PT Pupuk Kujang Produksi Pupuk Hayati Bion-UP Karya Unpad

[Unpad.ac.id, 4/12/2014] Pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan diantaranya mensyaratkan penggunaan input yang juga berkelanjutan dan ramah lingkungan. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah penggunaan pupuk hayati pada produksi tanaman.

Pupuk Hayati Bion-UP
Pupuk Hayati Bion-UP

Tim peneliti dari Laboratorium Biologi dan Bioteknologi Tanah Fakultas Pertanian (Faperta) Unpad telah memproduksi pupuk hayati cair Bion-UP. Pupuk hayati adalah suatu konsorsium mikroba potensial berbentuk cair berisi mikroba pemfiksasi nitrogen (Azotobcter chroococcum, Azotobacter Vinelandii, Azospirillum dan Acinetobacter) serta bakteri pelarut fosfat Pseudomonas Cepacia dan Jamur pelarut Fosfat Penicillium sp.

Menurut peneliti sekaligus dosen Faperta Unpad, Dr. Ir. Reginawanti Hindersah, MP, pupuk tersebut dapat turut menurunkan dosis NPK dan meningkatkan hasil tanaman. “Pupuk ini menggunakan mikroba unggul yang sudah teruji secara laboratorium dan keenam mikroba ini tidak berinteraksi negatif,” tuturnya.

Penelitian dimulai dengan mengisolasi, mengidentifikasi dan menapis setiap spesies mikroba tersebut dari rizosfer tanaman oleh anggota tim Laboratorium Biologi dan Bioteknologi Tanah. Selain Dr. Reginawanti, anggota tim tersebut terdiri dari Dr. Betty Natalie Fitriatin, Dr. Pujawati Suryatmana, Dr. Mieke R. Setiawati, Anne Nurbaity, Ph.D, Prof. Tualar Simarmata, dan Diyan Herdiyantoro, M.Si. Kerja sama untuk komersialisasi dilakukan dengan PT Pupuk Kujang Cikampek.

Dr. Regina menjelaskan, pupuk hayati konsorsium memiliki keunggulan dapat bersinergi dalam melangsungkan siklus nutrisi di tanah. Dalam hal pupuk hayati Bion-UP, siklus yang dilangsungkan adalah siklus nitrogen dan fosfor. Di dalam tanah kedua unsur hara tersebut dapat tersedia melalui aktivitas mikroba tanah. Menurutnya, Bion-UP mengandung mentabolit sekunder untuk membantu pertumbuhan tanaman dan penyerapan unsur hara, yaitu fitohormon dan eksopolisakarida.

Produksi perdana skala kecil pupuk cair tersebut dilakukan di PT Pupuk Kujang pada Juli 2014 dan akan dilakukan kembali di akhir November 2014. Produksi awal penting untuk memodifikasi metode produksi dari sistem laboratorium ke skala industri. “Produksi inokulan induk dengan media spesifik tetap dilakukan di Laboratorium Biologi dan Bioteknologi Tanah, sedangkan produksi pupuk hayati dengan media alami dilakukan di PT Pupuk Kujang,” ungkap Dr. Reginawanti.

Baca juga: Unpad Kirim Zikir dan Doa bagi Korban Terdampak Bencana di Palu, Donggala, dan Sigi

Ia mengungkapkan bahwa hasil penelitian telah menunjukkan bahwa pupuk tersebut efektif diaplikasikan pada tanaman padi dan sayuran. “Pada dasarnya pupuk hayati selalu dapat digunakan untuk tanaman pangan dan sayuran, juga untuk pembibitan tanaman perkebunan,” tutur Dr. Reginawanti. *

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh

Share this: