Prof. Dr. Ir. Warid Ali Qosim, MP, “Budidaya Manggis di Indonesia Masih Minim Teknologi”

[Unpad.ac.id, 28/06/2016] Julukan “Queen of tropical fruit” tepat disandang untuk buah manggis (Garcinia mangostana L.). Betapa tidak, buah asli Indonesia ini menjadi komoditas ekspor paling tinggi dibanding buah segar lainnya. Selain terkenal dengan rasanya yang manis dan segar, manggis juga kaya akan senyawa xanthone yang berkhasiat bagi kesehatan.

Prof. Dr. Ir. Warid Ali Qosim, MP (Foto oleh: Dadan T.)*

Prof. Dr. Ir. Warid Ali Qosim, MP (Foto oleh: Dadan T.)*

“Manggis merupakan buah lokal yang eksotik, memiliki banyak khasiat, dan memiliki banyak manfaat baik sebagai buah segar maupun bahan baku obat,” ujar Prof. Dr. Ir. Warid Ali Qosim, M.P., Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran sejak 2001 hingga sekarang meneliti buah manggis.

Sejak 1990-an, permintaan pasar dunia akan Buah manggis dari Indonesia sangat tinggi. Manggis biasanya diekspor ke Tiongkok, Hongkong, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, hingga merambah ke benua Eropa. Meskipun manggis juga ditanam di wilayah Malaysia dan Thailand, pasar tetap memilih komoditas manggis Indonesia. Prof. Warid mengatakan, hal ini didasarkan atas buah manggis Indonesia yang masih organik.

Buah manggis tumbuh hampir di setiap wilayah di Indonesia. Di Jawa Barat sendiri, sentra produksi manggis tersebar di wilayah Subang, Wanayasa (Purwakarta), Sukabumi, Leuwiliang (Bogor), dan Puspahiang (Tasikmalaya). Setiap wilayah menghasilkan karakteristik buah tersendiri, misalnya, di Purwakarta menghasilkan buah yang berukuran jauh lebih besar, sementara di Puspahiang memiliki rasa yang lebih manis.

Dari segi teknik budidaya, manggis Indonesia masih menganut teknik yang sudah dikembangkan sejak lama, yaitu masih ditanam untuk  konservasi bukan diarahkan pada sistem perkebunan. Prof. Warid mengatakan, teknik budidaya manggis di Indonesia masih minim teknologi. Hal inilah yang menjadi obyek penelitian oleh Prof. Warid terkait teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas si “ratu buah” ini.

Adapun ragam teknologi yang dihasilkan Prof. Warid diantaranya teknologi yang bisa mempercepat proses pembungaan. Buah manggis menurutnya memiliki sistem perakaran yang kurang baik. Selain itu lama fase juvenil (fase dimana pohon pertama kali berbuah sejak ditanam) terhitung lama, yaitu mencapai sepuluh tahun.

“Dengan teknologi budidaya ini diharapkan dapat memperbaiki sistem perakaran dan mempercepat fase juvenil. Teknologi ini menggunakan zat pengatur tumbuh IBA antara 50 – 100 ppm, serta proses memperpendek fase juvenil dari 10 ke 7 tahun menggunakan metode grafting (cangkokan) mata tunas ke induknya,” papar Guru Besar kelahiran Indramayu, 7 Mei  1966 tersebut.

Bersama dengan dosen lintas disiplin ilmu di Unpad, Prof. Warid mengetuai penelitian terkait Manggis dalam program Academic Leadership Grant (ALG) yang menjadi program unggulan Unpad. Beberapa dosen yang terlibat dalam penelitiannya yaitu Dr. Dwi Purnomo, S.TP., M.T., (FTIP), Muchtaridi, S.Si., M.Si., Apt., (Farmasi), Dr. rer. nat. Ir. Suseno Amien (Pertanian), Dr. Ir. Dini Rochdiani, M.P., (Pertanian), Dr. Darwati, M.Si., (Kimia) dan Dr. Denny Sobardini, MS. (Pertanian).

humas unpad 2016_06_22 Prof Warid 2 DADANPenelitian tersebut berjalan selama empat tahun. Pada tahun pertama, pihaknya melakukan karakterisasi tanaman manggis berdasarkan karakter morfologi buah dan senyawa xanthone sebagai pohon  induk . Menurut Prof. Warid, selama ini bibit untuk dijadikan tanaman manggis masih sembarang. “Kita memilih pohon-pohon induk untuk bisa dijadikan pembibitan. Dengan pemilihan pohon induk  akan berpengaruh pada kuantitas dan kualitas buahnya sehingga dapat digunakan untuk proses pengolahan selanjutnya,” kata penulis buku “Manggis, Kegunaan, Budidaya, Agribisnis, dan Pengolahan” yang diterbitkan di Graha Ilmu ini.

Sentra produksi di Puspahiang sendiri menjadi daerah  binaannya Unpad untuk melakukan penelitian terkait manggis. Dari penelitian tersebut, Prof. Warid telah menghasilkan beberapa produk uji coba yang bisa dikomersialkan, seperti jus buah manggis dan jus kulit manggis.

Bahan Baku Obat
Selain dikonsumsi sebagai buah segar, manggis juga diburu karena banyaknya khasiat yang terkandung di dalamnya. Kandungan ini terdapat di seluruh bagian manggis, diantaranya kulit, buah, dan biji.

Dosen Departemen Budidaya Pertanian ini menuturkan, manggis kaya akan senyawa xanthone yang banyak terdapat di dalam kulit manggis. Senyawa ini memiliki kandungan sebagai antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh, seperti anti peradangan, anti kanker, anti alergi, anti malaria suplemen herbal, hingga mampu meningkatkan daya tahan tubuh bagi penderita HIV.

Senyawa xanthone hanya dihasilkan dari genus garcinia saja, belum ditemukan dari tanaman lain. Selain tanaman manggis, Prof. Warid sedang mengkaji senyawa xanthone  dan turunannya dari  kerabat liar manggis, antara lain Garcinia dulcis (tanaman mundu), Garcinia atroviridis (asam gelugur) yang memiliki turunan xanthone yang spesifik yang  tidak kalah pentingnya dalam bidang kesehatan.

Kulit manggis diekstrak kemudian dilakukan isolasi hingga terbentuk menjadi gartanin murni, dan alfa mangostin yang berguna untuk anti kanker. Hasil isolasi inilah yang banyak dipakai perusahaan farmasi sebagai bahan baku obat herbal.

“Kebutuhan pasar akan bahan baku obat cukup tinggi, karena memang perusahaan obat membutuhkan senyawa herbal. Meskipun sekarang banyak beredar obat dari kandungan kulit manggis,  tetapi belum banyak yang diuji secara farmakologi. Kebanyakan obat di luar itu bukan hasil ekstrak tetapi serbuk murni kulit manggis.  Harusnya kalau dalam farmasi, itu harus diekstrak dulu. Habis diekstrak kemudian diisolasi,” papar Prof. Warid.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh