang fokus di bidang drug design & delivery.

Dalam berbagai penelitiannya, Muchtaridi berupaya untuk menghasilkan sediaan bahan baku obat herbal, salah satunya dari manggis. Diantaranya adalah Pure Gartanin. Gartanin merupakan salah satu senyawa aktif yang ada di ekstrak kulit manggis. Sejumlah senyawa aktif yang terkandung dalam kulit manggis diyakini kaya akan antioksidan dan sangat baik untuk kesehatan sebagai anti kanker payudara dan anti influenza.

Diharapkan Pure Gartanin hasil produksi Muchtaridi bersama sejumlah peneliti Unpad ini dapat memenuhi kebutuhan ekspor. Sebelumnya, Muchtaridi juga telah merancang Pure Mangostin sebagai sediaan bahan baku obat sekaligus pemenuhan kebutuhan ekspor.

“Saya tergugah untuk membangun kemandirian bahan baku ini, karena Indonesia selama ini, bahan baku obat 90% impor. Tentu peneliti Indonesia seharusnya ketika dia mengeluarkan obat baru, maka dia harus memikirkan juga bahan bakunya,” kata Kepala Departemen Analisis Farmasi dan Kimia Medisinal Fakultas Farmasi Unpad ini.

Menurut Muchtaridi, saat ini banyak produk ekstrak kulit manggis di pasaran yang tidak memiliki standar baku. Padahal, manfaat ekstrak kulit manggis akan didapat jika dikonsumsi dalam dosis yang tepat.

Ia pun menekankan agar tidak sembarangan mengonsumsi ekstrak kulit manggis. Banyak masyarakat yang salah dalam mengolah kulit manggis, seperti merebus  atau menjadikannya serbuk tanpa dosis yang tepat. Jika masyarakat ingin mengonsumsi kulit manggis sebagai obat, maka cara yang paling tepat adalah merendamnya dengan air hangat selama sekitar 15 menit. Untuk memelihara kesehatan, air ekstrak kulit mangis cukup diminum satu kali sehari.

Muchtaridi menjelaskan bahwa jika terlalu banyak mengonsumsi atau salah dalam pengolahannya, manggis justru berbahaya bagi tubuh, termasuk menimbulkan toksisitas hingga mengakibatkan kanker.

“Oleh karena itu harus ada dosis. Kalau produk kami kan dosisnya berdasar  ilmiah, bukan empirik. Dosisnya berapa kadar senyawa aktif yang memberikan toksisitas terhadap sel, terhadap tubuh. Nah, kita sudah teliti itu,” katanya.

Selain sediaan bahan baku obat, penelitian yang dilakukan Muchtaridi juga menghasilkan Tablet Hisap Mangosten Anti Influenza, yang terbuat dari ekstrak kulit manggis dan asam gelugur. Muchtaridi sendiri memfokuskan sebagai anti influenza, karena senyawa aktif pada kulit manggis dinilai sangat efektif menangkal virus influenza, termasuk flu burung (H5N1) dan flu babi (H1N1). Penelitian lainnya adalah edible film dari buah manggis sebagai anti influenza dan anti obesitas.

Berbagai penelitian tersebut saat ini tengah memasuki tahap uji pre-klinik, dan selanjutnya akan didaftarkan sebagai obat herbal terstandar sebagai anti influenza dan obesitas. Selain itu, Muchtaridi bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Nanoteknologi Unpad untuk membuat nano partikel α-mangostin dan gartanin sebagai anti influenza dan anti kanker payudara.

Manggis yang digunakan Muchtaridi dalam penelitiannya merupakan hasil produksi para petani manggis binaan Unpad di Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya. Pembinaan petani manggis ini sendiri diketuai Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Ir. Warid Ali Qosim, M.P.

Ke depannya, Muchtaridi pun berkeinginan agar Unpad dapat semakin dikenal dengan penelitian-penelitian herbalnya. Ia mengungkapkan, saat ini sudah banyak penelitian lintas disiplin ilmu di Unpad yang berkaitan dengan herbal.

“Saya ingin mengangkat herbal, tetapi secara modern dan ilmiah. Bukan hanya sebagai jamu, tetapi fitofarmaka,” ujar  pria kelahiran Palembang, 2 Juni 1974 ini.

Teknik Komputasi

Dalam merancang obat baru dari herbal, Muchtaridi lebih banyak menggunakan teknik komputasi.  Dengan teknik ini, ia berusaha membuat berbagai model sebagai tahap awal dalam perancangan obat. Penelitian yang ia lakukan membuktikan bahwa konsep komputasi sangat membantu dalam perancangan dan penghantaran obat.

Menurut Muchtaridi, teknik komputasi dapat mepercepat dan mempermudah perancangan obat baru. Selain itu, biaya yang dibutuhkan juga lebih sedikit.

“Komputasi ini mempercepat proses dan mengurangi dana penelitian untuk  menemukan obat baru,” ujar Muchtaridi.*

Laporan oleh Artanti Hendriyana/am