Konsorsium Riset Internasional SAMS Hasilkan Beragam Temuan di Bidang Perlebahan

Konferensi

Rilis

Konferensi internasional “Information, Communication, and Technology in Apiculture” yang digelar sebagai penutupdari rangkaian perjalanan Konsorsium riset internasional “Smart Apiculture Management Services (SAMS), 25 – 26 November lalu.*

[unpad.ac.id, 11/12/2020] Sebagai penutup dari rangkaian perjalanan Konsorsium riset internasional “Smart Apiculture Management Services (SAMS) , Universitas Padjadjaran bersama anggota SAMS menggelar konferensi internasional yang digelar secara virtual 25-26 November lalu.

Konferensi bertajuk “Information, Communication, and Technology in Apiculture” ini diikuti oleh peserta dari 23 negara. Acara tersebut tidak hanya memaparkan berbagai temuan selama 3 tahun proyek SAMS dilakukan di Indonesia, Ethiopia, dan beberapa negara di Erupa, tetapi juga menjadi ajang diskusi terkait teknologi di bidang perlebahan.

Hari pertama konferensi dibuka dengan pembahasan mengenai proyek SAMS oleh Project Manager Stefanie Schaedlich. Stefanie menjelaskan, proyek SAMS dinanai oleh Uni Eropa dan memiliki 8 anggota institusi dari 5 negara di 3 benua.

[irp]

“Tujuan SAMS untuk mengembangkan monitoring sistem koloni lebah sehingga membantu peternak lebah dalam mengurus, mengawasi kesehatan dan tingkat produktivitas koloni lebahnya,” ujar Stefanie.

Acara kemudian dilanjutkan dengan deskripsi monitoring sistem SAMS Yang dikembangkan oleh tim dari Universitas Kassel serta bagaimana implementasinya di Jerman, Ethiopia, dan Indonesia.

Sesi kedua konferensi hari pertama diisi dengan pemaparan mengenai pengawasan kesehatan lebah oleh Zoologist Dr. Linde Morawetz serta ahli perlebahan Markus Barmann. Hari pertama konferensi kemudian ditutp dengan pembahasaan berbagai keaneakaragam temuan yang didapat tim konsorsium dari 3 benua.

Temuan-temuan tersebut didapatkan pada metode User Center Design yang diterapkan dalam pengembangan monitoring sistem SAMS. Peneliti dari Unpad Anas Bunyamin, M.Si., berkesempatan memaparkan temuan selama mengerjakan proyek.

Temuan tersebut didapatkan dari sudut pandang peternak lebah maupun calon peternak lebah yang diberikan materi peningkatan kapasitas pada beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan.

Hari kedua konferensi diisi dengan pembahasan materi mengenai “bee data” dan “bee policies” di Indonesia, Ethiopia, dan Eropa, konsep SAMS Business, pengenalan mitra SAMS dan penandatanganan secara virtual declaration of intent partnership SAMS.

[irp]

Pembahasan “Bee Data” disampaikan oleh anggota konsorsium dari Latvia University of Life Sciences and Technologies serta beberapa narasumber ahli lainnya dari BeeKing dan BeeXML.

Sesi ini membahas mengenai cara penyimpanan dan pemrosesan data alat monitoring lebah SAMS, kebutuhan data peternak lebah dan juga standardisasi bee data.

Sesi pembahasan “bee policies” disampaikan oleh Nur Al Faizah & Taufik Ginanjar Danuwidjaja sebagai perwakilan dari tim SAMS Indonesia, Negash Bekana dari Ethiopian Apiculture Board, dan Thomas M. Klotz seorang science politician yang berkecimpung dalam dunia perlebahan.

Materi yang disampaikan sesi ini memperlihatkan bagaimana kematangan dan kesiapan suatu negara dalam perlebahan sangat berpengaruh pada praktek dan kebijakan yang berlaku dalam suatu negara.

Potensi yang besar dalam perlebahan perlu didukung dengan kebijakan dan kesadaran publik yang memadai untuk dapat berkembang dengan baik.

Adapun program “International ICT Api Partnership”. Kerja sama ini dibentuk dalam rangka menjaga keberlanjutan dari manfaat proyek SAMS.

Kerja sama ini mencakup 3 bentuk kegiatan, yaitu International Partnership on SAMS Business Development; International Partnership on Bee Colony Data and Knowledge Exchange, serta International Partnership on Apiculture Technologies and Services.(art)*

 

Share this: