Akademisi Ragukan Hipotesis Tim Terpadu Penelitian Mandiri Situs Gunung Padang

[Unpad.ac.id, 7/10/2014] Benarkah keberadaan Situs Megalitikum Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Cianjur ini mampu mengubah sejarah dunia? Para ahli geologi dan arkeologi pun berusaha melakukan serangkaian penelitian untuk mengungkap fakta di balik situs yang diperkirakan berasal dari 2000 SM.

Suasana seminar nasional “Gunung Padang dan Permasalahannya” di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang kampus FIB Unpad Jatinangor, Selasa (7/10). (Foto oleh: Tedi Yusup)*
Suasana seminar nasional “Gunung Padang dan Permasalahannya” di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang kampus FIB Unpad Jatinangor, Selasa (7/10). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Tim Terpadu Penelitian Mandiri—sebelumnya bernama Tim Katastropik Purba—di bawah Staf Khusus Presiden Bidang bantuan Sosial dan Bencana, Gunung Padang disinyalir adalah piramida megah yang dibangun oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Hipotesis selanjutnya adalah terdapat timbunan emas yang bersemayam di dalam perut Gunung Padang.

“Situs Gunung Padang merupakan punden berundak, tempat ritual manusia prasejarah di Jawa Barat,” ujar Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unpad, Prof. Dr. Hj. Nina Herlina Lubis, M.S., saat membuka Seminar Nasional “Gunung Padang dan Permasalahannya” di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang kampus FIB Unpad Jatinangor, Selasa (7/10).

Selain Prof. Nina, seminar yang digelar oleh Departemen Sejarah dan Filologi FIB Unpad ini juga menghadirkan pembicara Prof. Dr. Adjat Sudrajat, Prof. Dr. Mundarjito,Prof. Soetikno Bronto, Dr. Danni Zulkifli Herman, Lutfi Yondri, M.Hum., Dr. Junus Satrio Atmodjo, M.Hum., dan Ir. Sujatmiko.

Tentang hipotesis yang dilakukan Tim Terpadu Penelitian Mandiri, Prof. Nina yang juga seorang sejarawan ini meragukannya. Pasalnya, konon hipotesis tersebut berasal dari analisis yang tidak ilmiah, yaitu diyakini melalui wangsit yang diterima oleh anggota dari organisasi “Turangga Seta”, sebuah organisasi yang menginisiasi penelitian di Gunung Padang.

Selain itu, Ekskavasi yang dilakukan tim tersebut melibatkan beberapa instansi. Namun, Prof. Nina melihat proses ekskavasi yang dilakukan tidak sesuai dan cenderung merusak situs. Hal inilah yang menjadikan penelitian tersebut banyak menuai kritikan.

Baca juga: Prof. Susi Dwi Harijanti dan Prof. Atip Latipulhayat Dilantik dan Dikukuhkan Sebagai Guru Besar FH Unpad

“Kita tidak bisa melakukan penelitian dengan cara yang tidak ilmiah dan tidak benar,” tegasnya.

Keraguan lain pun muncul dari kalangan para arkeolog dan geolog berdasarkan struktur Gunung Padang. Prof. Soetikno Bronto dari Pusat Survei Geologi Bandung menyatakan, Gunung Padang secara geologi merupakan sisa dari gunung api purba. Pada waktu itu, Jawa Barat didominasi oleh banyaknya gunung api aktif.

Hal ini dikuatkan dengan adanya dua sesar yang melintang di Gunung Padang, yakni sesar Cimandiri dan Sesar Gede-Cikondang. Dua sesar tersebut tepat melintang di atas Gunung Padang. Hal ini menyebabkan kawasan di sekitar Gunung Padang rawan mengalami gempa tektonik dan longsor hingga sekarang.

Prof. Soetikno pun mengusulkan adanya pelestarian mengenai keberadaan situs dengan melakukan penelitian yang mengarah kepada penanggulangan gempa.

Jenis batuan di Gunung Padang pun tergolong poligonal. Jenis ini, lanjut Prof. Soetikno, merupakan produk alami dari alam akibat lava yang keluar saat gunung meletus. Selain itu, adanya tiang-tiang heksagonal di kawasan situs juga diakibatkan oleh bentukan alam.

Hal tersebut dibenarkan oleh Prof. Adjat Sudrajat, Guru Besar FTG Unpad. Sehingga, keyakinan adanya piramida adalah tidak benar. “Anda bisa lakukan penelitian sendiri di Gunung Padang dan lihat struktur dan jenis batuannya. Anda dapat mengambil simpulan,” papar Prof. Adjat.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh *

Share this: