Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pemilu Terus Menurun

[Unpad.ac.id, 28/3/2014] Pemilihan Umum 2014 tinggal menghitung hari, yakni tanggal 9 April untuk pemilu calon legislatif dan 9 Juli untuk pemilu calon presiden/wakil presiden. Sudah siapkah rakyat Indonesia, khususnya pemilih muda, untuk menggunakan hak suaranya guna menentukan nasib Negara Kesatuan Republik Indonesia selama 5 tahun ke depan?

Dari kiri ke kanan: moderator Dr. Soni A. Nulhaqim, Dr. Ferry Kurnia Rizkiyansyah, Drs. Affan Sulaeman, M.A., Dr. Toni Toharudin, M.Sc. dan Dr. Antar Venus, MA Comm (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Dari kiri ke kanan: moderator Dr. Soni A. Nulhaqim, Dr. Ferry Kurnia Rizkiyansyah, Drs. Affan Sulaeman, M.A., Dr. Toni Toharudin, M.Sc. dan Dr. Antar Venus, MA Comm (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Komisioner dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), Ferry Kurnia Rizkiyansyah mengatakan, tingkat partisipasi masyarakat terhadap pemilu terus menurun. Berdasarkan data dari KPU, angka partisipasi pemilih dalam pemilu calon Legislatif pada tahun 2004 berjumlah 84%. Sementara pada pemilu tahun 2009 jumlahnya menurun menjadi 71%.

“Secara hukum ini tidak menjadi problem. Tidak ada urusan karena tingkat partisipasi rendah, pemilu dibatalkan. Tapi ini sebagai justifikasi politik bahwa ternyata masyarakat sangat aware terhadap pemilu,” tutur Ferry dalam acara “Unpad Merspons: Jelang Pileg 2014, Bagaimana Kecenderungan Sikap Rakyat?” di Ruang Executive Lounge Unpad, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung, Jumat (28/03).

Kegiatan ini digelar oleh Unpad sebagai bentuk respons menjelang pesta demokrasi terbesar di Indonesia pada bulan April dan Juli mendatang. Selain Ferry, kegiatan ini menghadirkan 3 pembicara lain, yaitu Dr. Antar Venus, MA Comm (pakar komunikasi politik dari Fikom Unpad), Affan Sulaeman, Drs., M.A. (pakar ilmu politik dari FISIP Unpad), Dr. Toni Toharudin, M.Sc. (pakar survei politik dari FMIPA Unpad), dan dimoderatori oleh Kepala UPT Humas Unpad, Dr. Soni A. Nulhaqim.

Menurut Ferry, ada beberapa faktor yang menyebabkan turunnya angka partisipasi pemilu. Dari survei yang dilakukan KPU, salah satu faktor penyebab adalah masih tingginya angka pemilih yang golput. Menilik angka partisipan pemilu legislatif dan presiden tahun 2009 lalu, sekitar 29% pemilih memilih golput.

Menurunnya kepuasan masyarakat terhadap kinerja lembaga eksekutif juga turut menjadi penyebab yang lain. Ferry mengatakan, dari hasil survei KPU bersama Harian Kompas, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja di semua sektor pemerintahan turun hingga 40%. Sekitar 90,2 % dari responden pun menyebut tidak puas terhadap kinerja partai politik.

“Parpol sekarang terkesan hanya simbolik. Tugas parpol sekarang bagaimana menumbuhkan tingkat partispasi tadi, dan bagaimana menumbuhkan kesadaran politik dari masyarakat,” kata Ferry.

Oleh karena itu, pada pemilu tahun ini KPU menargetkan angka partisipatif sebesar 75%. KPU pun akan menyasar semua kalangan, termasuk kalangan pemilih pemula hingga kaum disabilitas untuk turut serta menjadi partisipan pemilu. “Salah satu yang akan kita sasar adalah memberikan pemahaman tentang voter education,” ujar Ferry.

Sementara itu, Dr. Antar Venus mengemukakakan penyebab menurunnya angka partisipatif pemilu. Salah satu alasannya adalah masyarakat sudah kehilangan harapan pada calon-calon legislatif maupun anggota DPR. Dalam benak masyarakat, calon-calon tersebut kebanyakan lebih mementingkan diri sendiri dan aspek kredibilitasnya pun cenderung rendah.

“Yang paling penting adalah calon anggota legislatif seringkali tidak mampu menunjukkan visinya dan apa yang akan dilakukan,” kata Dr. Antar.

Khusus untuk pemilih pemula, kebanyakan masih menganggap pemilu itu menyulitkan. Kurangnya sosialisasi tentang pemilu, serta ketidaktahuan pemilih pemula tentang partai politik dan calon-calon anggota legislatifnya acapkali menyulitkan mereka untuk memilih.

Meski begitu, Dr. Antar menilai pelaksanaan pemilu di Indonesia bisa dikatakan berhasil. Ini bisa dilihat dari tingkat peserta paritisipasi pemilu yang merupakan parsipatory voluntary. Walau setiap pelaksanaannya menurun, angka partisipatif pemilu di Indonesia masih terbilang tinggi, yakni berkisar antara 71 %.

“Tingkatkan kesadaran berpolitik dalam pemilu juga mesti digiatkan terutama untuk pemilih pemula. Dan calon legislatif pun harus mampu menunjukkan visi misinya,” kata Dr. Antar Venus.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh*