Prof. Dr. Ida Parwati, dr., Sp.PK(K), PhD, “Tuberkulosis Menjadi Masalah Kesehatan yang Belum Tuntas”

[unpad.ac.id, 23/5/2019] Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Ida Parwati, dr., Sp.PK(K), Ph.D, menjadi salah satu peraih hibah untuk penelitian penyakit menular dari skema Newton Fund. Perolehan hibah ini merupakan kerja sama Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI dengan Departemen Bisnis, Energi, dan Strategi Industri Pemerintah Inggris.

Prof. Dr. Ida Parwati, dr., Sp.PK(K), Ph.D. (Foto: Tedi Yusup)*

Dalam penelitiannya mengenai Tuberkulosis (TB), Prof. Ida akan berkolaborasi dengan Prof. Taane Clark dari The London School of Hygiene and Tropical Medicine (LSTHM), Inggris.

“Sampai saat ini belum ada metode laboratorium untuk mendiagnosis tuberkulosis  yang  dapat membedakan TB aktif dan TB yang laten dengan sensitivitas yang tinggi,” ujar Prof. Ida saat ditemui di Departemen Patologi Klinik Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Selasa (21/5).

Penelitian tersebut akan dilakukan mulai 2019 selama tiga tahun,  dengan judul riset “Using host-responses and pathogen genomics to improve diagnostics for tuberculosis in Bandung, Indonesia”.

Penelitian difokuskan untuk mencari penanda atau biomarker respons pejamu untuk kemudian dibuat dalam skoring risiko TB. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam mengidentifikasi TB sejak dini dan meningkatkan pemantauan saat pengobatan.

“Tujuannya adalah menemukan skoring risiko, untuk mengetahui pasien mana yang berisiko tidak sembuh dan yang akan sembuh, dengan melihat transkriptom-nya,” jelas Prof. Ida.

Proses penelitian yang dilakukan Prof. Ida akan berfokus di Bandung. Proses diawali dengan mengambil sampel darah penderita TB, baik yang sudah resisten maupun yang belum resisten terhadap obat anti tuberkulosis.

“Sampel darah pasien TB akan diambil sebelum pengobatan,  kemudian diikuti selama 6 bulan pengobatan, dalam kurun waktu itu akan dilakukan  empat kali pengambilan darah untuk dilakukan RNA sequencing dari transkriptom-nya,” jelas Guru Besar Patologi Klinik FK Unpad ini.

Lebih lanjut Prof. Ida menjelaskan, pemeriksaan terhadap pasien dan uji di laboratorium akan dilakukan di Indonesia. Kemudian dilanjutkan analisis hasil RNA sequencing menjadi risk score oleh Prof. Taane Clark di Inggris.

“Tentu saja harapan dalam penelitian ini kami mendapatkan ilmu yang baru, tetapi juga di akhir penelitian ini semoga kita betul-betul mendapatkan penanda yang penting untuk diagnosis TB yang aktif, kemudian menjadikannya skoring risiko terhadap luaran TB, sehingga ke depan pengelolaan pasien-pasien TB akan lebih baik dan lebih tepat,” harapnya.

Masih Tinggi

Lebih dari 30 tahun Prof. Ida memiliki perhatian khusus pada penanganan TB. Selain mengobati pasien, penyuluhan kepada masyarakat pun telah dilakukan. Berbagai penelitian mengenai TB juga telah dilakukan dan dipublikasikan di sejumlah jurnal internasional serta didiseminasikan pada berbagai kegiatan ilmiah di sejumlah negara.

“Saya melihat TB ini menjadi masalah kesehatan, yang dari dulu sampai sekarang belum tuntas,” ujar Prof. Ida.

Perempuan yang kini juga menjabat sebagai South East Asia Director for World Association of Pathology and  Laboratory Medicine ini mengungkapkan, hingga saat ini angka kematian akibat TB masih tinggi. Berdasarkan laporan  WHO tahun 2018, Indonesia berada di posisi ketiga di dunia untuk angka penderita TB.

Dikatakan Prof. Ida, salah satu tantangan yang dihadapi dalam proses penyembuhan TB adalah lamanya masa pengobatan. Dalam waktu minimal 6 bulan, pasien diharuskan untuk teratur minum obat.

Kadangkala pasien merasa bosan atau merasa sudah sehat sehingga memutuskan untuk berhenti minum obat. Hal ini menyebabkan berkembangnya bakteri TB yang  resisten obat yang  mengakibatkan penyakit lebih sulit untuk ditangani.

“Karena tidak dilanjutkan minum obat, bakteri yang masih ada di tubuhnya belum mati semua,  yang resisten obat akan berkembang semakin banyak.,” ujarnya.

Menurut Prof. Ida, penanganan TB sebaiknya bukan hanya oleh sektor kesehatan. Kolaborasi multi sektor sangat diperlukan untuk menanggulangi penyakit tersebut.

Pada sektor ekonomi misalnya, peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi faktor penting dalam penanggulangan TB. Masyarakat yang sejahtera diharapkan dapat tinggal di tempat yang layak agar bakteri penyakit tidak banyak berkembang dan menular.

Prof. Ida menjelaskan bahwa untuk mencegah TB, masyarakat perlu tinggal di rumah yang terjaga sirkulasi udara, air, dan cahaya. Tempat tinggal yang kumuh atau berada di daerah padat penduduk, sangat rentan terhadap  penularan TB.

Selain itu, masyarakat juga penting untuk menjaga pola hidup sehat, seperti makan makanan sehat dan tidak merokok. Etika batuk pun perlu diajarkan sejak anak-anak, sehingga masyarakat sejak dini sudah terdidik dalam pencegahan menyakit menular.

Prof. Ida juga menyayangkan jika masih ada penderita TB yang dikucilkan oleh masyarakat. Padahal, mereka sangat butuh dukungan dan pendampingan. Apalagi pengobatan TB yang cukup lama membuat dukungan dari lingkungan sekitar sangat diperlukan.

Ia pun berharap TB tidak lagi menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia. “Inginnya sih penyakit TB ini cepat terdeteksi dan segera ditanggulangi. Mungkin suatu saat ditemukan  obat yang tidak perlu dimakan dalam jangka waktu lebih pendek  dari yang sekarang 6 bulan ini, supaya  pasien patuh makan obatnya,” harapnya.*

Laporan oleh Artanti Hendriyana/am