Sri Yusnita Irda Sari, dr., M.Sc., Kembangkan Prototipe Penyaring Air Banjir Menjadi Air Siap Minum

[Unpad.ac.id, 06/03/2017] Banjir merupakan salah satu bencana yang paling sering terjadi di Indonesia. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut hingga Januari 2017 tercatat sekitar 31,3% bencana di Indonesia diakibatkan oleh banjir. Tidak sedikit masyarakat dirugikan akibat bencana ini.

dr. Sri Yusnita Irda Sari, M.Sc. (Foto oleh : Tedi Yusup)*

dr. Sri Yusnita Irda Sari, M.Sc. (Foto oleh : Tedi Yusup)*

Krisis air bersih setidaknya menjadi satu masalah utama yang dihadapi masyarakat terdampak banjir. Kontaminasi air oleh berbagai limbah dan sampah yang terbawa saat banjir menyebabkan masyarakat sulit mendapatkan air bersih untuk minum ataupun kebutuhan sehari-hari. Namun, bantuan air bersih kepada masyarakat terkadang mengalami kesulitan lantaran sulitnya akses menuju lokasi terdampak.

Kondisi ini menggugah Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unpad, dr. Sri Yusnita Irda Sari, M.Sc., untuk mencari solusi mendapatkan air bersih secara murah, efektif, dan efisien. Ia menilai, bantuan logistik berupa air galon maupun mineral untuk korban terdampak banjir tidak efektif.

“Kita tahu, (kapasitas) air galon/mineral botol seperti itu jumlahnya sedikit, penyalurannya agak sulit jika aksesnya terputus. Sampah yang dihasilkan dari botol bekas pakai justru akan membuat masalah baru,” ujar Sri saat ditemui di Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Bandung, Senin (06/03).

Berangkat dari kondisi tersebut, Sri melalui Pusat Studi Teknologi Kesehatan FK Unpad bekerja sama dengan PT. Holland for Water selaku pembuat saringan air bermerek “Nazava” mengembangkan prototipe alat penyaring air yang mampu mengubah air banjir/ tercemar menjadi air layak minum. Prototipe teknologi bertajuk “Telaga (Teknologi Pelepas Dahaga)” ini mampu menjawab kebutuhan penyediaan air bersih untuk masyarakat terdampak secara murah, efektif, dan efisien.

Secara sederhana, prototipe yang dikembangkan merupakan pengembangan dari alat yang sudah ada di pasaran, yaitu menggunakan filter keramik tulip sebagai salah satu penyaringnya. Bedanya, Sri membuat 6 tahapan penyaringan sekaligus sehingga kualitas air yang difiltrasi lebih jernih dan bebas kuman.

Cara kerja dari prototipe ini ialah menggunakan prinsip gravitasi. Air kotor dimasukkan ke dalam kontainer 1 untuk disaring oleh filter anti lumpur. Selanjutnya, air kembali disaring oleh zat karbon aktif untuk kemudian disimpan ke dalam kontainer 2. Pada kontainer 2, air kembali disaring oleh filter keramik tulip sehingga menghasilkan air yang benar-benar layak minum.

Sri mengatakan, filter keramik tulip mampu menyaring partikel air. Jika air pada kontainer 2 masih mengandung berbagai kuman atau zat berbahaya lainnya, tugas keramik inilah yang menyaring air sehingga bebas dari kuman dan siap minum.

Lebih lanjut dosen yang lahir 9 Januari 1978 ini mengatakan, butuh waktu sebulan untuk mengembangkan prototipe “Telaga”. Ia kemudian mengambil sampel air Sungai Cikapundung dan Sungai Citarum untuk diuji coba di prototipe tersebut. Hasilnya, pada pemeriksaan fisik air dari kedua sungai dinyatakan tidak berbau dan tidak berwarna setelah sebelumnya dinyatakan berbau dan berwarna kecoklatan.

Sementara untuk kadar bakteri dalam air, berdasarkan pemeriksaan mikrobiologi kadar bakteri coliform dan e.coli terhadap 80 ml air Sungai Cikapundung setelah difiltrasi dinyatakan nol. Sebelum dilakukan penyaringan, kadar bakteri coliform sebesar 2.100 dan e.coli sebesar 900. Sedangkan kandungan zat kimiawi terlarut di kedua air sungai setelah dilakukan filtrasi mampu hilang hingga 0%.

Sri menghitung, prototipe yang dikembangkannya mampu menampung air kotor sebanyak 40 liter. Proses filtrasi hanya membutuhkan waktu setengah jam. Jika alat ini digunakan untuk konsumsi air bersih bagi 100 pengungsi, maka daya tahan komponen filtrasi mampu bertahan hingga 7 bulan, atau setara dengan 7000 liter air.

Teknologi ini pun tidak memakan biaya yang banyak dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Kelebihan lainnya dari prototipe ini ialah dapat digunakan tanpa aliran listik. Ini tentunya bermanfaat bagi lokasi terdampak yang notabene mengalami pemutusan aliran listrik.

“Kalau tidak ada air, otomatis masyarakat tidak mandi, dan kondisi orang dan tempat tinggal akan menjadi kotor dan menyebabkan segala macam penyakit keluar. Penyediaan air pada masyarskat terdampak sangat penting, baik di pengungsian maupun pasca bencana,” paparnya.

Raih Penghargaan

Prototipe “Telaga” ini pun berhasil meraih juara sebagai salah satu inovasi terbaik Indonesia dalam menghadapi banjir. Adalah organisasi dunia “International Federation of Red Cross and Red Cressent Society” bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia yang mengadakan Lomba Innovation Challenge dengan tema Flood Resilience. Lomba ini diadakan untuk menemukan inovator dari Indonesia yang mempunyai ide dan gagasan yang dapat digunakan oleh masyarakat dalam menghadapi bencana banjir.

telaga-teknologi-pelepas-dahagaPada kompetisi tersebut, sebanyak 9 proposal terbaik di antara 62 proposal yang dikirim diundang pada acara 23-24 Flood Resilience Innovation Conference Februari lalu di Hotel Grand Kemang, Jakarta. Di sini, Sri terpilih menjadi juara III dan mendapat apresiasi dari banyak pihak.

Saat ini, Sri tengah menyelesaikan program Doktornya dengan disertasi terkait kontaminasi air minum dan sanitasi. Ia berharap prototipe ini dapat dikembangkan lebih baik hingga menjadi produk yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

“Ke depannya, jika memungkinkan kami akan buat proposal penelitian yang lebih baik, kemudian bisa cari funding untuk bisa mengembangkan prototipe yang lebih bagus dan bisa benar-benar dipakai di masyarakat,” ujar Sri.*

Laporan oleh Arief Maulana/wep