Akuaponik, Pilihan Budidaya Rumahan di Kala Pandemi

Laporan oleh Arif Maulana

akuaponik
Sistem budidaya akuaponik. (Foto: Herman Hamdani)*

[unpad.ac.id, 12/12/2020] Akuaponik dapat menjadi pilihan kegiatan budidaya yang bisa dilakukan di rumah selama pandemi. Melalui sistem ini, kita bisa melakukan dua budidaya sekaligus, yaitu tanaman dengan ikan air tawar.

Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran Drs. Herman Hamdani, M.Si., menjelaskan, akuaponik merupakan sistem budidaya yang memadukan sistem akuakultur dengan hidropnik. Dengan kata lain, sistem ini memadukan pemeliharaan ikan dengan menanam sayuran secara hidroponik.

Akuaponik dimungkinkan dilakukan di rumah mengingat sistem budidaya ini bisa dilakukan di lahan yang sempit. Dengan demikian, pemilik rumah dapat memanfaatkan halaman atau sudut-sudut rumah untuk digunakan sebagai lahan budidaya.

“Manfaat budidaya sistem akuaponik, kita bisa memperoleh keuntungan bisa panen ikan dan sayuran secara simultan,” ujar Herman.

[irp]

Hasil dari panen akuaponik tentunya cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan, khususnya untuk skala rumah tangga. Ini disebabkan, panen sudah mencakup kebutuhan pangan nabati dan hewani. Bahkan, dalam setiap satu kali siklus panen ikan saja, kita bisa mendapatkan 2 – 3 kali panen tanaman sayuran.

Dosen FPIK Unpad lainnya Irfan Zidni, M.P., memaparkan, selain tidak memerlukan lahan yang luas, akuaponik juga dapat menghemat air. Ini disebabkan, akuaponik menggunakan sistem air resirkulasi. Air pada kolam ikan dapat digunakan untuk menyiram tanaman, setelah itu air akan kembali masuk ke kolam.

Bahan dan proses instalasinya pun cukup mudah. Untuk sistem yang sederhana bisa menggunakan wadah dari bak fiber, kolam terpal, kolam plastik, akuarium bekas, hingga kolam tanah untuk wadah budidaya ikan, sedangkan untuk wadah budidaya tanaman bisa terbuat dari bambu atau paralon.

Ada beragam model sistem yang bisa dipilih. Herman merinci ada 5 model sistem akuaponik, antara lain sistem Nutrient Film Technique (NTF), vertikal, pasang surut, filled system, serta sistem rakit apung (raft).

Di antara lima sistem tersebut, akuaponik jenis NTF, vertikal, pasang surut bisa dipilih untuk dikembangkan di lahan yang sempit, karena menggunakan material dan proses instalasi yang cukup sederhana.

Irfan menambahkan, yang perlu diperhatikan saat akan memulai budidaya adalah penentuan jenis ikan dan tanaman terhadap sistem yang akan dipilih. Ini diperlukan agar komoditas yang dipilih dapat beradaptasi dengan sistem tersebut.

[irp]

Untuk jenis tanaman, kita bisa memilih kangkung, selada, pakcoy, tomat, cabe, hingga tanaman herbal. Sementara jenis ikan yang dipilih bisa berupa ikan konsumsi seperti lele, nila, mas, dan nilem, ataupun ikan hias seperti koi dan komet.

Selain dapat dikembangkan di lahan sempit serta hemat air, akuaponik juga mendukung nirsampah. Limbah dari budidaya ikan bisa dimanfaatkan untuk nutrisi pertumbuhan tanaman. Hasilnya, tanaman yang dipanen akan bersifat organik, karena tidak menggunakan bahan kimia sebagai nutrisinya.

Tips Khusus

Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan saat ingin memulai budidaya akuaponik. Irfan menjelaskan, instalasi akuaponik harus dipasang dengan baik dan tidak mudah rusak. Selain itu, instalasi juga harus mudah dipantau dan dipelihara.

“Sebagai contoh, sistem resirkulasi air dari media budidaya ikan (kolam) yang terhubung dengan media tumbuh tanaman harus dipastikan berjalan dengan baik karena kebutuhan nutrisi tanaman disuplai dari air yang bersumber dari kolam ikan,” papar Irfan.

Akuaponik juga harus menerima sinar matahari yang cukup untuk pertumbuhan tanaman. Jika akuaponik dibudidayakan di dalam rumah, maka kita bisa menggunakan sinar lampu untuk memenuhi kebutuhan cahaya pada tanaman.

Selanjutnya, ada tiga tips khusus bagi pelaku akuaponik agar budidayanya dapat berkembang secara berkelanjutan:

1. Perhatikan kualitas air, seperti suhu, kadar asam (pH), kandungan oksigen terlarut, nitrit, dan amonia yang menjadi faktor penting dalam budidaya ikan. Selain itu jumlah pemberian pakan yang tidak berlebihan sangat penting untuk diterapkan;

2. Rasio antara kepadatan ikan dan jumlah tanaman sangat perlu diperhatikan, karena nutrisi bagi tanaman yang berasal dari kotoran ikan harus memenuhi kebutuhan nutrisi pertumbuhan tanaman;

3. Secara berkala harus dilakukan pengecekan terhadap keberlangsungan sistem akuaponik, seperti, terhambatnya sistem resirkulasi karena ada penumpukan kotoran pada media tumbuh tanaman, hingga melakukan pengecekan untuk mengantisipasi adanya kebocoran pada wadah budidaya.*

[irp]

Share this: