Tantry Maulina, drg., M.Kes., PhD, “Semoga Unpad Bisa Pelopori Orofacial Pain Center di Indonesia”

[Unpad.ac.id, 10/11/2014] Untuk mengobati nyeri pada pasien, seorang dokter semestinya tidak hanya berfokus pada tindakan pengobatan secara medis saja, melainkan juga memperhatikan faktor psikologisnya. Hal tersebut penting, mengingat pengobatan nyeri pada pasien melibatkan banyak faktor. Saat ini hal tersebut belum banyak diperhatikan dan berkembang di Indonesia.

Tantry Maulina, drg., M.Kes., PhD saat menerima penghargaan "Best Oral Presentation" pada The 4th Biannual International Multidisciplinary Pain Congress awal Oktober 2014 lalu *

Tantry Maulina, drg., M.Kes., PhD saat menerima penghargaan “Best Oral Presentation” pada The 4th Biannual International Multidisciplinary Pain Congress awal Oktober 2014 lalu *

Adalah Tantry Maulina, drg., M.Kes., PhD, dosen Fakultas Kedokteran Gigi Unpad, salah satu dari sedikit dokter gigi di Indonesia yang mendalami mengenai orofacial pain, yakni nyeri yang dirasakan pada bagian wajah dan rongga mulut. Ia menyebutkan bahwa orofacial pain di Indonesia belum berkembang. Padahal, 90% keluhan orang datang ke dokter dikarenakan nyeri.

Menurutnya, selama ini pada kebanyakan kasus, eliminasi nyeri pada pasien yang datang ke dokter gigi hanya melibatkan tindakan eliminasi nyeri dan sifatnya spesifik. Misalnya pasien dengan gigi berlubang, pengobatannya hanya difokuskan pada penambalan gigi yang terkena nyeri. Padahal, penangananan nyeri melibatkan berbagai aspek, yakni aspek kognitif, motivasional, dan afeksi.

“Ini kurang diperhatikan oleh para praktisi. Misalnya, selain giginya ditambal, aspek-aspek lainnya harus diperhatikan. Jadi sementara pasien dirawat, keluarganya juga diedukasi mengenai pentingnya aspek dukungan dan kasih sayang dari keluarga,” ujar drg. Tantry.

Dari aspek kognitif, pasien yang pengetahuan tentang nyerinya lebih banyak akan lebih cepat mencari pengobatan dibanding pasien yang pengetahuannya kurang. Selain itu, motivasi diri untuk sembuh pun harus kuat untuk mempercepat penyembuhan. Sementara pada aspek afeksi, kasih sayang dari lingkungan sekeliling pasien menjadi faktor pendukung penyembuhan.

“Ada dokter yang sudah paham itu, tapi rata-rata, termasuk saya sebelum mendalami nyeri orofasial, mengobati ya mengobati saja, sudah. Tapi kalau sekarang dari mulai pasien masuk pintu, ketiga aspek tadi sudah saya terapkan,” ungkap staf dokter bedah mulut di FKG Unpad ini.

Dengan penanganan nyeri yang bersifat komprehensif, drg. Tantry meyakini hasilnya akan lebih baik dalam penanganan pasien. Angka kesehatan gigi akan semakin baik, angka kelainan penyakit gigi dan mulut pun akan semakiin turun. Selain akan mempermudah dalam pengobatan nyeri, penanganan seperti ini juga turut berkontibusi dalam tindakan pencegahan.

Perempuan kelahiran Bandung, 2 Maret 1977 ini menyebutkan, ada banyak hal yang mengakibatkan nyeri. Paling banyak, penyebabnya adalah stres. “Ada orang-orang yang ketika stres tidak bisa mengeluarkan stres dan itu bermanifestasi di dalam tubuhnya, salah satunya bisa bermanifestasi ke nyeri. Jadi pasien itu merasakan nyeri, sebenarnya tidak ada gejala klinis yang terlihat. Giginya bagus, gusinya bagus, jaringan dalam pipi bagus, di wajah juga enggak apa-apa, tapi merasakan nyeri luar biasa,” ungkap drg. Tantry.

Ia meyakini bahwa semua dokter gigi harus memiliki kemampuan dalam menangani orofacial pain. Terutama, para dokter yang berhadapan langsung dengan pasien di lapangan. “Harus paham betul bahwa nyeri ini bukan sekedar mengobati si target nyerinya,” ujar drg Tantry yang menyelesaikan studi Doktornya di University of Sydney, Australia.

Terkait orofacial pain ini, drg. Tantry telah membuat sejumlah penelitian dan dipresentasikan di berbagai seminar internasional di sejumlah negara. Pada The 4th Biannual International Multidisciplinary Pain Congress yang digelar 1-4 Oktober 2014 lalu di Belanda, drg Tantry mendapatkan penghargaan sebagai Best Oral Presentation atas penelitiannya yang berjudul “The Relationship between Motor Activity during Experimental Muscle Pain with Psychological Variables”.

Dalam penelitiannya tersebut, drg. Tantry mengkaji mengenai nyeri yang dialami oleh pasien ketika mengunyah, apakah masih bisa berfungsi jika dikaitkan dengan faktor-faktor psikologis. Ia meyakini, faktor psikologis pasien sangat berpengaruh pada kemampuannya menjalankan fungsi (mengunyah).

Ada satu mimpi besar yang sangat ingin drg. Tantry capai. Ia ingin Unpad dapat menjadi universitas pertama yang memiliki Orofacial Pain Center, yakni pusat kajian dan penanganan pasien dengan orofacial pain. Dengan demikian, akan ada lebih banyak lagi yang mengkaji mengenai bidang ini untuk meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut di Indonesia.

“Saya ingin sekali. Mimpi saya besar sekali untuk perkembangan orofacial pain karena cakupannya yang luar biasa luas, melibatkan seluruh bidang kedokteran gigi,” ujarnya.*

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh