Bantu Pemulihan Sektor Penerbangan, INACA dan Unpad Siapkan “INACA White Paper”

Webinar Nasional INACA White Paper: Proyeksi Pemulihan Sektor Penerbangan Menuju Normal Baru” yang digelar atas kerja sama Universitas Padjadjaran dengan Indonesia National Air Carriers Association, Kamis (15/4).*

[unpad.ac.id] Indonesia National Air Carriers Association (INACA) bekerja sama dengan Universitas Padjadjaran tengah menyusun “White Paper” atau laporan resmi terkait proyeksi pemulihan sektor penerbangan menuju era norma baru.

Ketua tim riset INACA White Paper Unpad Dr. Prita Amalia, M.H., mengatakan, kajian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proyeksi pemulihan sektor penerbangan Indonesia akibat pandemi Covid-19 sekaligus mengetahui kebijakan dan regulasi yang diperlukan untuk mendukung pemulihan sektor penerbangan.

“Covid-19 dinyatakan sebagai serangan terbesar dalam dunia penerbangan dibandingkan dengan kejadian dan krisis yang pernah terjadi sebelumnya,” ujar Prita dalam ”Webinar Nasional INACA White Paper: Proyeksi Pemulihan Sektor Penerbangan Menuju Normal Baru”, Kamis (15/4).

Penyusunan INACA White Paper dilakukan melalui tahap pengumpulan data dari narasumber dan pakar dalam sejumlah diskusi yang telah dilakukan. Informasi dan data kemudian diolah lebih lanjut untuk menjadi luaran (output) berbentuk white paper.

Ada tiga tema yang dibahas melalui diskusi, antara lain aspek kesehatan, stimulus ekonomi, serta kebijakan dan implementasi regulasi.

Lebih lanjut Prita memaparkan, dari hasil diskusi diperoleh data dan informasi bahwa Indonesia telah mengeluarkan kebijakan dan regulasi, baik kebijakan terkait pembatasan mobilitas masyarakat ataupun kebijakan penanganan transportasi udara.

“Regulasi dan insentif di bidang penerbangan sudah diberikan, tetapi tetap diperlukan kebijakan dan regulasi yang bisa membantu sektor penerbangan bertahan bahkan membaik,” kata Prita.

Strategi penanganan pandemi telah banyak dilakukan pemerintah. Salah satunya adalah prioritas pemberian vaksin. Menurut Prita, vaksinasi diharapkan akan kembali memulihkan permintaan (demand) penerbangan.

Siapkan Skenario

Anggota tim peneliti INACA White Paper Unpad Yayan Satyakti, PhD, memaparkan, proses vaksinasi relatif meningkatkan khususnya dari sisi permintaan penumpang penerbangan domestik. Dari situ, tim merumuskan tiga skenario proyeksi berdasarkan business as usual industri penerbangan.

Baca juga: FTG Unpad dan Japan Space Systems Sukses Gelar Program Magang bagi Mahasiswa

Skenario pertama adalah moderat. Melalui skenario ini, peningkatan permintaan penumpang domestik akibat vaksinasi diproyeksikan mulai melambung (rebound) pada awal 2022. Skenario kedua adalah optimistis. Pada skenario optimistis, kecepatan vaksinasi dinaikkan dua kali, sehingga rebound-nya akan lebih cepat.

“Kemungkinan peningkatan mencapai business as usual kurang lebih di akhir tahun 2022,” kata Yayan.

Skenario ketiga adalah skenario pesimistis. Pada skenario ini, kecepatan vaksinasi 50% melambat dari kecepatan vaksinasi saat ini. Kemungkinan peningkatan permintaan penumpang akan lebih rendah dari skenario moderat.

Skenario juga digunakan untuk menghitung pencapaian  jumlah penumpang berdasarkan business as usual. Yayan menjelaskan, pada akhir 2019 jumlah penumpang pesawat domestik Indonesia mencapai 79,2 juta, sedangkan pada akhir 2020, jumlah penumpang menurun menjadi 35,41 juta.

Apabila menggunakan skenario moderat, dengan proses vaksinasi seperti saat ini, diproyeksikan jumlah penumpang kembali di angka 79,2 juta akan tercapai pada Desember 2024. “Pada 2022, pergerakan sudah mulai ada. Desember 2021 ada peningkatan tapi tidak signifikan,” kata Yayan.

Sementara bila menggunakan skenario optimistis dengan kecepatan vaksinasi sebesar 2 kali dari saat ini, rebound akan lebih cepat sehingga angka 79,2 juta akan tercapai pada tahun 2022.

Utamakan Prokes

Yayan memaparkan, konsep dari maskapai tidak berdasarkan pada mobilitas semata. Di masa pandemi, ada hal krusial yang wajib diadaptasi oleh maskapai, yaitu menerapkan protokol kesehatan.Selama maskapai menerapkan protokol kesehatan dan melakukan serangkaian tes pemeriksaan Covid-19 sebelum memasuki pesawat, hal ini bisa menyumbang lebih tinggi dibandingkan mobilitas.

“Artinya, selama airline itu memperoleh trust dari masyarakat, didukung dengan daerah asal dan tujuan penerbangan dinyatakan aman, itu akan membangkitkan permintaan domestik,” jelasnya.

Karena itu, hal ini menjadi peluang bagi maspakai. Adaptasi yang dilakukan maskapai akan berpengaruh pada peningkatan permintaan “Berikan publik trust bahwa fasilitas kesehatan di maskapai itu mampu dijamin, itu yang akan menghidupkan pertumbuhan permintaan maskapai,” kata Yayan.

Baca juga: Prof. Ahmad Faried: "Ilmuwan Bedah" Dibutuhkan di Tengah Masifnya Teknologi Pembedahan

Webinar ini dibuka secara resmi oleh Rektor Unpad Prof. Rina Indiastuti. Dalam sambutannya, Rektor menjelaskan, berdasarkan data World Economic Outlook Update IMF Januari 2021, Indonesia bersama negara berkembang Asia lainnya diproyeksikan memiliki petumbuhan ekonomi sebesar 8,34%. Pertumbuhan ini paling tinggi di antara semua kelompok negara di dunia.

“Kalau vaksin sebagai game changer itu berhasil, maka Asia, termasuk Indonesia, akan recovery, rebound,  dan pertumbuhan ekonominya akan tinggi. Dan itu akan diikuti permintaan terhadap jasa transportasi udara,” papar Rektor.

Optimisme ini perlu dilakukan manajemen yang baik. Industri penerbangan perlu melaksanakan berbagai strategi dan kebijakan pengelolaan. Dengan demikian, optimisme pertumbuhan ekonomi tersebut bisa ditangkap dengan baik oleh industri penerbangan nasional.

Pada webinar tersebut, turut hadir Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyampaikan paparan kunci.*

Share this: