Tahun 2020, Indonesia Bertekad Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 26 Persen

[Unpad.ac.id, 8/09/2014] Perubahan iklim turut memengaruhi pelaksanaan pembangunan suatu negara yang berkelanjutan. Untuk itu, Indonesia melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas telah mempersiapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) untuk tahun 2015 – 2019 dengan antara lain mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26% pada tahun 2020.

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Prof. Armida Alisjahbana, saat mebuka kegiatan “International Symposium and Seminar on Sustainability Science 2014” yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Ilmu Lingkungan Unpad di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad Kampus Jatinangor, Senin (8/09). (Foto oleh: Tedi Yusup)*
Menteri PPN/Kepala Bappenas, Prof. Armida Alisjahbana, saat mebuka kegiatan “International Symposium and Seminar on Sustainability Science 2014” yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Ilmu Lingkungan Unpad di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad Kampus Jatinangor, Senin (8/09). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Demikian dikatakan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana, S.E., M.A., saat mengisi pidato pembukaan dalam “International Symposium and Seminar on Sustainability Science 2014” yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Ilmu Lingkungan Unpad di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad Kampus Jatinangor, Senin (8/09).

“Mitigasi perubahan iklim dimasukkan sebagai lintas sektor untuk melanjutkan komitmen Indonesia pada pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 26% pada tahun 2020,” tutur Prof. Armida.

Untuk mewujudkannya, Indonesia telah merumuskan rencana mitigasi provinsi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di tingkat sub-nasional. Sebanyak 33 Peraturan Gubernur di tiap provinsi terkait penurunan emisi gas rumah kaca telah diluncurkan dan dilaksanakan. Tim koordinasi lokal untuk pelaksanaan lokal juga telah dibentuk.

Lebih lanjut Prof. Armida mengatakan, selain melaksanakan hal tersebut, Pemerintah telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API). Program ini mencakup berbagai kegiatan percontohan di 15 kota yang bertujuan membantu masyarakat dalam mempersiapkan dampak perubahan iklim. Program ini terintegrasi antara Pemerintah Pusat, regional, serta pemangku kepentingan lainnya.

“Dengan 2 rencana aksi ini, memasuki RPJMN, Indonesia telah memiliki mitigasi dan adaptasi rencana aksi lengkap,” tegasnya.

Namun, pihaknya juga membutuhkan peran akademisi untuk meninjau hingga memberikan arah terhadap program mitigasi ini. Hal ini bertujuan agar implementasi program dapat terlaksana dan ditingkatkan dengan baik.

“Dengan menggunakan rancangan teknokratis dari RPJMN, para peneliti Indonesia dapat merumuskan agenda penelitian dan kolaborasi (penelitian) untuk men-support pelaksanaannya,” tutupnya.

Simposium ini mengambil tema “Understanding Climate Change Phenomena for Human Well Being” dan dibuka secara resmi oleh Wakil rektor Bidang PPM dan Kerja Sama Unpad, Dr. Med. Setiawan. Ketua pelaksana kegiatan, Prof. Oekan S. Abdoellah, M.A., PhD., mengatakan, simposium ini diikuti oleh 200 partisipan yang terdiri dari 47orang di kelas oral presentation dan 40 orang di kelas poster.

Selain Prof. Armida, simposium ini juga menghadrikan 6 keyntoe speaker dari University of Florida USA, Twente University Belanda, MIE University Jepang, Unite d Nations University Jepang, dan Unpad.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh *

Share this: