Laporan oleh Arif Maulana

Kepala Pusat Pengelolaan Pengetahuan Unpad Wina Erwina, PhD, menjelaskan mengenai layanan literasi informasi yang dikelola di Unpad pada acara “Webinar Literasi Informasi” yang digelar Pusat Pengelolaan Pengetahuan Unpad, Sabtu (28/11).*

[unpad.ac.id, 29/11/2020] Akademisi di perguruan tinggi seyogianya harus menguasai kemampuan literasi informasi. Ini disebabkan, aktivitas akademisi, baik mahasiswa, dosen maupun peneliti tidak lepas dari pencarian data, informasi, hingga penciptaan dan penyebarluasan pengetahuan.

“Literasi informasi penting kita kuasai dalam rangka bagaimana kita bisa belajar secara lebih efektif dan bisa menyelesaikan setiap permasalahan yang kita hadapi,” ujar Dosen Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Padjadjaran Asep Saeful Rohman, M.I.Kom., dalam “Webinar Literasi Informasi” yang digelar Pusat Pengelolaan Pengetahuan Unpad, Sabtu (28/11).

Selama menjalani studi, mahasiswa akan dihadapkan pada beragam persoalan akademik. Menurut Asep, salah satu aspek yang penting untuk bisa menyelesaikan persoalan tersebut adalah kemampuan literasi informasi.

[irp]

Dengan literasi informasi pula, seorang akademisi bisa menemukan strategi untuk mengatasi persoalan yang dihadapi. Contohnya, ketika menghadapi tugas perkuliahan, seorang mahasiswa dapat mengidentifikasi informasi apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas melalui kemampuan literasi informasi.

Kemampuan identifikasi informasi merupakan tahap awal dari literasi informasi sebelum menggunakan informasi tersebut dan menghasilkan pengetahuan yang baru.

Lebih lanjut Asep menuturkan, identifikasi juga menjadi faktor penting seseorang bisa menguasai literasi dari suatu informasi. Identifikasi dibutuhkan untuk menyaring informasi yang sesuai dari sekian banyak informasi yang tersedia.

Walau saat ini proses penelusuran informasi sudah semakin mudah, akademisi tetap harus memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi informasi. Dengan demikian, informasi yang diperoleh merupakan informasi sesuai dengan proses pembelajaran atau masalah yang dihadapi.

“Tidak sembarangan dalam menentukan identifikasi informasi apa saja yang relevan dengan tugas yang kita hadapi. Sedangkan masyarakat awam mungkin bisa melakukannya tanpa strategi,” kata Asep.

Dalam mendukung peningkatan kemampuan literasi informasi, setiap perguruan tinggi mengembangkan model tersendiri di dalam penyediaan informasi bagi sivitas akademikanya.

Menurut Kepala Pusat Pengelolaan Pengetahuan Unpad Wina Erwina, PhD, model yang dikembangkan di Unpad menggunakan model hasil riset bersama yang diaplikasikan dengan kemampuan literasi informasi ilmiah dan juga pengetahuan lokal.

[irp]

Dosen Prodi Perpustakaan dan Sains Informasi Unpad ini menjelaskan, pengetahuan lokal dinilai penting karena merupakan dasar dari suatu pengetahuan umum. Pengetahuan lokal kemudian dikembangkan dan diadaptasi dengan metode ilmiah dan diklaim menjadi bentuk pengetahuan lainnya.

“Informasi ilmiah biasanya kita dapat dari dunia Barat. Padahal, kita dengan kebudayaan beragam memiliki pengetahuan lokal yang banyak sekali,” kata Wina.

Unpad sendiri menyediakan beberapa sumber informasi yang bisa digunakan sivitas akademika. Salah satunya adalah portal Kandaga Unpad. Portal ini menyediakan banyak referensi ilmiah, seperti jurnal ilmiah, perpustakaan terpadu, hingga repositori. Bahkan jurnal-jurnal yang dilanggan Unpad sudah bisa diakses dengan mudah dari rumah.

Selain itu, Perpustakaan Unpad juga rutin menggelar kegiatan untuk meningkatkan kemampuan literasi informasi bagi seluruh sivitas akademika. Apabila menemui kendala, sivitas akademika bisa mengonsultasikannya kepada setiap tenaga pustakawan yang ada di fakultas maupun di Perpustakaan Unpad.

Webinar Literasi Informasi ini juga menghadirkan pembicara lainnya, yaitu Dosen Prodi Perpustakaan dan Sains Informasi Unpad Andry Yanto, M.I.Kom.*

Share this: