Laporan oleh Artanti Hendriyana

Dosen Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Dr. Idris, SH., MA., saat menjadi pembicara dalam Webinar Pembinaan Mental dan Kebangsaan “Mencegah Penyalahgunaan Napza di Lingkungan Kampus: Ditinjau dari Perspektif Hukum dan Kesehatan” yang digelar secara daring, Minggu (20/12).*

[unpad.ac.id, 20/12/2020] Mahasiswa semestinya mampu menjauhi penyalahgunaan narkoba. Kesuksesan dan keberhasilan karier tidak akan bisa diraih dengan baik apabila narkotik dan obat-obatan terlarang lainnya sudah menjadi candu bagi penggunanya.

“Kalian bisa sukses tanpa narkoba. Jauhi narkoba. Banyak ditimbang-timbang bahwa ini negatifnya jauh  lebih dahsyat. Jangan coba-coba,” ujar Dosen Fakultas Hukum Unpad Dr. Idris, SH., MA., saat menjadi pembicara dalam Webinar Pembinaan Mental dan Kebangsaan “Mencegah Penyalahgunaan Napza di Lingkungan Kampus: Ditinjau dari Perspektif Hukum dan Kesehatan” yang digelar secara daring, Minggu (20/12).

Pada kesempatan tersebut, Dr. Idris mengatakan bahwa hukum di Indonesia sudah cukup baik dalam menangani pelaku kejahatan narkoba. Namun, ia menyayangkan masih minimnya efek jera bagi para pelaku.

Baca juga: Raissa Indiwina, drg. Raih Juara Dunia “Global Ceram-X Case Contest” di Jerman

Dr. Idris menilai, kejahatan penyalahgunaan narkotika ini sangat serius dan berbahaya. Dilihat dari perspektif hukum internasional, tindak kejahatan ini sudah mendapat banyak perhatian. Dr. Idris pun berharap penyalahgunaan narkoba ini dapat diakui sebagai kejahatan paling serius, bahkan lebih berbahaya dari kejahatan perang .

Ia juga berharap upaya pengendalian penyalahgunaan narkotika dapat dilakukan berbagai pihak. Di lingkungan kampus misalnya, dilakukan berbagai pemaparan dan diskusi secara intens dengan mahasiswa mengenai bahaya narkoba.

Sementara itu, dosen Fakultas Kedokteran Unpad dr. Shelly Iskandar, Sp.KJ., M.Si., Ph.D mengatakan bahwa penanganan adiksi narkoba sangatlah kompleks. Untuk itu, pencegahan adalah upaya yang terbaik.

“Permasalahan Napza itu sangat kompleks dan pencegahan itu adalah hal yang sangat penting,” ujar dr. Shelly.

Menurut dr. Shelly, merasa nyaman dan berkecukupan adalah kunci penting untuk terhindar dari godaan menggunakan narkoba.

Ia menjelaskan, saat narkoba masuk ke dalam otak, ia dapat merusak sistem di otak sehingga dapat merubah kepribadian seseorang. Saat fungsi kontrol pada otak seseorang sudah dipengaruhi narkoba, fungsi kontrolnya pun menjadi bermasalah.

“Itu yang menyebabkan walau dia tahu narkoba itu jelek, tetap menggunakan lagi,” ujarnya.

Di otak pengguna narkoba, saat merasa tidak nyaman, tidak ada solusi yang lain kecuali narkoba. Apapun masalah yang dihadapi, solusinya adalah alkohol dan narkoba.

Baca juga: Dosen Departemen Matematika FMIPA Unpad Berikan Sumbangan kepada Masyarakat Hegarmanah, Jatinangor

Dikatakan dr. Shelly, bagi para pengguna, dari yang awalnya mencari kenikmatan, pada akhirnya penggunaan narkoba hanya untuk mengatasi efek tidak nyamaan saat tidak menggunakannya. Dari impulsif  akan berubah jadi kompulsif.

Terapi narkoba pun seharusnya dilakukan berkelanjutan, hingga penanganan di masa datang. Selain terapi penggunaan narkoba, diperlukan juga terapi pada gangguan psikiatri.

“Sehingga kita betul-betul  harus menangani seorang pasien dengan secara komprehensif,” ujarnya.(arm)*

Share this: