Buku Pelajaran Bahasa Sunda Masih Kurang Perhatikan Undak Usuk

[Unpad.ac.id, 4/11/2016] Sejumlah kata yang sering  muncul di dalam buku pelajaran Bahasa Sunda menunjukkan buku pelajaran tersebut kurang memperhatikan tingkat tutur bahasa (undak usuk) yang berlaku di Budaya Sunda. Untuk itu, para guru Bahasa Sunda diharapkan dapat memperhatikan hal tersebut karena berkaitan dengan pembentukan karakter anak.

Suasana diskusi bertajuk “Pemerolehan Bahasa Anak Berkarakter” di Ruang Sidang A Lt. 3 Gedung A FIB Unpad, Selasa (1/11). *

Suasana diskusi bertajuk “Pemerolehan Bahasa Anak Berkarakter” di Ruang Sidang A Lt. 3 Gedung A FIB Unpad, Selasa (1/11). *

Hal tersebut terungkap dalam Diskusi Terpumpun (Focus Group Discussion) bertajuk “Pemerolehan Bahasa Anak Berkarakter” di Ruang Sidang A Lt. 3 Gedung A FIB Universitas Padjadjaran, Selasa (1/11). Kegiatan ini digelar dalam rangka diseminasi informasi hasil penelitian Tim Academic Leadership Grant (ALG) FIB Unpad yang diketuai oleh Guru Besar Linguistik, Semantik dan Dialektologi  Fakultas Ilmu Budaya Unpad, Prof. (Emeritus) T. Fatimah Djajasudarma, berjudul “Pemerolehan Bahasa Daerah Anak di Lingkungan Masyarakat Jawa Barat dalam Pembentukan Karakter Bangsa”.

Acara diskusi tersebut dihadiri oleh 31 peserta yang terdiri dari perwakilan sekolah dasar di wilayah Jatinangor. Peserta yang hadir berasal dari SDN Cikeruh 1 dan 2, SDN Sayang, SDN Jatinangor, SDN Cikuda, SDN Cipacing 1 dan 2, SDN Jatiroke 1 dan 2, SDN Cisempur, SDN Sinar Jati, SDN Sirah Cai, SDN Karang Kamulya, SDN Cileles, SDN Kananga, dan SDN Hegarmanah 1.

Dalam diskusi ini disampaikan, peran bahasa Sunda dalam membina karakter bangsa cenderung terdesak oleh  bahasa yang dianggap sebagai par excellence  atau budaya populer. Budaya populer itu termasuk kepercayaan, praktik kehidupan sehari-hari, dan objek kehidupan. Ini semua digambarkan melalui bahasa, termasuk pola pikir atau cara pandang dalam memahami sesuatu. Dengan demikian, pemerolehan bahasa terhadap anak sangat penting untuk mendukung perkembangan anak, utamanya aspek pola pikir.

basasunda1Hasil penelitian menunjukkan, pemerolehan bahasa Sunda bagi anak sekolah dasar dirasakan cukup lambat karena beberapa faktor, di antaranya adalah buku ajar yang tidak akomodatif, tema yang ada di dalam buku tidak selaras dengan kurikulum yang berbasis karakter, atau pilihan kata yang dianggap telah melanggar kesantunan berbahasa sehingga tidak sesuai dengan kaidah kesantunan masyarakat setempat.

Tim peneliti menemukan sejumlah kata yang sering  muncul di dalam buku pelajaran Bahasa Sunda  yang biasa digunakan oleh anak-anak. Mulai dari kata sapaan seperti kuring dan  anjeun, serta kata verba seperti mere, menta, dahar, sare, ulin, balik, dan indit. Selain itu, terdapat pula kata adjektiva untuk menyampaikan penilaian seperti alus, juga kata adverbial seperti keur dan kata nomina misalnya, ngaran.

Diksi tersebut menunjukkan adanya disfemisme atau ketidaksantunan mengingat bahasa Sunda mengenal undak-usuk (tingkat tutur bahasa). Oleh sebab itu, guru sebagai pendidik diharapkan untuk dapat mengajarkan bahasa Sunda kepada siswa dengan mempertimbangkan undak-usuk bahasa Sunda yang juga dipraktikkan secara langsung dalam praktik sehari-hari di lingkungan sekolah.

“Melalui diskusi ini, diharapkan para guru dapat menanamkan kepada murid-murinya untuk memiliki karakter saling menghormati. Jangan sampai melupakan identitasnya sebagai manusia yang humanis”, ujar Prof. (Em.) T. Fatimah Djajasudarma.*

Rilis oleh: FIB Unpad / art