Persembahan Cinta Mukti Mukti untuk Iwa Koesemasoemantri

Mukti Mukti saat menggelar Konser Musik Cinta Mukti Mukti 2013 bertema “Seribu Bunga Buat Iwa” di Bale Rumawat Unpad, Jumat (31/05) malam (Foto: Tedi Yusup)*

[Unpad.ac.id, 01/06/2013] Kegelisahan, hal itulah yang tergambar dari lagu-lagu penyanyi balada Mukti Mukti. Karya yang dihasilkan adalah lika-liku perjalanan hidup Mukti Mukti semenjak berkuliah di Fakultas Sastra Unpad kurun waktu 1980-an. Tak heran jika banyak kerabat dan pecinta lagu-lagu Mukti Mukti sangat menikmati karya yang dibawakannya pada Konser Musik Cinta Mukti Mukti 2013 Episode: “Seribu Bunga Buat Iwa” di Bale Rumawat Unpad, Jumat (31/05) malam.

Mukti Mukti saat menggelar Konser Musik Cinta Mukti Mukti 2013 bertema “Seribu Bunga Buat Iwa” di Bale Rumawat Unpad, Jumat (31/05) malam (Foto: Tedi Yusup)*

Sebanyak 12 lagu yang dibawakan merupakan interpretasi Mukti Mukti terhadap cinta, protes sosial, serta gerakan perlawanan yang akrab dengan kehidupan mahasiswa kala itu. Lagu-lagu sederhana namun sarat akan makna itu dibawakan dengan penuh rasa cinta. Rasa tersebut lahir dari segala kegelisahan yang ditemui Mukti Mukti selama proses berkeseniannya.

Bukan hanya itu, Mukti Mukti pun membawakan lagu “Seribu Bunga buat Iwa”, sebuah lagu untuk mengenang dan menghormati Rektor pertama Unpad, Prof. Iwa Koesoemasomantri, S.H., yang layak menyandang gelar sebagai Pahlawan Nasional.

“Lagu tersebut dibuat pada tahun 1994, yakni ketika saya bersama mahasiswa Fikom berunjuk rasa menuntut Prof. Iwa menjadi Pahlawan Nasional,” kenang Mukti Mukti yang dikenal sebagai penyanyi yang menolak mainstream tersebut.

Lagu itu pun diangkat menjadi tema dalam konser musiknya kali ini. Hal tersebut menjadi penanda kembalinya “Mukti-Mukti” di Unpad setelah 25 tahun menggelar konser pertamanya di Koridor Fakultas Sastra Unpad. Dibantu dengan beberapa musisi lainnya, Mukti Mukti yang kala itu berkemeja putih polos dan bercelana katun coklat mengungkapkan perasaannya.

“Saya sangat senang bisa berdiri dan konser lagi di Kampus Unpad,” ujarnya dengan perasaan haru dan bangga.

Meskipun lahir untuk gerakan perlawanan, lagu-lagu Mukti Mukti selalu menyiratkan pesan-pesan yang optimis. Hal itu terlihat dari lagu terakhir yang dibawakan, Menitip Mati. “Kita yang masih bertahan, berdiri menatap matahari menitip mati, melumat sepi, esok hari revolusi,” demikian petikan lirik lagu tersebut yang dinyanyikan oleh hampir semua penonton.

Konser yang menjadi Pidangan Seni Budaya Rumawat Padjadjaran ke-60 ini digelar bertepatan dengan hari ulang tahun dari Prof. Iwa sendiri. Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia, pun memberikan apresiasi terhadap musisi yang telah mengeluarkan sekitar 30 album tersebut.

“Kita sangat senang sekali, pada hari ini ada alumni dan aktivis Unpad kembali menyelenggarakan pagelarannya di kampus ini,” ujar Rektor.


Foto-foto oleh: Tedi Yusup (Humas Unpad)*

Konser berdurasi satu setengah jam tersebut banyak dihadiri oleh penonton yang berasal dari seniman, kerabat, dan pencinta karya Mukti Mukti. Bahkan, seorang penyanyi balada Indonesia, Leo Kristi, datang jauh-jauh dari kota Surabaya untuk menonton konser tersebut. Menurut Leo, kegelisahan dari musik-musik yang diciptakan Mukti Mukti merupakan ciri khas dari musik balada tersebut.

“Ini adalah salah satu aspek perkembangan musik balada di Indonesia,” ucap Leo Kristi.*

Laporan oleh Arief Maulana / eh *

Share this: