Mengenang Kiprah Prof. T. Fatimah Djajasudarma Lewat Tulisan

Laporan oleh Arif Maulana

fatimah djajasudarma

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran meluncurkan buku untuk mengenang 100 hari almarhumah Guru Besar Prof. Dr. T. Fatimah Djajasudarma. Buku berjudul “Prof. Dr. Hj. T. Fatimah Djajasudarma dalam Kenangan” ini diluncurkan dalam seminar virtual yang digelar FIB Unpad, Rabu (16/9). (Foto: Dadan Triawan)*

[unpad.ac.id, 16/9/2020] Mengenang 100 hari kepergian almarhumah Prof. Dr. T. Fatimah Djajasudarma, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran melalui Pusat Studi Bahasa Sunda meluncurkan buku “Prof. Dr. Hj. T. Fatimah Djajasudarma dalam Kenangan”, Rabu (16/9).

Ketua Pusat Studi Bahasa Sunda FIB Unpad Dr. Teddi Muhtadin, M.Hum., mengatakan, buku ini merupakan bunga rampai yang ditulis oleh sejumlah kolega, mantan mahasiswa, hingga perwakilan keluarga almarhumah. Sebanyak 34 tulisan beserta 2 prakata dimasukkan pada buku ini.

Dalam acara peluncuran buku yang digelar secara virtual oleh FIB Unpad, Rabu (16/9), Dosen Sastra Sunda Unpad ini menjelaskan, buku ini merupakan buah dari pembicaraan Teddi bersama para dosen FIB anggota tim Academic Leadership Grant (ALG) Unpad yang diketuai Prof. Fatimah Djajasudarma.

(baca juga: Prof. T. Fatimah Djajasudarma Tutup Usia)

Kenangan akan hal baik yang diwariskan almarhumah mendorongnya untuk menyusun buku. Ia pun mengundang kolega dan orang-orang yang menaruh simpatik terhadap almarhum untuk ikut menulis. Dalam waktu singkat, terkumpul sebanyak 34 tulisan ditambah 2 prakata yang ditulis oleh Dekan FIB Unpad Yuyu Yohana Risagarniwa, PhD, dan Rektor Unpad Prof. Rina Indiastuti.

“Hingga saat ini tulisan yang masuk masih ada. Oleh karena itu, untuk memasukkan tulisan yang baru, kami akan lakukan revisi,” kata Teddi.

Teddi melanjutkan, buku ini merupakan satu dari tiga buku tentang Prof. Fatimah yang rencananya akan diterbitkan FIB Unpad. Buku kedua berisikan kajian terhadap karya akademik Prof. Fatimah Djajasudarma di bidang bahasa, sastra, dan budaya. Sementara buku ketiga menyajikan seputar karya lengkap dari Prof. Fatimah.

(baca juga: Buku Pelajaran Bahasa Sunda Masih Kurang Perhatikan Undak Usuk)

Buku ini diharapkan menjadi ruang untuk mengenang sekaligus melestarikan berbagai pemikiran dan karya almarhumah. Teddi mengatakan, selalu ada dua hal yang hilang saat seorang ilmuwan meninggal dunia, yaitu sosok dan karyanya.

“Semoga rencana dan usaha ini menjadi salah satu upaya untuk memelihara karya beliau dan kemudian menggembangkannya,” kata Teddi.

Kenangan tentang Prof. Fatimah

Rektor Unpad Prof. Rina Indiastuti memberikan sambutan dalam acara peluncuran buku “Prof. Dr. Hj. T. Fatimah Djajasudarma dalam Kenangan” secara virtual.*

Dalam acara tersebut, beragam kenangan manis keluar dari para kolega almarhumah. Dekan FIB Unpad Yuyu Yohana Risagarniwa misalnya, sedikit mengenang bagaimana jasa almarhumah dalam membentuk karier akademiknya.

“Tahun 2001, waktu Prof. Fatimah menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra Unpad, saya lulus dan diterima di program Pascasarjana Unpad bersamaan dengan saya diterima di Jepang. Saya konsultasi ke Ibu, dan beliau menyarankan saya untuk berangkat ke Jepang. Kata beliau, ‘keilmuan Pak Yuyu akan lebih banyak didapat ketika di Jepang’,” kenang Yuyu.

(baca juga: FIB Unpad Penjaga Nilai Budaya Lokal di Tengah Deraan Global)

Rektor Unpad Prof. Rina Indiastuti juga memiliki kenangan baik tentang sosok almarhumah. Prof. Fatimah Djajasudarma banyak memberikan gagasan untuk memajukan FIB Unpad melalui pendalaman kemitraan atau kerja sama.

“Beliau ingin betul bagaimana bahasa terutama bahasa Sunda dan Indonesia betul-betul bisa disampaikan pada masyarakat untuk digunakan secara benar, bukan hanya lewat pendidikan tetapi lewat berbagai macam media,” tutur Rektor saat memberikan sambutan.

Karenanya, lanjut Rektor, pengelola fakultas dapat meneruskan gagasan Prof. Fatimah agar bisa mengonkretkan kiprah FIB Unpad di tingkat nasional maupun global.

(baca juga: Dies Natalis ke-61, Rektor Harapkan FIB Unpad Semakin Berkontribusi di Tingkat Internasional)

Acara ini menghadirkan tiga pembicara, yaitu Guru Besar Universitas Sumatera Utara Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S., Guru Besar Institut Seni Budaya Indonesia-Bandung Prof. Dr. Endang Caturwati, M.S., serta Guru Besar FIB Unpad Prof. Dr. Cece Sobarna, M.Hum.

Prof. Robert menyampaikan, ada 4 karakter yang dipunyai seorang Prof. Fatimah Djajasudarma, yaitu komunikatif, teliti, disiplin, dan rajin. Empat karakter ini merupakan bagian dari etos kerja Prof. Fatimah yang dipelajari Prof. Robert.

“Saya mendapatkan pelajaran berharga. Itulah yang saya ajarkan dan saya wariskan kepada anak-anak saya,” ujarnya.

Prof. Endang mengungkapkan, Prof. Fatimah merupakan sosok teladan yang konsisten dengan keilmuannya. Bisa dibilang, almarhumah merupakan sosok agen perubahan.

(baca juga: Peneliti Unpad Ciptakan Font Aksara Sunda Secara Fonetis)

“Tidak banyak pada waktu itu seorang perempuan yang mendapat kesempatan belajar hingga ke luar negeri. Karena itu, Prof. Fatimah merupakan pejuang perempuan dalam bidang pendidikan yang tangguh,” ungkapnya.

Sementara Prof. Cece mengatakan, Prof. Fatimah Djajasudarma merupakan sosok yang ahli di bidang linguistik. Teorinya tentang linguistik dari hasil disertasi tahun 1986 dianggap mutakhir pada saat itu.

Hal ini dirasakan Prof. Cece saat masih menjadi mahasiswa di Fakultas Sastra Unpad medio 1980-an.

“Beliau sangat cerdas dalam hal linguistik, ilmu yang belum populer saat itu. Melalui tangan beliau, ilmu ini menjadi sangat menarik dan banyak mahasiswa yang akhirnya memilih ke linguistik. Banyak pula disertasi mahasiswa yang merujuk pada disertasi beliau,” kata Prof. Cece.*