[Unpad.ac.id, 27/01/2015] Orang Sunda memiliki kebiasaan memakan lalapan, atau bagian dari tetumbuhan yang dimakan sebagai pelengkap nasi. Namun, tahukah kita mengapa orang Sunda pada khususnya sangat dekat dengan budaya makan lalapan?

Fadly Rahman, M.A., Sejarawan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unpad yang juga penggiat Kajian Makanan (kanan) dan Sandya Maulana, M.Hum., Dosen Sastra Inggris FIB Unpad (tengah) serta moderator Baban Banita, M.Hum., (kiri) dalam Seminar dan Diskusi “Sunda dan Budaya Lalapan: Melacak Akar Historis Kuliner Sunda” di Ruang B2.03 Kampus FIB Unpad Jatinangor, Selasa (27/01). (Foto oleh: Arief Maulana)*
Fadly Rahman, M.A., Sejarawan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unpad yang juga penggiat Kajian Makanan (kanan) dan Sandya Maulana, M.Hum., Dosen Sastra Inggris FIB Unpad (tengah) serta moderator Baban Banita, M.Hum., (kiri) dalam Seminar dan Diskusi “Sunda dan Budaya Lalapan: Melacak Akar Historis Kuliner Sunda” di Ruang B2.03 Kampus FIB Unpad Jatinangor, Selasa (27/01). (Foto oleh: Arief Maulana)*

Meskipun belum diketahui secara pasti kapan budaya lalapan ini menjadi bagian dalam masyarakat Sunda, setidaknya secuil catatan historis dalam Prasasti Taji pada abad 10 M dapat menjawabnya. Dalam prasasti yang ditemukan di kawasan Ponorogo, Jawa Timur tersebut, disebut sebuah nama sajian/makanan bernama “Kuluban Sunda” yang berarti lalap.

“Memang pada masa itu, eksistensi lalap memang populer, tapi pertanyaannya varietasnya apa?” ujar Fadly Rahman, M.A., Sejarawan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unpad yang juga penggiat Kajian Makanan dalam Seminar dan Diskusi “Sunda dan Budaya Lalapan: Melacak Akar Historis Kuliner Sunda” di Ruang B2.03 Kampus FIB Unpad Jatinangor, Selasa (27/01).

Selain Fadli, seminar yang digelar oleh Departemen Susastra dan Kajian Budaya FIB Unpad ini juga menghadirkan pembicara Sandya Maulana, M.Hum., Dosen Sastra Inggris FIB Unpad dan dimoderatori oleh Baban Banita, M.Hum.

Mengutip dari Isis Prawiranegara pada tahun 1944, Fadli menyebut lalap tidak hanya berwujud daun-daunan seperti daun singkong, pepaya, atau selada, namun bisa juga berupa umbi-umbian, buah muda, bunga, hingga biji-bijian.

Dalam naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian sekitar abad 15 M disiratkan beragam rupa-rupa rasa masakan, yaitu lawana (asin), kaduka (pedas), tritka (pahit), amba (masam), kasaya (gurih), dan madura (manis). Menurut Fadli, susunan cita rasa tersebut menyiratkan rasa yang “Sunda banget”.

“Itu tidak menampilkan cita rasa yang sarat dengan daging-dagingan,” tambahnya.

Dosen prodi Sejarah FIB Unpad menjelaskan, budaya makan daging tidak identik dengan orang Sunda. Ini terlihat dalam catatan Thomas Stamford Raffles yang menyebutkan pengembangan ternak sapi di Jawa Barat pada masa tersebut tidak berjalan baik di Jawa Barat.

Fadli menduga perbedaan iklim menyebabkan sapi tidak dapat dibudidayakan dengan baik di Jawa Barat. Hal ini berbeda dengan kondisi budidaya sapi di Jawa Tengah dan Jawa Timur dimana memiliki keadaan lahan yang kering dan curah hujan rendah sehingga budidaya dapat berjalan dengan baik.

Kondisi geografis pegunungan dan pedalaman pun mengakibatkan banyaknya varietas tumbuhan/tanaman pangan tumbuh di Jawa Barat. Hal ini juga dipengaruhi oleh minimnya sentuhan budaya kuliner asing di Jawa Barat hingga abad ke-19. Kondisi ini memungkinkan kuliner Sunda lebih unik dibandingkan dengan kuliner lain di Indonesia.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh

Share this: