Penyintas Covid-19 Bukan Aib, Dukungan Keluarga dan Masyarakat Diperlukan

Laporan oleh Arif Maulana

penyintas covid-19
Tenaga medis bersiap mengenakan hazmat sebelum melakukan pengambil sampel usap (swab) di Lapangan Basket Bale Santika Unpad, Jatinangor, Selasa (13/10). (Foto: Dadan Triawan)*

[unpad.ac.id, 29/12/2020] Penyintas Covid-19 memerlukan pengelolaan stres dalam diri yang baik serta dukungan orang terdekat agar mampu sembuh dari penyakit yang dideritanya.

Menurut Dosen Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Aulia Iskandarsyah, M.Psi., M.Sc., PhD, mengatakan, secara psikologis, ada beberapa fase reaksi seseorang saat dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan diagnosis swab PCR.

Fase pertama, kata Aulia, biasanya adalah penyangkalan bahwa seseorang positif Covid-19. Penyangkalan tersebut selanjutnya melahirkan respons diri berupa marah atau sedih.

Sikap ini merupakan fase di mana kondisi mental seseorang mulai terganggu. Penurunan mental akan melahirkan sikap sedih, stres, hingga menutup diri. Fase terakhir adalah ketika seseorang mulai menerima bahwa ia terkena Covid-19.

Baca juga: Kena Dampak Pandemi, Upah Buruh Harus Tetap Terjamin

Namun, Psikolog Kesehatan ini menjelaskan, bukan suatu aib jika seseorang terkena Covid-19. Wabah pandemi ini akan menyasar seluruh orang tanpa terkecuali.

Karena itu, Aulia menyarankan seseorang yang positif Covid-19 berdasarkan hasil swab PCR untuk membuka diri dengan menerima keadaan. Adaptasi tubuh yang cepat akan lebih mudah menentukan rencana selanjutnya.

Konsultasi dengan Satgas atau tim medis harus segera dilakukan untuk menentukan upaya penanganan terbaik. Jika penyintas tidak mengalami gejala, ia bisa melakukan isolasi mandiri dengan pemantauan yang ketat.

“Mau gak mau kita harus patuh dengan protokol isolasi mandiri, jika ada kendala silakan konsultasikan dengan satgas,” tuturnya.

Isolasi Bukan Dipenjara

Aulia menjelaskan, positif Covid-19 harus dibarengi dengan pikiran positif. Yakinkan bahwa proses isolasi ini hanya sementara. Menjadi penyintas Covid-19 bukan berarti suatu aib.

Ada yang beranggapan bahwa isolasi mandiri sama halnya dengan dipenjara. Padahal, isolasi hanya membatasi aktivitas fisik penyintas dengan dunia luar. Penyintas Covid-19 bisa melakukan berbagai aktivitas rutin di dalam ruang isolasi.

“Isolasi itu bukan berarti harus berbaring terus. Dia bisa bangun, olahraga, mandi, dan bekerja. Hanya posisinya dilakukan di tempat isolasi,” jelasnya.

Selanjutnya, penyintas membutuhkan dukungan dari orang terdekat, baik morel maupun materiel. Keluarga, kerabat/kolega, hingga masyarakat sekitar harus mendukung perjuangan penyintas Covid-19.

Baca juga: Menko Airlangga Hartarto: Ekonomi Digital Mampu Akselerasi Pemulihan Ekonomi

Aulia menekankan bahwa masyarakat jangan beranggapan bahwa penyintas Covid-19 adalah orang yang mesti dijauhi. Stigma ini nyatanya masih melekat di sebagian masyarakat Indonesia.

Padahal, seharusnya yang wajib dijauhi adalah penyakitnya. Bukan orangnya.

“Jika orang itu di-swab lagi terus hasilnya negatif, kita harus menerimanya kembali,” kata Aulia.

Hindari Stres

Banyak penelitian menunjukkan bahwa stres ada kaitannya dengan menurunnya imun tubuh. Orang dengan stres berat cenderung memiliki imun tubuh yang rendah.

Penyintas juga wajib menghindari stres saat tengah berjuang untuk sembuh saat Covid-19. Pikiran positif diupayakan terus dibangun oleh penyintas.

Aulia menjelaskan, kekuatan diri jika digabungkan dengan dukungan sosial akan mampu melakukan pengelolaan stres yang lebih baik. “Kalau berjuan sendiri, dia (penyintas) akan berat. Kalau pikirannya positif, lingkungannya juga positif, dia akan menjalani isolasinya dengan baik,” pesan Aulia.*

Share this: