Prof. Dr. Cece Sobarna, M.Hum., “Ada Tinggalan Sejarah di Balik Nama Suatu Wilayah”

[unpad.ac.id, 23/4/2018] Nama suatu tempat mungkin dihiraukan bagi sebagian orang. Namun, bagi Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Cece Sobarna, M.Hum.,  nama tempat atau toponimi memiliki catatan sejarah yang tidak bisa dipisahkan dari wilayahnya.

Prof. Dr. Cece Sobarna, M.Hum. (Foto: Tedi Yusup)*

“Nama (toponimi) itu merupakan pintu gerbang untuk menelisik apa yang terjadi di daerah itu secara historis dan secara geologis,” ujar Prof. Cece. Sejak 2015 melalui skema penelitian Academic Leadership Grant (ALG) Unpad, Prof. Cece telah meneliti mengenai toponimi di Pangandaran dan kawasan Geopark Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat. Penelitian juga dilanjutkan hingga wilayah Banyumas, Jawa Tengah.

Guru besar bidang Linguistik ini mengatakan, toponimi bukan sekadar penanda suatu wilayah. Di balik nama itu ada rekaman peristiwa, sejarah, lingkungan, dinamika budaya, geologi, hingga magis yang pernah terjadi. Cara ini digunakan nenek moyang untuk menamai suatu wilayah tertentu.

Seiring perkembangan zaman, nama itu menjadi identitas yang tidak terpisahkan dalam diri manusia. Setiap manusia melekat dua identitas utama, yaitu nama diri dan nama asal wilayahnya. Untuk itu, memahami makna dari toponimi merupakan upaya untuk memperkuat identitas manusia.

Jawa Barat sendiri menyimpan banyak nama tempat yang menarik untuk digali. Dari penelitian yang dilakukan, Prof. Cece menemukan adanya keidentikan masyarakat Sunda yang menggunakan beragam unsur alam dalam toponimi. Salah satu unsur alam yang kerap digunakan adalah air.

Guru besar yang lahir di Bandung, 28 Juli 1964 ini menjelaskan, air atau dalam bahasa Sunda disebut cai sangat lekat dalam kehidupan masyarakat Sunda. Ini disebabkan, wilayah Sunda banyak dialiri sungai sehingga  menjadi salah satu sumber kehidupan bagi masyarakatnya.

Kata cai ini kemudian dilekatkan dengan unsur alam ataupun peristiwa yang terjadi di suatu wilayah tersebut. Misalnya, toponimi Ciletuh diambil dari kata ci– (cai) dan –letuh (kotor). Ini didasarkan di wilayah tersebut ada aktivitas penambangan liar yang menyebabkan banyaknya aliran air kotor hasil penambangan.

Contoh lain yaitu toponimi desa Cikangkung di Kabupaten Sukabumi. Konon, di wilayah itu banyak ditemukan tanaman kangkung. Ada pula toponimi Cibadak yang kemungkinan dahulunya banyak ditemukan hewan badak, dan lain sebagainya.

Toponimi berawalan ci- ini hampir mendominasi di seluruh wilayah Jawa Barat dan sebagian ditemukan di Jawa Tengah bagian barat. Bahkan toponimi unsur-unsur air lainnya seperti rawa, leuwi (lubuk/cekungan dalam di sungai), ranca (rawa), dan balong (kolam) juga banyak ditemukan. Hal ini menandakan bahwa nenek moyang Sunda sangat peduli akan alam sekitarnya.

“Orang Sunda sudah sadar akan ekologinya. Untuk itu, unsur alam ini diabadikan dalam sebuah nama,” kata Prof. Cece.

Selain mengandalkan unsur alam, toponimi wilayah Sunda juga lekat dengan rekaman peristiwa yang melatarbelakanginya. Prof. Cece memaparkan, nama Gua Santirah di Pangandaran diambil dari peristiwa terbunuhnya seorang ronggeng bernama Santirah di gua tersebut. Di wilayah lain bernama Pulau Kunti, suatu pulau di selatan Sukabumi, didasarkan adanya kepercayaan bahwa pulau tersebut dihuni oleh makhluk halus sejenis kuntilanak.

Menginjak tahun ke-4 penelitian toponimi, Prof. Cece melakukan ekspansi penelitian di wilayah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Ini disebabkan, wilayah Banyumas dan beberapa wilayah di bagian barat Jawa Tengah pada zaman dahulu masuk ke dalam wilayah kerajaan Sunda.

Di Banyumas, Prof. Cece menemukan toponimi yang kuat dipengaruhi bahasa Sunda, seperti Cireang, Cipancur, Cukangawi, hingga Cibrewek yang terdapat di Desa Dermaji. Ia pun dengan tegas meminta aparatur desa untuk tetap mempertahankan toponimi Sunda ini sebagai salah satu khazanah kebudayaan Jawa Tengah.

“(Wilayah) ini jangan diganti dengan bahasa Jawa. Saya yakinkan bahwa nama-nama ini merupakan tinggalan sejarah yang bisa memperkaya kebudayaan di Jawa Tengah,” kata Prof. Cece.

Tidak Sembarang Bisa Diganti

Toponimi yang sudah lazim di masyarakat tidak sembarang bisa diganti. Adanya pembangunan masif di Jawa Barat acapkali memberikan toponimi baru. Padahal, seperti yang dijelaskan, toponimi merupakan sebuah identitas yang merekam banyak catatan sejarah.

Upaya mempertahankan toponimi lokal harus menjadi perhatian pemerintah provinsi. Prof. Cece menilai, pemerintah jangan mudah tergiur dengan pembangunan yang ujung-ujungnya menggusur masyarakat. Secara psikologis, ada relasi batin antara masyarakat dan wilayah yang telah lama ditempatinya.

“Masyarakat Sunda harus punya keterikatan dengan daerahnya, jangan mudah terusir. Ini dibutuhkan pemimpin yang bisa meyakinkan masyarakatnya untuk tetap mempertahankan tanah leluhurnya. Kalau sudah menjadi bangunan beton mau dikembalikan ke alam lagi kapan? Jangan sampai habis oleh pembangunan,” paparnya.

Prof. Cece juga mengkritik toponimi baru di beberapa wilayah yang menggunakan bahasa asing. Padahal, bahasa Indonesia maupun daerah memiliki nilai estetika yang lebih baik. Lagi-lagi, pemerintah juga berperan dalam penguatan bahasa lokal.

“Harus diubah pemikiran kita. Seharusnya bahasa lokal lebih bergengsi daripada bahasa asing. Revolusi mental harus menjangkau pada penggunaan bahasa nusantara dan daerah,” ungkapnya.

Jadi Penelitian Menarik

Walaupun baru memulai meneliti toponimi sejak 2015, Prof. Cece telah lama meneliti tentang sistem penamaan Sunda. Selama ini toponimi lebih dikaitkan dengan studi kebumian/geografi. Dari sana, Prof. Cece kemudian meneliti toponimi dari unsur kebahasaan dan sejarah yang terkandung di dalamnya.

Jangan dipandang bahwa studi toponimi merupakan studi yang main-main. Di tingkat global, studi ini menjadi suatu kajian serius yang dilakukan oleh berbagai bidang ilmu. Bahkan, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah membentuk badan khusus bernama United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN) yang bertugas memberikan rekomendasi mengenai standar penamaan suatu wilayah.

Di tingkat FIB Unpad, toponimi menjadi kajian yang mulai diteliti banyak mahasiswa, mulai dari Sarjana hingga Doktor. Prof. Cece mengatakan, mahasiswa tinggal mengkaji mengenai toponimi tiap-tiap daerahnya sebagai penelitian akhir.

Hasil penelitian ini diharapkan memperkaya khazanah kebudayaan setiap wilayah di Jawa Barat. Semakin banyak toponimi yang terungkap, diharapkan semakin banyak pula masyarakat yang mengenal sejarah tempat tinggalnya.

Jika wawasan ini kemudian mengakar menjadi identitas yang tidak terpisahkan dalam diri seseorang, niscaya berbagai warisan nenek moyang Sunda akan tetap terjaga. “Global boleh, tetapi harus tetap mengakar di bumi,” pungkas Prof. Cece.*

Laporan oleh Arief Maulana