Alternatif Pangan Selain Beras Dapat Tingkatkan Ketahanan Pangan Nasional

Dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad, Dr. Marleen Sunyoto, saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional “Mewujudkan Ketahanan Pangan dalam Konteks Diversifikasi dan Kebijakan” di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad Jatinangor, Selasa (15/11). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

[Unpad.ac.id, 15/11/2016] Sudah sejak lama, masyarakat Indonesia memiliki pola pikir bahwa makan itu identik dengan nasi. Meski sudah mengonsumsi sumber kalori lain, belum dapat dikatakan “sudah makan” jika belum makan nasi. Menurut dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad Dr. Marleen Sunyoto, pola pikir iniah yang harus kita ubah untuk meningkatkan ketahanan pangan bangsa.

Dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad, Dr. Marleen Sunyoto, saat menjadi  pembicara dalam Seminar Nasional “Mewujudkan Ketahanan Pangan dalam Konteks Diversifikasi dan Kebijakan” di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad Jatinangor,  Selasa (15/11). (Foto oleh: Tedi Yusup)*
Dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad, Dr. Marleen Sunyoto, saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional “Mewujudkan Ketahanan Pangan dalam Konteks Diversifikasi dan Kebijakan” di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad Jatinangor, Selasa (15/11). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

“Pangan itu tidak selalu identik dengan beras. Pangan itu boleh diidentikan dengan nonberas yang mempunyai sumber kalori sama atau hampir sama dengan beras. Karena itu kita harus mencari alternatif pangan pokok non beras,” kata Dr. Marleen ketika menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Nasional “Mewujudkan Ketahanan Pangan dalam Konteks Diversifikasi dan Kebijakan” sebagai bagian dari Pekan Ilmiah Mahasiswa Agrokompleks 2016 di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad kampus Jatinangor,  Selasa (15/11).

Untuk mencapai ketahanan pangan, maka sangat penting adanya diversifikasi. Dr. Marleen pun menekankan bahwa diversifikasi ini bukanlah variasi pangan olahan, melainkan variasi pangan pokok. Diversifikasi pun sering berkaitan dengan adanya teknologi dan kulinologi.

Menurut Dr. Marleen , diversifikasi sangat diperlukan dalam mencapai  ketahanan pangan agar masyarakat tidak terlalu banyak bergantung pada beras. Adanya perubahan iklim, penurunan jumlah lahan, hingga peningkatan harga menjadi permasalahan tersendiri di Indonesia. Krisis pangan pun semakin mengancam. Selain itu, dorongan adanya impor beras pun meningkat.

“Jika berbicara mengenai ketahanan pangan dan diversifikasi, solusinya adalah penciptaan produk baru. Produk baru untuk mengganti beras,” ujar Dr. Marleen.

Dr. Marleen pun menyarankan bahwa diversifikasi pangan sebaiknya memanfaatkan pangan lokal mengingat potensi pangan lokal di Indonesia sangat melimpah. Selain sebagai makanan pokok, potensi lokal pun dapat dimanfaatkan sebagai makanan pelengkap. Untuk itu, ia pun mengharapkan agar kerja sama di Bidang Agrokompleks dapat semakin ditingkatkan.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Marleen pun mengajak mahasiswa untuk dapat mengkaji berbagai potensi pangan lokal dan dapat berkontribusi dalam menciptakan produk baru. Hal inilah yang dapat dilakukan mahasiswa sebagai akademisi.

Dr. Marleen pun memiliki upaya dalam penciptaan produk pangan baru ini. Salah satunya adalah mengolah Ampas Ubi Kayu (Ambu) menjadi pasta yang ia sebut sebagai “Pasayu” atau Pasta Umbi Kayu. Berbagai penelitian mengenai ampas ubi kayu  telah ia lakukan sejak sembilan tahun lalu, dengan juga melibatkan sejumlah mahasiswanya di FTIP Unpad.

Selain Dr. Marleen, seminar nasional ini juga menghadirkan pengusaha Chandra Natadipurba sebagai pembicara. Bukan hanya seminar nasional, Pekan Ilmiah Mahasiswa Agrokompleks 2016 juga menggelar Lomba Esai yang diikuti oleh sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. *

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh

Share this: