Kilang Minyak Pertamina Terbakar, Pemerintah Harus Mulai Siapkan Infrastruktur Baru di Sektor Energi

kilang minyak pertamina
Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran mengunjungi Onshore Receiving Fasility (ORF) Muara Karang di Jakarta, 4/10/2013. (Foto: Purnomo Sidik)*
kilang minyak pertamina
Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran mengunjungi Onshore Receiving Fasility (ORF) Muara Karang di Jakarta, 4/10/2013. (Foto: Purnomo Sidik)*

[unpad.ac.id] Ahli ekonomi energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti, M.Si., PhD., mengungkapkan, peristiwa terbakarnya tiga kilang minyak Pertamina Balongan, Kabupaten Indramayu, Senin (29/3) dini hari tidak terlalu signifikan mengganggu pasokan BBM ke masyarakat.

“Tiga kilang itu berarti sekitar 10 -15%, secara makro tidak mengalami disrupsi. Itu masih bisa ditangani Pertamina,” ujar Yayan saat diwawancarai Kantor Komunikasi Publik Unpad, Selasa (30/3).

Kapasitas produksi kilang minyak Pertamina Balongan selama ini mencapai 125 ribu barel per hari. Disrupsi produksi akibat peristiwa kebakaran tersebut sekitar 10 – 15 persen, artinya sekira 12 ribuan barel produksi yang mengalami disrupsi.

Yayan meyakini manajemen Pertamina masih mampu mengelola disrupsi ini dengan baik. Artinya, pasokan BBM pasca-terbakarnya tiga kilang tersebut dipastikan aman setidaknya hingga masa setelah Lebaran. “Kalau kerusakannya di atas 50% saya kira baru bisa terdampak,” ujarnya.

Meski demikian, kilang minyak Pertamina Balongan sangat krusial dalam menjaga stabilitas energi nasional. Melalui kejadian ini, diharapkan pemerintah mulai serius membangun infrastruktur baru di sektor energi.

Yayan Satyaki, M.Si., PhD. (Foto: FEB Unpad)*

Dosen Departemen Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpad ini menuturkan, pemerintah seyogianya mulai berpikir jernih untuk mengalokasikan infrastruktur baru di bidang energi. Saat ini di pulau Jawa sendiri baru ada tiga kilang minyak Pertamina yang beroperasi.

Idealnya, perlu ada penambahan kilang minyak baru yang mulai dibangun, baik di Jawa maupun di luar Jawa.

Karena itu, proses perbaikan kilang minyak Pertamina yang terbakar diharapkan menjadi stimulus untuk menambah infrastruktur baru. “Ini menjadi stimulan agar kebutuhan infrastruktur khusus untuk energi segera dieksekusi,” imbuh Yayan.

Menurut Yayan, upaya penguatan infrastruktur energi perlu diprioritaskan demi mendukung stabilitas harga energi di Indonesia. Ini disebabkan, energi merupakan barang konsumsi publik yang perlu dijaga stabilitasnya.

“Kalau barang publik, berarti kewajiban pemerintah untuk menyediakan barang itu bisa diakses masyarakat. Artinya harganya harus efisien, masyarakat mampu beli, dan barangnya harus terus ada,” kata Yayan.*

Share this: