Prof. Dr Sofie R. Krisnadi, dr., Sp.OG(K), “Infeksi Merupakan Salah Satu Penyebab Kematian Utama Ibu Hamil.”

[Unpad.ac.id, 25/02/2017] Kejadian Ketuban Pecah Dini (KPD/ ketuban pecah sebelum timbulnya persalinan) pada ibu hamil di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, masih tinggi. Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2012, satu dari enam ibu hamil di Indonesia mengalami KPD, dan  sepertiga diantaranya mengalami persalinan preterm. Salah satunya penyebab KPD adalah infeksi genital yang seringkali dianggap sepele oleh ibu hamil.

Prof. Dr Sofie R. Krisnadi, dr., Sp.OG(K) (Foto oleh : Tedi Yusup)*

Prof. Dr Sofie R. Krisnadi, dr., Sp.OG(K) (Foto oleh : Tedi Yusup)*

“Banyaknya KPD pada ibu hamil di Indonesia, antara lain karena ibu-ibu hamil sering  tidak menyadari bahwa dia mempunyai  infeksi,” kata Guru Besar Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan Fakultas Kedokteran Unpad, Prof. Dr. dr. Sofie R. Krisnadi, SpOG(K).

Prof. Sofie mengungkapkan, banyak ibu hamil yang menganggap keputihan selama kehamilan merupakan hal wajar, padahal keputihan tersebut dapat menjadi tanda infeksi akibat bacterial vaginosis (BV) atau infeksi lainnya . Infeksi tersebut mungkin saja sudah dialami sebelum masa kehamilan.

“BV itu penyebab persalinan preterm  dan ketuban pecah dini yang paling sering,” kata Kepala Pusat Studi Kesehatan Reproduksi FK Unpad ini.

Prof. Sofie menjelaskan, insidensi keputihan karena bacterial vaginosis pada perempuan usia reproduktif sekitar 40-60%. Infeksi bacterial vaginosis  seringkali tidak bergejala sehingga kurang diperhatikan. “Tidak bergejala bukan berarti tidak berpenyakit,  sehingga dokter harus memeriksa keberadaan BV yang dilakukan saat ibu hamil memeriksakan diri untuk pertama kalinya, jadi baik dokter maupun pasien harus aware terhadap infeksi ini” kata Prof. Sofie.

Adapun bacterial vaginosis sendiri disebabkan ketidakseimbangan mikroorganisme  pada vagina, karena konsentrasi bakteri “baik” yang dapat menjaga kesehatan  vagina menghilang atau menjadi  lebih sedikit  daripada bakteri komensal  yang tumbuh berlebihan sehingga menjadi patogen. Ada banyak pemicunya, seperti douching, tidak langsung membersihkan vagina setelah berhubungan seks, hingga cara membersihkan organ kewanitaan  yang salah.

“BV ini paling sering terjadi, karena keseimbangan kumannya berubah. Kuman yang baiknya hilang, sehingga kuman yang jahatnya itu menjadi menonjol, berlipat ganda,” jelas Prof. Sofie.

Penjalaran kuman dari vagina menuju rahim dapat terjadi karena hubungan seksual.  Sperma akan membawa kuman tersebut  ke dalam rongga rahim dan kuman akan menempel pada selaput ketuban. Beberapa bulan kemudian selaput ketuban melemah dan dapat pecah. Pecahnya ketuban menyebabkan tidak adanya   barier untuk infeksi menjalar ke janin, sehingga janin dan rahim ibu dapat terinfeksi.

“Bahkan karena sekitar sepertiganya terjadi pada kehamilan kurang bulan maka akan lahir bayi prematur dengan segala konsekuensinya. Bayi prematur organ-organnya belum matang, sehingga risiko cacat, kebutaan, gangguan tumbuh kembang serta intelektualnya meningkat, bahkan kematian,” jelas Prof. Sofie yang mendalami Fetomaternal ini.

Lebih lanjut Prof Sofie mengungkapkan, hubungan seks suami istri saat hamil memang diperkenankan, namun pada kasus BV atau keputihan lainnya , suami harus menggunakan kondom agar sperma tidak memasukkan kuman penyakit yang akan melemahkan selaput ketuban.

Di Indonesia, penggunaan kondom bagi pasangan suami istri pun masih dianggap tabu atau janggal. Ini disebabkan kondom hanya  dianggap sebagai pelindung dari penyakit menular seksual atau pencegah kehamilan. Padahal, pemakaian kondom saat berhubungan seksual  akan mencegah masuknya kuman ke dalam rahim sehingga dapat menurunkan angka kejadian KPD termasuk persalinan preterm.

“Jadi sampai saat ini persepsi  masyarakat atau suami terhadap kondom  masih berkonotasi  buruk, sehingga mereka tidak suka memakainya atau malu membelinya, padahal menggunakan kondom itu melindungi janin dari infeksi,” ujar Prof. Sofie.

Untuk itu, edukasi menyeluruh dari tenaga medis terkait bahaya infeksi  BV terhadap potensi pecah ketuban dini diperlukan agar kesadaran masyarakat semakin meningkat. Komunikasi antara tenaga medis ke masyarakat pun terkadang menjadi tidak efektif karena banyaknya kebiasaan buruk masyarakat yang sulit dihilangkan.

Menurut Prof. Sofie, peristiwa pecah ketuban dini bukan hanya berpotensi melahirkan bayi prematur dan infeksi  pada janin, juga pada ibu dapat terjadi infeksi intrauterin yang  berat dan dapat menyebabkan sepsis sampai kematian ibu, terutama kalau ibu hamil tidak menyadari ketubannya sudah pecah lama.

“Kepedulian masyarakatnya sendiri kurang, karena keputihan  yang dianggap hal biasa,” kata Prof. Sofie.

Perempuan kelahiran Jakarta, 23 Desember 1948 ini menyebutkan, infeksi merupakan salah satu penyebab kematian utama ibu hamil, selain hipertensi dan pendarahan. Bukan hanya infeksi BV, ibu hamil juga dapat mengalami infeksi lain seperti infeksi karena malaria, TBC, sipilis, dan sebagainya.

Dengan demikian, Prof. Sofie menekankan bahwa pengetahuan ibu hamil mengenai perilaku sehari-hari perlu ditingkatkan. Perilaku ini termasuk dalam hal menjaga pola makan dan menjaga kebersihan diri.  Ia pun menganjurkan, termasuk kepada ibu yang sedang tidak hamil, untuk rajin melakukan Pap’ smear minimal satu tahun sekali, untuk mengetahui ada tidaknya infeksi mulut rahim dan deteksi dini kanker serviks. Kanker serviks merupakan kanker terbanyak kedua yang menyerang wanita Indonesia  setelah kanker payudara. Pemeriksaan Pap’ smear  gratis bagi para peserta BPJS.

“Banyak hal-hal yang sepertinya sepele, tetapi tetap harus dipikirkan dengan baik,” pungkas Prof. Sofie.

Laporan oleh: Artanti Hendriyana