Prof. dr. Arief S. Kartasasmita, Sp.M., M.Kes., PhD., “Kebutaan dan Diabetes Mengancam Generasi Muda Indonesia”

[unpad.ac.id, 19/11/2018] Adanya pergeseran gaya hidup saat ini berdampak pada semakin berpotensinya generasi muda terkena penyakit diabetes melitus. Di sisi lain, lebih dari 75% penderita diabetes melitus akan mengalami kerusakan retina mata (retinopati) diabetik.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof. dr. Arief S. Kartasasmita, Sp.M., M.Kes., PhD.membacakan orasi ilmiah berkenaan penerimaan jabatan guru besar bidang Ilmu Kesehatan Mata  FK Unpad, yang digelar di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Sabtu (17/11). (Foto: Tedi Yusup)*

“Penyakit (retinopati diabetik) ini berkorelasi erat dengan lamanya menderita diabetes, sehingga semakin tinggi harapan hidup penderita diabetes, akan semakin besar kemungkinan menderita retinopati diabetik,” ujar Guru Besar Fakultas Kedokteran Unpad Prof. dr. Arief S. Kartasasmita, Sp.M., M.Kes., PhD.

Prof. Arief menyampaikan hal tersebut dalam orasi ilmiah berkenaan penerimaan jabatan guru besar bidang Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Unpad, yang digelar di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Sabtu (17/11).

Serangan retinopati diabetik pada penderita diabetes melitus berusia muda akan menyebabkan kemungkinan kebutaan semakin cepat. Hal ini akan berpengaruh pada produktivitas masyarakat secara umum. Mengingat kebutaan terjadi pada kelompok usia produktif.

Dalam sejumlah data, angka penderita retinopati diabetik cukup tinggi. Prof. Arief memaparkan, pada 2010 ditemukan 24.600 orang dengan renopati diabetik di Indonesia dan sekitar 10% mengalami kebutaan. Diprediksi pada 2030 mendatang, penderita diabetes melitus akan meningkat menjadi 94.800 orang dan sekitar 11.000 di antaranya mengalami kebutaan.

“Mengingat sebagian besar kebutaan akibat diabetik merupakan kondisi yang tidak dapat diobati, maka pencegahan terjadinya kebutaan akibat retinopati diabetik menjadi hal yang sangat krusial,” kata Prof. Arief.

Prof. Arief yang juga Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Sumber Daya Unpad ini menjelaskan, era disrupsi berkontribusi pada penurunan kualitas hidup individu dan bangsa. Kemajuan teknologi di era milenial berimplikasi pada perjalanan penyakit retinopati diabetik.

Selain itu, perubahan gaya hidup pada generasi milenial, seperti kurangnya aktivitas, malah berolahraga, konsumtif, dan pola makan tidak sehat berpotensi meningkatkan risiko obesitas. “Kondisi obesitas ini berhubungan dengan berbagai konsekuensi kesehatan yang merugikan dan salah satunya adalah peningkatan risiko terjadinya diabetes melitus,” tambah Prof. Arief.

Karena sulit disembuhkan, butuh peran serta berbagai pihak untuk menanggulangi ancaman ini. Kebijakan pemerintah dalam membuat regulasi penanggulangan sangat penting sehingga dapat meningkatkan produktivitas masyarakat Indonesia.*

Laporan oleh Arief Maulana