Mengenang R. Machjar Angga Koesoemadinata, Musikolog Pencipta Notasi Nada Sunda

[Unpad.ac.id, 11/10/2014] Di tangannya, lahir sistem notasi nada Sunda da-mi-na-ti-la-da. Ia pula yang menciptakan sistem 17 tangga nada, dimana nada dari setiap laras (salendro dan pelog) dalam Sunda dapat dimainkan bersama. Tidak heran jika namanya pada tahun 1950 masuk ke dalam entri dari Dictionary Music & Musician.

Diskusi tentang karya Raden Machjar Angga Koesoemadinata dengan pembicara Priadi Dwi Prajito, Atang Ruswita, Prof. Dr. R. Prajatna Koesoemadinata dengan moderator Prof. Ganjar Kurnia di Bale Rumawat Unpad Bandung, Jumat (9/10). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Diskusi tentang karya Raden Machjar Angga Koesoemadinata dengan pembicara Priadi Dwi Prajito, Atang Ruswita, Prof. Dr. R. Prajatna Koesoemadinata dengan moderator Prof. Ganjar Kurnia di Bale Rumawat Unpad Bandung, Jumat (9/10). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Dialah Raden Machjar Angga Koesoemadinata, seorang seniman, pengajar musik, dan musikolog Sunda. Di usianya yang baru menginjak 21 tahun, Pak Machjar, sapaan akrabnya, telah mencipta serat kanayagan (notasi nada Sunda). Melalui temuannya, Pak Machjar dianggap sebagai Musikolog pertama di tatar Jawa.

“Pak Machjar-lah yang memperkenalkan notasi da-mi-na-ti-la-da ke para guru di Jawa Barat,” ujar Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia saat membuka Pidangan Seni Budaya Rumawat Padjadjaran ke-71 “Mieling R. Machjar Angga Koesoemadinata”, Kamis (09/10) di Bale Rumawat Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung.

Pak Machjar yang dilahirkan di Sumedang, 7 Desember 1902 dan meninggal di Bandung, 9 April 1979, dibesarkan dalam lingkungan akademik dan seni. Perkenalannya pada musik Barat terjadi ketika Pak Machjar menjadi murid di sekolah keguruan bersamaan dengan ilmu fisika. Hal inilah yang menjadi titik awal penelitiannya terkait pengukuran interval dan frekuensi suara dalam perangkat gamelan.

Dalam kurun waktu 1916 – 1929, selain mencipta serat kanayagan yang dituangkannya ke dalam buku “Elmuning Kawih Sunda” dan mengajukan teori laras salendro 10 nada dan pelog 9 nada, ia juga telah menghasilkan sistem tangga nada 17 nada, dimana dalam satu oktaf terdiri dari 17 nada.

humas unpad _2014_10_09_00043660humas unpad _2014_10_09_00043814Sistem 17 nada ini kemudian diterapkan ke dalam gitar rancangannya yang diberi nama “Erman” dan perangkat Gamelan monumental “Ki Pembayun”. Beberapa karya monumental lainnya adalah Monochord untuk mengukur getaran suara yang kemudian digunakan oleh para ahli musik di luar negeri, serta beberapa lagu ciptaannya.

“Notasi da-mi-na-ti-la-da itu merupakan pertama di Sunda. Kita tidak tahu apakah di Jawa sebelumnya sudah ada atau justru malah mengikuti pada sistem notasi Pak Machjar,” duga Rektor.

Pertemuannya dengan ahli musikologi Belanda, Jaap Kunst pada tahun 1927, sistem 17 tangga nada ini kemudian dibawa ke Barat untuk digunakan dalam notasi nada Barat. Penemuannya inilah yang menjadi sumbangan terbesar dalam perkembangan musik Sunda.

Selain mengenalkan sosok Pak Machjar dan karyanya, Pidangan ini juga diisi oleh penampilan karya-karya Pak Machjar, serta diskusi dengan pembicara, Priadi Dwi Prajito, Atang Ruswita, dan Prof. Dr. R. Prajatna Koesoemadinata dengan moderator Prof. Ganjar Kurnia.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh *