Prof. Dr. Erri Noviar Megantara, M.S., “Geoarea Ciletuh Menyimpan Berbagai Jenis Spesies Langka”

[unpad.ac.id, 16/05/2017] Kawasan geoarea Ciletuh selain menyimpan potensi geologi juga menyimpan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Berbagai spesies langka dan endemik Pulau Jawa teridentifikasi di kawasan ini. Uniknya, spesies ini ditemukan di lahan-lahan budidaya milik masyarakat.

Guru Besar FMIPA Unpad Prof. Dr. Erri Noviar Megantara, M.S. (Foto: Tedi Yusup)*

Penemuan berbagai spesies terkategori langka, terancam punah, endemik, dan dilindungi (REEPS) di kawasan geoarea Ciletuh ini merupakan hasil penelitian Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unpad Prof. Dr. Erri Noviar Megantara, M.S. Penelitian yang dilakukan mencoba mengidentifikasi kategori spesies di luar kawasan konservasi.

Sebagai wilayah yang kaya dengan tinggalan geologi, Prof. Erri berasumsi keanekaragaman hayati di geoarea Ciletuh juga akan beragam. “Kita ingin tahu, masih ada tidak hewan yang sudah kritis dan dilindungi. Ternyata setelah kita teliti, kita menemukan hewan-hewan langka masih berada di sana, terutama di lahan-lahan budidaya,” ujar Prof. Erri saat diwawancarai Humas Unpad beberapa waktu lalu.

Secara keseluruhan, Prof. Erri dan tim melalui skema penelitian Academic Leadership Grant (ALG) Unpad menginventarisasi 81 spesies burung, 24 spesies mamalia, 11 spesies amfibi, dan 19 spesies reptil. Dari jumlah tersebut, 44 spesies diantaranya terkategori satwa REEPS, diantaranya macan, elang jawa, owa jawa, kukang, surili, hingga trenggiling.

Penelitian tersebut dilakukan pada wilayah sekitar amfiteater raksasa di kecamatan Ciemas. Secara teknis, tim memasang kamera jebak di beberapa lokasi yang dinilai menjadi jalur aktivitas satwa. Hasilnya, beberapa satwa langka sesekali terlihat melintasi kebun-kebun warga.

“Jika kita menemukan ini di daerah konservasi, mungkin sudah suatu keniscayaan. Tetapi di lahan-lahan budidaya, ini yang menjadi unik,” ujar Prof. Erri.

Kecamatan Ciemas yang termasuk dalam geoarea Ciletuh berada pada kawasan dataran rendah. Temuan satwa langka ini diduga disebabkan masih ditemukannya sisa-sisa hutan. Alih fungsi lahan oleh masyarakat membuat beberapa hewan beradaptasi dengan perubahan lingkungannya. “Selama tidak diganggu, satwa memungkinkan beradaptasi,” tambah Prof. Erri.

Hasil penelitian Prof. Erri dan tim kemudian dipublikasikan dalam bentuk buku “Biodiversity Ciletuh: Sekilas Diversitas Hayati & Sebaran REEPS (Rare, Endangered, Endemic, & Protected Species)”.

Lebih lanjut guru besar yang lahir di Bandung, 3 November 1957 ini mengungkapkan, selama ini belum ada publikasi resmi terkait identifikasi keanekaragaman hayati di kawasan Ciletuh. Setidaknya ia menemukan dua eksplorasi awal di Ciletuh, yakni sekitar 1923 oleh orang Belanda dan medio 1970-an. Namun, data publikasi dua penelitian tersebut sangat sulit ditemukan.

Tidak adanya kebaruan informasi membuat Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PPSDAL) Unpad ini tergerak untuk melakukan penelitian di Ciletuh. Selama ini, masyarakat Ciemas masih mengira-ngira kemungkinan adanya satwa REEPS di kawasan mereka. “Padahal setelah kita teliti ternyata masih ada,” imbuhnya.

Keberadaan sejumlah satwa REEPS ini mengundang pertanyaan besar bagi peneliti. Apakah satwa tersebut merupakan spesies terakhir penghuni Ciletuh? Bagaimana kearifan lokal masyarakat Ciletuh dalam melestarikan keberadaan satwa itu? Bagaimana kondisi satwa langka di kawasan Ciletuh lainnya?

“Ini membutuhkan penelitian lanjutan,” kata Prof. Erri.

Keberadaan hewan REEPS tentunya mendukung upaya pengajuan geoarea Ciletuh menjadi Global Geopark versi UNESCO. Keanekaragaman hayati ini bukan hanya baik dari segi konservasi, tetapi juga berpotensi secara wisata.

Saat ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah mengembangkan kawasan Geopark Ciletuh sebagai destinasi wisata kelas dunia. Prof. Erri mengatakan, jika keanekaragaman hayati ini dipertahankan, bisa menjadi salah satu tujuan wisata di Ciletuh, selain wisata geologi dan budaya.

“Serupa dengan Pangandaran, selain ke pantai, orang akan berkunjung ke cagar alamnya. Di Ciletuh juga demikian,” ujar Prof. Erri.

Namun, potensi ini perlu dibarengi perhatian dari Pemerintah. Rencana pengembangan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu harus tetap memperhatikan faktor keseimbangan lingkungan. Jangan sampai rencana pembangunan untuk menunjang kawasan geopark malah justru merusak potensi tersebut.

Sebagai contoh, saat ini Pemprov tengah membangun sejumlah infrastruktur penunjang beberapa destinasi di wilayah geoarea. Seharusnya, perencanaan pembangunan infrastruktur harus mengintegrasikan berbagai riset yang dilakukan oleh para peneliti. Salah-salah, pembangunan justru menghilangkan spesies REEPS.

“Padahal perencanaan pembangunan yang baik itu, berbagai persoalan lingkungan dipetakan dulu, baru dibangun infrastruktur. Jangan sampai pembangunan mengakselerasi alih lahan,” kata Prof. Erri.

Meski demikian, upaya Pemprov dalam mendukung geopark Ciletuh-Palabuhanratu menjadi global geopark harus disambut positif. Jika nanti sudah ditetapkan, pemerintah mesti konsisten dalam memperhatikan geopark Ciletuh. Sebab, UNESCO akan melakukan evaluasi geopark setiap lima tahun sekali. Evaluasi berkala ini bertujuan agar pemerintah konsisten mengelola kawasan geopark secara berkelanjutan.*

 

Laporan oleh Arief Maulana