FEB Unpad Gelar Kuliah Umum Bahas Ekonomi dan Kebijakan Fiskal 2018

[unpad.ac.id, 21/12/2017] Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan Kementerian Keuangan Republik Indonesia menyelenggarakan kuliah umum “Perkembangan Ekonomi Makro dan Kebijakan Fiskal APBN 2018: Pemerataan pembangunan yang Berkeadilan” di Aula Magister Manajemen Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 46, Bandung, Rabu (22/11).

Peneliti Kementerian Keuangan RI Dr. Cornelius Tjahjaprijadi, SE.,MA., saat menyampaikan kuliah umum dengan tema “Perkembangan Ekonomi Makro dan Kebijakan Fiskal APBN 2018: Pemerataan pembangunan yang Berkeadilan” di Aula Magister Manajemen Unpad Jalan Dipati UKur No. 46, Bandung, Rabu (22/11). (Foto: FEB Unpad)*

Kuliah umum ini diisi dengan pemaparan dari Peneliti Kementerian Keuangan RI Dr. Cornelius Tjahjaprijadi, SE., MA. dan moderator dosen FEB Unpad Kodrat Wibowo, Ph.D.

Dalam kesempatan tersebut, Cornelius menyampaikan tentang perkembangan ekonomi terkini. Ia menyebutkan perekonomian dunia saat ini akan terus tumbuh meskipun terdapat beberapa tantangan dan risiko.

Adanya China economic rebalancing, low commodity prices, dan monetary normalization menjadi indikator pertumbuhan ekonomi saat ini. Hal ini dialami pula di Indonesia yang terlihat dari pertumbuhan PDB di kuartal tiga 2017 sebesar 5,06 % . Hal ini disebabkan konsumsi rumah tangga tumbuh stabil dan juga PMTB serta perdagangan internasional tumbuh tinggi.

Konsumsi rumah tangga menurut Cornelius tumbuh relatif stabil karena didukung adanya peningkatan konsumsi di sektor nonpokok seperti transportasi dan hotel restoran. Beberapa kegiatan yang memicu tingginya konsumsi rumah tangga di antaranya adanya hari raya Idul Adha dan kegiatan parpol menjelang Pilkada di beberapa kota besar.

Lebih lanjut Cornelius menjelaskan indikator pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih stabil adalah inflasi terkendali dengan baik. Harga pangan bergejolak dapat dikendalikan dan hal ini mengurangi tekanan inflasi. Inflasi terjaga karena didorong dengan penurunan tekanan pada Administered Price  seperti adanya penyesuaian tarif listrik 2017.

Hal yang membuat bangga adalah naiknya peringkat Indonesia di EODB 2018 . Indonesia naik 19 peringkat dari ranking 91 ke 72. Posisi Indonesia saat ini berada di atas negara Afrika Selatan (82), Qatar (83), India (100), Filipina (113) Argentina (117) dan Brazil (125).

Cornelius juga menyampaikan arah dan strategi kebijakan fiskal 2018. Tema kebijakan fiskal 2018 adalah pemantapan pengelolaan fiskal untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan. Menurutnya tantangan pengelolaan fiskal saat ini adalah mendorong pertumbuhan ekonomi, pengurangan kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan.

Kebijakan pemerintah terkait politik dan hukum jadi sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depannya. “Politik  dan Hukum menjadi penting untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2018 nanti,” tambahnya.

Lebih lanjut disampaikan Cornelius, terkait utang pemerintah Indonesia saat ini diupayakan untuk turun. Pemerintah mengarahkan pembiayaan utang pada kegiatan yang lebih produktif dan efisien, dikelola secara hati-hati dan mempertimbangkan risiko pasar keuangan global dan domestik.*

Rilis: wahd/FEB/am