Menjadi Profesi Termiskin di Indonesia, Benarkah Nelayan Tidak Bisa Bahagia dengan Profesinya?

Rilis

Artikel ini sebelumnya sudah dipublikasikan di https://theconversation.com/nelayan-memang-miskin-tapi-riset-buktikan-mereka-tetap-bahagia-136496. Artikel dicuplik dan dilakukan editing berdasarkan persetujuan Prof. Zuzy Anna.*

nelayan
Aktivitas nelayan di pantai Pangandaran, Jawa Barat. (Foto: Tedi Yusup)*

[unpad.ac.id, 8/9/2020] Sebagai negara maritim, Indonesia rupanya belum bisa menyejahterakan para nelayan. Di negeri ini, nelayan menjadi salah satu profesi paling miskin. Ini didasarkan atas analisis data Survei Sosio Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2017 yang dilakukan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad Prof. Dr. Zuzy Anna  dan tim.

“Sebanyak 11,34% orang di sektor perikanan tergolong miskin, lebih tinggi dibandingkan sektor pelayanan restoran (5,56%), konstruksi bangunan (9,86%), serta pengelolaan sampah (9,62%),” jelas Prof. Zuzy.

Hal ini berimbas pada berkurangnya jumlah anak muda yang ingin berprofesi sebagai nelayan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pun menunjukkan adanya tren penurunan jumlah rumah tangga perikanan tangkap secara drastis dari 2 juta di tahun 2000 menjadi 966 ribu di tahun 2016.

(baca juga: Indonesia Bisa Sejahtera dari Sektor Ekonomi Kelautan)

Angka penurunan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Sejumlah akademisi berpendapat mengenai penyebab dari menurunnya partisipasi anak muda menjadi nelayan.

Para akademisi tersebut berpendapat, pendapatan yang rendah, ditambah dengan tantangan cuaca ekstrem di laut dan jarak yang jauh dari keluarga dalam waktu yang lama membuat nelayan menjadi profesi yang tidak menarik secara global.

Namun, pendapat ini berbanding terbalik dengan apa yang diteliti oleh Prof. Zuzy dan tim. Penelitian yang dilakukannya pada 2018 justru menemukan bahwa pendapat para akademisi tersebut tidak berlaku bagi nelayan di Indonesia.

“Di tengah pendapatan rendah dan ketidakpastian tangkapan ikan, nelayan di Indonesia justru lebih bahagia dibandingkan profesi lain di bidang pertanian,” tuturnya.

(baca juga: Alat Tangkap Cantrang Dilarang, Nelayan Pantura Minta Solusi)

Dalam penelitian tersebut, Prof. Zuzy dan tim menganalisis statistik terhadap kesejahteraan nelayan yang diwakili oleh data sosioekonomi dari Survei Kehidupan Keluarga Indonesia (IFLS) tahun 2012 dan 2015.

Selain data ekonomi dan demografi, di dalamnya juga terdapat survey terbuka kepada nelayan untuk menanyakan seberapa bahagia mereka saat ini, lima tahun lalu, dan lima tahun yang akan datang.

Walaupun nelayan termasuk salah satu pekerjaan paling rentan, analisis menunjukkan belum ada bukti autentik bahwa nelayan memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih rendah dibandingkan profesi lainnya.

“Terdapat banyak aspek yang lebih berkorelasi terhadap kebahagiaan ketimbang sekadar status sebagai nelayan, yakni level pendidikan, status pernikahan, dan kondisi kesehatan,” jelasnya.

Salah satu hal yang bisa menjelaskan dari hasil analisis ini adalah karakter pekerjaan dari nelayan. Terbiasa bekerja di alam terbuka membuat nelayan menikmati pekerjaannya.

(baca juga: Langkanya Subsidi BBM Membuat Mayoritas Nelayan Belum Sejahtera)

Sejumlah studi juga pernah “menguatkan” penjelasan ini. Aspek perikanan yang penuh dengan “petualangan”, “kebebasan” dan “aktivitas di alam” berperan sebagai suatu bentuk terapi bagi nelayan.

Sebagai contoh, riset dari University of Rhode Island, Amerika Serikat menunjukkan bahwa berkelana di lautan tenang mengakibatkan nelayan di wilayah Karibia – seperti di Cuba, Haiti, dan Puerto Rico – memiliki hubungan sosial dan keadaan mental yang sangat baik.

Studi lain dihasilkan dari peneliti East Carolina University, AS yang dilakukan di Puerto Rico menggambarkan bagaimana banyak mantan nelayan kembali lagi ke sektor perikanan sebagai bentuk terapi setelah bertahun-tahun dibuat penat oleh pekerjaan administratif.

“Khususnya bagi nelayan Indonesia yang mempunyai bawahan, efek terapi ini bisa memiliki dampak yang lebih kuat. Waktu untuk menikmati alam terbuka menjadi lebih leluasa karena pekerjaannya diringankan oleh nelayan di bawah mereka,” terang Prof. Zuzy.

Pada survei yang dilakukan tim, nelayan Indonesia juga memiliki sikap optimistis yang lebih tinggi dari profesi pertanian lain terkait keadaan ekonomi mereka lima tahun dari sekarang.

(baca juga: Indonesia Darurat IUU Fishing)

“Faktor-faktor pemicu kebahagiaan di atas bisa jadi membuat mereka memiliki persepsi bahwa keadaan hidup nelayan tidak lebih buruk dari profesi lainnya, bahkan merupakan profesi yang nyaman untuk ditekuni hingga bertahun-tahun ke depan,” tambahnya

Masa Depan Sektor Perikanan

Meski bisa memberikan kebahagiaan, data di atas menunjukkan jumlah orang yang memilih profesi sebagai nelayan semakin berkurang. Oleh karena itu, pemerintah memiliki tugas penting untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan demi keberlangsungan profesi ini.

Salah satu cotohnya, pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan yang lebih baik terkait regulasi akses terbuka perikanan tangkap dan perlindungan terhadap perikanan skala kecil.

Apabila pemerintah tidak memperhatikan hal ini, lautan akan dieksploitasi oleh kapal-kapal besar sehingga mengurangi hasil tangkap nelayan tradisional.

Dukungan dari pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan juga dibutuhkan, misalnya dengan memberi asuransi untuk nelayan kecil, hingga berkewajiban mendukung usaha yang penuh ketidakpastian ini.

“Menjadi nelayan mungkin adalah hal yang membahagiakan, tapi itu tidak akan ada artinya apabila tidak akan ada lagi yang mau menekuni profesi ini di masa depan,” pungkas Prof. Zuzy.(arm)*

Share this: