Dosen FK Unpad Jelaskan Perbedaan Akurasi Tes Antigen dan PCR

Laporan oleh Arif Maulana

Peneliti Universitas Padjadjaran mengembangkan produk Uji Cepad: Covid-19 Antigen yang sudah diproduksi sebanyak 3.000 unit untuk memenuhi kebutuhan di RSHS dan RSP Unpad. (Foto: Dadan Triawan)*

[unpad.ac.id. 23/12/2020] Pemerintah mewajibkan masyarakat untuk melakukan tes antigen apabila akan bepergian ke sejumlah daerah maupun tempat wisata di Indonesia. Kewajiban ini diharapkan untuk menekan transmisi Covid-19 menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2021.

Menurut Dosen Departemen Patologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Basti Andriyoko, dr., Sp.PK(K), tes antigen bertujuan untuk mendiagnosis keberadaan virus pada tubuh sampel. Meski sama-sama mendeteksi adanya virus, tes antigen memiliki perbedaan dengan tes Polymerase Chain Reaction atau PCR.

“Kondisi saat ini, untuk mendiagnosis apakah dia terinfeksi atau tidak, mau tidak mau sekarang harus dicari virusnya,” ungkap Basti saat dihubungi via telepon, Selasa (22/12).

Baca juga: SPM Unpad Gelar Pelatihan Sistem Penjaminan Mutu Internal dan Audit Mutu Internal

Antara tes antigen dan PCR memiliki karakteristik tersendiri. Basti menjelaskan, tes PCR akan mencari materi genetik dari virus, yaitu RNA-nya. Karakteristik ini menjadikan sensitivitas atau akurasi dari tes PCR lebih tinggi ketimbang tes antigen.

Namun, tes PCR tidak bisa membedakan apakah virus tersebut masih hidup atau sudah mati. Karena itu, tes PCR bisa mendeteksi keberadaan virus pada awal target terkonfirmasi positif ataupun ketika dia sudah dinyatakan sembuh.

Karena itu, banyak orang yang sudah dikarantina lebih dari 2 minggu, tetapi ketika dilakukan swab hasilnya masih positif. Basti menjelaskan, pada kasus ini, bisa saja PCR mendeteksi RNA virus yang sudah mati.

Sementara tes antigen hanya mendeteksi keberadaan virus utuh. Tes ini mencari bagian terluar dari virus. Karena mendeteksi virus utuh, maka antigen akan efektif dilakukan di fase awal atau minggu pertama seseorang terkena Covid-19. Jika diperiksa, kemungkinan hasil positifnya tinggi.

Jika dibandingkan, akurasi tes PCR tetap lebih baik dibanding tes antigen. Hal ini yang menjadikan tes PCR menjadi gold standar dalam menentukan apakah seseorang tersebut positif Covid-19 maupun negatif.

“Akurasi PCR bisa sampai 95%, sedangkan antigen ini akan ada miss 10 – 15%,” imbuhnya.

Lantas, mengapa pemerintah mewajibkan tes antigen untuk masyarakat yang akan bepergian? Ada beberapa pertimbangan jika dilihat dari sisi keterjangkauan dan efisiensi pengujian.

Baca juga: Mengungkap Metode Eksperimen Alami dari Pemenang Nobel Ekonomi 2021

Basti menjelaskan, belum semua daerah ataupun masyarakat bisa mendapatkan akses tes PCR. Pengujian sampel PCR juga belum merata bisa dilakukan di semua laboratorium. Pengujian sampel memerlukan laboratorium khusus dan fasilitas yang lengkap serta tenaga ahli.

“Lab sendiri punya kapasitas maksimal pemeriksaan. Jika banyak, hasilnya bisa keluar 2 – 3 hari,” kata Basti.

Antigen relatif lebih mudah pemeriksaannya. Pengujian relatif tidak membutuhkan sarana prasarana yang lengkap walau tetap memerlukan persyaratan yang wajib dipenuhi. Sampel bisa diuji di tempat terbuka tanpa harus dikerjakan di dalam laboratorium.

Hasil dari tes antigen juga terbilang cepat, bergantung pada reagennya. Hal ini yang menjadikan tes ini relatif lebih mudah diakses banyak orang.

Walau terbilang lebih mudah, akademisi tetap menyarankan bahwa tes PCR merupakan upaya terbaik jika dilihat dari tingkat akurasinya. WHO sendiri memberikan pilihan untuk menetapkan tes antigen jika di suatu wilayah memiliki kesulitan dalam mengakses tes PCR.

“Tes antigen masih lebih baik daripada orang tidak periksa sama sekali terus melakukan perjalanan. Itu yang lebih bahaya,” kata Basti.*

Share this: