Windy Rakhmawati, M.Kep., PhD: Keperawatan Anak Tingkatkan Kualitas Hidup Anak

Laporan oleh Artanti Hendriyana

Windy Rakhmawati, M.Kep., PhD.*

[unpad.ac.id, 17/6/2020] Anak-anak sangat rentan terinfeksi penyakit. Oleh karena itu, dalam pengasuhan dan perawatan anak semestinya selalu memperhatikan optimalisasi kualitas hidup dan kesejahteraan anak. Perawat anak pun perlu mendorong peran aktif keluarga untuk tercapainya hal itu.

Apalagi di masa pandemi Covid-19 saat ini, perawat anak juga perlu mendorong peran aktif keluarga, terutama orang tua agar anak tidak mudah sakit.

“Perawat anak harus mendorong orang tua untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak,” ujar dosen Fakultas Keperawatan Unpad Windy Rakhmawati, S.Kp, M.Kep., PhD.

Untuk menjaga daya tahan tubuh anak, perlu diberikan makanan bergizi dan rajin berolahraga. Selain itu, dalam mencegah anak terinfeksi Covid-19, Windy menyarankan agar orang tua konsisten menjaga anaknya untuk tetap di rumah, serta mengajarkan anak untuk menerapkan protokol pencegahan Covid-19, seperti sering cuci tangan, etika batuk, menggunakan masker dengan baik, dan jaga jarak dengan orang lain.

Jika harus keluar rumah, anak juga perlu juga diajarkan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan , tidak menyentuh apapun di sepanjang jalan, hingga tidak menyentuh area mata, mulut, dan hidung.

“Kalau anak hanya sakit ringan sebaiknya tunda untuk dibawa ke dokter atau rumah sakit, kecuali kondisi anak yang sudah gawat darurat seperti sesak nafas, kejang, diare dengan dehidrasi, nyeri perut hebat, pendarahan yang terus menerus, demam lebih dari 3 hari, kecelakaan, keracunan, menelan benda asing, dan digigit hewan berbisa,” ujar Windy.

Selama di rumah, anak juga perlu diperhatikan aspek psikologis atau kesehatan mentalnya. Dikatakan Windy, perawat anak harus dapat mendorong orang tua untuk menciptakan lingkungan yang nyaman di rumah dan membuat anak tetap bahagia.

“Misalnya dengan membuat jadwal aktivitas harian bersama anak. Hal ini akan memfasilitasi perkembangan kesehatan mental anak,” ujar Kepala Departemen Keperawatan Anak Fakultas Keperawatan Unpad ini.

Pada kondisi anak dengan orang tua bekerja, terkadang membuat anak harus dititipkan pengasuhannya di penitipan anak/daycare.  Di tengah pandemi yang serba tidak pasti, Windy berharap anak tidak dititipkan dahulu di daycare. Menurutnya, konsep pemahaman anak terutama anak usia balita masih terbatas sehingga cukup sulit untuk melakukan protokol kesehatan dengan baik.

Menurut saya, sebaiknya anak jangan dulu dititipkan di daycare. Kalaupun misalnya ada yang membuka layanannya, daycare tersebut harus benar-benar memfasilitasi pelaksanaan protokol kesehatan,” ujarnya.

Layanan daycare juga harus menjamin para pengasuh dan anak yang dititipkan tidak terinfeksi Covid-19. Diharapkan, daycare dapat melakukan pemindaian/screening terlebih dahulu setiap kedatangan.  Fasilitas makan dan alat bermain wajib dibawa secara personal. Selain itu, menjaga jarak antar anak wajib dilakukan.

Windy menegaskan, secara prinsip pengasuhan anak sehat dimana pun berada seharusnya mempunyai tujuan sama, yaitu optimalisasi kualitas hidup dan kesejahteraan anak. Untuk itu, program daycare harus memperhatikan kebutuhan dasar anak serta memfasilitasi perkembangan anak.

Sistem penerimaan anak yang tinggal di daycare juga harus memperhatikan aspek pencegahan penularan berbagai penyakit pada anak.  Jika tidak, daycare justru menjadi lingkungan yang tidak aman bagi anak.

Peran Keperawatan Anak dalam Tumbuh Kembang

Windy menjelaskan, anak bukanlah miniaturnya orang dewasa yang secara fisik memang lebih kecil dari orang dewasa. Ada beberapa hal yang membedakan dalam merawat anak dengan dewasa.

Anak memiliki keunikan tersendiri berdasarkan fase perkembangannya, dimulai dari usia infant, toddler, prasekolah, sekolah, sampai remaja. Setiap usia perkembangan memiliki karakteristik perkembangan yang menjadi dasar perawat dalam melakukan pendekatan dan asuhan keperawatan pada anak.

Perawat anak dalam melakukan intervensi keperawatan pada anak harus berlandaskan pada prinsip “atraumatic care” dan “family-centred care”.

Jika anak mengalami hospitalisasi, keluarga terutama orang tua harus mendampingi anak dan ikut serta dalam perawatan anak, sehingga kualitas hidup anak pun akan terjaga dengan baik.

Bagi anak yang dirawat di rumah, orang tua dan keluarga harus mendapatkan informasi yang cukup dan diajarkan bagaimana melakukan perawatan anak di rumah.

“Sesuai perkembangannya, usia anak masih bergantung pada keluarga dan pengambilan keputusan pun masih dalam tanggung jawab orang tua. Dengan demikian, perawat anak sebaiknya menjadikan keluarga sebagai partner dalam memenuhi kebutuhan kesehatan anak,” tuturnya.

Jika konsep dan pendekatan keperawatan anak tidak diaplikasikan, kemungkinan saat anak harus menjalani berbagai prosedur perawatan akan mengalami stres, takut, cemas atau muncul masalah psikologis lain. Di sisi lain, anak masih dalam proses maturasi tumbuh kembangnya. Jika anak mengalami gangguan dalam prosesnya, kemungkinan maturasi tumbuh kembang anak pun tidak tercapai.

Windy juga menjelaskan bahwa peran dan fungsi keperawatan anak tidak hanya pada anak sakit. Perawat juga perlu berperan dalam asuhan keperawatan anak sehat dengan berorientasi pada upaya preventif dan promotif.

Penelitian Tuberkulosis pada Anak

Sejak 2008, Windy banyak meneliti terkait tuberkulosis (TB) pada anak. Ketertarikan itu bermula atas keprihatinannya mengingat tingginya angka kasus TB di Indonesia. Populasi anak di Indonesia juga cukup tinggi dan menjadi populasi yang rentan terkena penularan TB.

“Ini merupakan tantangan buat saya untuk bisa berkontribusi dalam upaya menekan peningkatan kasus TB pada anak,” ungkapnya.

Windy menekankan, keterlibatan keluarga sangat penting dalam proses perawatan anak sakit termasuk anak dengan TB atau penyakit infeksi pernafasan lainnya. Dalam perawatan anak dengan TB, keluarga berperan aktif sebagai pendamping minum obat (PMO), yaitu memastikan kepatuhan anak dan mendorong anak untuk minum obat dengan cara, waktu dan dosis yang tepat, serta mendampingi saat anak kontrol dan mendapatkan perawatan.

Keluarga juga harus berperan dalam menyediakan dan mendorong anak untuk mau makan makanan dengan gizi yang seimbang, serta menciptakan lingkungan yang bersih dan aman untuk mencegah penularan TB.

Windy pun berharap keperawatan anak dapat terus berkontribusi dalam meningkatkan derajat kesehatan anak. Perawat anak perlu terus meningkatkan kompetensi dan kemampuan profesionalnya dengan memperhatikan prinsip-prinsip keperawatan anak.

“Untuk penyedia layanan kesehatan atau keperawatan pun semoga bisa terus berkomitmen untuk mendukung penerapan prinsip keperawatan anak dengan memfasilitasi sarana dan prasarana yang child friendly, memfasilitasi kebutuhan bermain yang aman bagi anak, dan memperhatikan rasio perawat dan anak sehingga perawat mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan pendekatan pada anak,” harapnya.(am)*