Prof. Dr. Yosini Deliana, Ir., M.S: Mangga untuk Keberlanjutan Lingkungan

[unpad.ac.id, 4/12/2019] Melalui integrasi tridarma perguruan tinggi, guru besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Hj. Yosini Deliana, Ir., M.S. mengembangkan berbagai produk olahan mangga. Ia ingin meningkatkan kebermanfatan dari setiap bagian tanaman tersebut untuk masyarakat.

Prof. Dr. Hj. Yosini Deliana, Ir., M.S. (Foto: Arief Maulana)*

“Ternyata dari mangga itu menarik, ya, karena bisa dibuat berbagai produk olahan dari mangga.  Membuat produk olahan ini ternyata bisa in line antara pendidikan-pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” ujar Prof. Yosini saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Dalam penelitiannya, Prof. Yosini dan tim berupaya meningkatkan nilai tambah mangga dengan mengolahnya menjadi berbagai produk olahan mangga, seperti camilan mangga kering (dried mango), kerupuk dari kulit mangga, hingga tepung untuk bahan baku mie atau kue yang dibuat dari biji mangga.

Prof. Yosini dan tim juga mengembangkan berbagai produk wewangian mangga dari mangga kuweni. Menurutnya, saat ini tidak banyak produk wewangian yang berasal dari bahan natural. Padahal, produk natural diyakini lebih baik untuk kesehatan. Pewangi mangga dapat dimanfaatkan sebagai campuran untuk sabun padat maupun sabun cair.

Dikatakan Prof. Yosini, peningkatan nilai tambah mangga perlu dilakukan untuk membantu meningkatkan pendapatan masyarakat khususnya ibu-ibu di sentra produksi mangga. Ketika musim mangga antara bulan Agustus hingga November mangga berlimpah, namun harga mangga sangat rendah sehingga petani merugi.

“Dengan adanya pengolahan mangga ini diharapkan dapat menjadi penghasilan tambahan bagi keluarga khususnya untuk kalangan ibu-ibu.  Selain itu dengan adanya pengolahan mangga menjadi dried mango, masyarakat dapat mengkonsumsi mangga pada saat tidak musim mangga,” ujarnya.

Pengolahan buah mangga, khususnya mangga cengkir menjadi dried mango dilakukan Prof. Yosini bersama dua dosen FTIP Unpad, Endah Wulandari, S.T.P., M.Si., dan Asri Widyasanti, S.T.P., M.Eng.  Produk ini sudah dijual ke masyarakat dan mendapatkan apresiasi yang positif dari para penikmat mangga. Walaupun demikian, timnya masih mengembangkan kualitas dari dried mango ini supaya lebih luas pemasarannya.

Selain itu, melalui pengabdian kepada masyarakat, Prof. Yosini membina masyarakat Desa Jembarwangi dan Darmawangi, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang.  Prof. Yosini dan tim membina masyarakat agar pada saat mangga berlimpah, dapat dijadikan produk yang memiliki nilai tambah. Edukasi juga dilakukan dalam hal pengemasan, promosi, hingga penjualan.

Dosen Agribisnis Faperta Unpad ini juga kerap melakukan pembinaan di sejumlah lokasi lain yaitu di Desa Majakerta, Kecamatan Balongan dan Desa Krasak, Kecamatan Jatibarang, Indramayu.

“Ada rasa puas ketika membantu masyarakat mendapatkan income tambahan. Saya senang membina ibu-ibu di desa,” ungkap Prof. Yosini.

Melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan secara integratif tersebut, Prof. Yosini dapat lebih mudah dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran bagi mahasiswanya. Ia memberikan materi perkuliahan seperti: motivasi berwirausaha, rencana bisnis, tahapan start up bisnis,  strategi pemasaran, pemasaran hijau  dan lainya.  Materi-materi tersebut dapat diberikan secara langsung dengan menunjukan hasil dari kegiatan riset dan pengabdian kepada masyarakat.

 Green Marketing

Salah satu fokus kajian Prof. Yosini saat ini yaitu mengenai konsep green marketing. Berbegai kegiatan penelitian, pengabdian kepada masyarkat, diarahkan untuk pengembangan konsep tersebut.

“Salah satu aktualisasi dari green marketing  adalah mengurangi sampah plastik yang melibatkan produsen sampai dengan ke konsumen. Saat ini produk yang dihasilkan  banyak dikemas oleh (bahan) plastik yang tidak ramah lingkungan,” jelas guru besar bidang Ilmu Ekonomi Pertanian ini.

Penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang pernah ia lakukan di antaranya membuat kertas dari batang pohon pisang, atau ia sebut banana paper. Selain mengurangi limbah pisang, kertas tersebut diciptakan untuk mengurangi sampah plastik melalui konsep green packaging. Pengembangan penelitian pun terus dilakukan.

Menurut Prof Yosini, jika dikembangkan lebih lanjut, biji mangga bisa dijadikan pengental untuk edible film (plastik organik).  Plastik organik ini merupakan salah satu green packaging.

Green packaging bisa dibuat dari berbagai bahan, misalnya dari eceng gondok, rami, alang-alang rumput, kulit kayu dan lainnya, nanti dicoba dari batang mangga, akar mangga atau daun mangga,” ujarnya.

Menurut Prof. Yosini, salah satu hal yang penting diperhatikan dalam pengembangan konsep green marketing adalah mengenai perilaku konsumen. Untuk mengarahkan masyarakat pada konsep tersebut, dibutuhkan edukasi yang tepat. Masyarakat perlu diarahkan agar mereka mau dan mencintai produk-produk yang ramah lingkungan.

“Kenapa saya tertarik kesitu, saya ingin lebih ramah lingkungan, save our earth, save our life dari bidang yang saya pahami,” tuturnya.*

Laporan oleh Artanti Hendriyana/am