Teliti Hoaks, S. Kunto Adi Wibowo, PhD, Raih Hibah Riset dari WhatsApp

[unpad.ac.id, 7/12/2018] Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran S. Kunto Adi Wibowo, M.Comm., PhD, memperoleh hibah riset dari platform WhatsApp. Hibah bertajuk “Whatsapp Research Awards for Social Science and Misinformation” ini mendorong peneliti di seluruh dunia untuk melakukan riset seputar misinformasi dan berbagai hal yang terkait ilmu sosial dari aplikasi pesan WhatsApp.

S. Kunto Adi Wibowo, M.Comm., PhD. (Foto: Tedi Yusup)*

“Mereka ingin ada ilmuwan IT maupun sosial yang bisa berikan alternatif metode untuk memeriksa misinformasi dan efeknya di WhatsApp,” ujar Kunto.

Rekomendasi ini dibutuhkan mengingat terbatasnya kapasitas WhatsApp untuk mengambil data dari percakapan pengguna. Sementara arus informasi yang menyesatkan (fake news/hoaks) sangat mudah dijumpai di WhatsApp maupun berbagai platform media sosial di seluruh dunia. Hal ini membuat WhatsApp berupaya meminimalisasi peredaran misinformasi di perangkatnya.

Hibah riset ini diberikan kepada 20 peneliti di seluruh dunia. Pertengahan November lalu, platform aplikasi percakapan singkat terpopuler di dunia ini telah mengumumkan pemenang hibahnya. Tim peneliti yang diketuai Kunto menjadi salah satu penerima hibah tersebut.

“(Penerima hibah) Yang kebanyakan terpilih fokus di Indonesia, India, Brazil, dan Meksiko. Empat negara ini merupakan negara dengan populasi pengguna WhatsApp terbesar sekaligus negara yang akan dan telah melakukan pemilihan umum,” papar Kunto.

Dalam projek riset ini, Kunto bersama Elizabeth Stoycheff, PhD (Wayne State University), Detta Rahmawan, M.A., (Dosen Fikom Unpad), dan Justito Adiprasetio, M.A., (Dosen Fikom Unpad). Fokus penelitian yang akan dilakukan Kunto dan tim mengenai misinformasi yang muncul selama masa kampanye pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat tahun 2018 serta implikasinya terhadap pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI 2019 mendatang.

Riset ini akan menggunakan metode campuran (mix method) kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif akan memetakan apa yang dilakukan tim pemenangan dua pasangan calon Gubernur/Wakil Gubernur Jabar melalui proses wawancara. Jika memungkinkan, tim juga akan melakukan pemetaan kepada tim media sosial dari tim pemenangan pasangan calon Presiden/Wakil Presiden.

Kunto mengatakan, dua tim pemenangan paslon Gubernur/Wagub yang dipilih berasal dari tim paslon Ridwan Kamil/Uu Ruzhanul Ulum (Rindu) serta tim paslon Ahmad Sudrajat/Syaikhu (Asyik). Dua tim ini dinilai memiliki pergerakan aktif di media sosial.

“Tim Rindu banyak mendapat serangan di media sosial, sementara tim Asyik pergerakan medsosnya terlihat meningkat dalam 2 minggu terakhir sebelum pemilihan. Dua paslon lain, pergerakan di medsosnya hampir tidak kelihatan,” papar Kunto.

Adapun metode kuantitatif akan melakukan survei kepada responden yang merupakan pemilih potensial di wilayah Provinsi Jawa Barat. Jawa Barat menurut Kunto memiliki jumlah pemilih terbesar. Responden berasal dari kelompok usia di atas 17 tahun (pemilih pemula) hingga maksimal berusia 60 tahun.

Projek senilai 50.000 US Dollar ini selesai pada April 2019 mendatang. Tim diharuskan melakukan presentasi di kantor pusat WhatsApp di Amerika Serikat. Hasil penelitian juga akan dipublikasi di jurnal maupun konferensi ilmiah.

“Output bagi WhatsApp berupa rekomendasi untuk meminmalisasi misinformasi dan merekomendasikan fitur yang bisa diterapkan di WhatsApp,” kata Kunto.

Hoaks dan Kecenderungan Share

Misinformasi menjadi fokus penelitian Kunto dalam disertasinya maupun berbagai penelitian yang telah dilakukan. Ada hal menarik yang ditemukan Kunto dari hasil penelitiannya.

Ada beberapa simpulan mengenai mudah tidaknya seseorang mempercayai hoaks. Pertama, semakin terbiasa membaca berita dari media online memengaruhi kemampuan seseorang mengidentifikasi hoaks. Media online yang jadi rujukan tentu saja media yang sudah terverifikasi.

Kedua, semakin besar seseorang mengeluarkan biaya untuk membeli kuota internet, semakin mudah pula untuk mengidentifikasi hoaks. Terakhir, semakin terbiasa seseorang membagikan (sharing) konten dari media sosial menandakan rendahnya kemampuan membedakan hoaks.

“Orang yang sering share informasi biasanya tidak filtering. Mereka tidak punya sensitivitas membedakan hoaks atau tidak,” papar Kunto.

Terkait pemilihan umum, faktor keberpihakan atau fanatisme terhadap salah satu calon tidak terlalu memengaruhi penyebaran hoaks. Faktor pendidikan, usia, dan jenis kelamin juga bukan menjadi pengaruh penyebaran hoaks atau tidak.

Kunto menyebut, masalah kognitif manusia, seperti daya nalar dan faktor kepribadian, menjadi hal yang berpengaruh pada penyebaran hoaks atau tidak. Hal seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di beberapa negara, termasuk dengan dengan tingkat literasi yang tinggi, juga rentan dengan penyebaran hoaks.

Unpad Bisa Jadi Pelopor

Meski hoaks telah menggurita, masih minim penelitian sistematis yang mengangkat masalah ini. Penelitian mengenai motif, efek yang ditimbulkan, hingga faktor-faktor yang bisa mendorong seseorang membedakan hoaks atau tidak belum banyak dilakukan.

Untuk itu, Kunto berharap riset yang dijalankan dengan hibah WhatsApp ini bisa berkelanjutan. Hoaks mungkin tidak bisa hilang. Yang mungkin adalah meminimalisasi penyebaran hoaks. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan penelitian ilmiah.

Selain itu, Kunto juga berharap ada kolaborasi multidisiplin untuk mengatasi masalah hoaks. “(Hoaks) tidak akan selesai dari 1 disiplin ilmu. Unpad punya potensi untuk ke arah sana. Kalau mau mengambil, take a lead, ini akan lebih bagus,” kata Kunto.*

Laporan oleh Arief Maulana