Fenomena Kata Sapaan “Aing”, Kasar tapi Banyak Digunakan

aing
(Foto ilustrasi) mahasiswa Universitas Padjadjaran sedang berdiskusi. (Foto: Dadan Triawan)*

[unpad.ac.id, 15/4/2021] Kata bahasa Sunda “aing” kini banyak digunakan penutur bahasa di luar bahasa Sunda sebagai kata ganti pertama menggantikan “gua”. Penggunaan aing dalam bahasa Indonesia ragam percakapan menimbulkan perdebatan. Pasalnya, kata ini dalam tatakrama bahasa Sunda termasuk ke dalam jenis bahasa kasar.

Menyikapi fenomena kebahasaan tersebut, Dosen Program Studi Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Dr. Gugun Gunardi, M.Hum., mengatakan, kata aing boleh digunakan penutur bahasa Sunda maupun di luar Sunda selama konteks komunikasi dilakukan dengan penutur lain yang berusia sama.

“Bahasa kasar bisa menjadi halus bergantung pada intonasi yang digunakan,” ujar Gugun saat diwawancarai Kantor Komunikasi Publik Unpad.

Walau secara tingkatan bahasa kata aing termasuk kasar, kata sapaan ini kerap digunakan penutur bahasa Sunda untuk menjalin percakapan standar. Bahkan, aing bisa digunakan untuk percakapan dengan teman sebaya sebagai ungkapan candaan atau hiburan.

“Dalam bahasa Sunda, selama penggunaannya tidak mementingkan tingkat tutur bahasa menjadi tidak masalah,” tambahnya.

Gugun pun memandang positif penggunaan kata aing dalam percakapan bahasa Indonesia. Menurutnya, setiap bahasa dipengaruhi oleh bahasa lainnya. Penggunaan aing sebagai kata ganti orang pertama di luar penutur bahasa Sunda dipandang akan bisa memopulerkan eksistensi bahasa Sunda di tingkat nasional.

Meski demikian, kata Gugun, penutur juga wajib mengetahui tingkat tutur bahasa Sunda. Minimal, penutur mengetahui mana kata yang masuk ke dalam ragam bahasa Sunda kasar, sedang, hingga halus.

“Silakan gunakan bahasa Sunda itu. Dengan intonasi tertentu, kata kasar itu bisa menjadi bagus, dan tidak digunakan untuk mem-bully atau memojokkan orang lain,” ujar Gugun.

Ahli linguistik ini memperkirakan, kata aing pertama kali dipopulerkan oleh Bobotoh, atau komunitas pendukung klub sepak bola Persib Bandung. Banyaknya jargon yang menggunakan kata aing oleh Bobotoh menyebabkan banyak orang di luar penutur Sunda menjadi banyak menggunakannya sebagai kata sapaan yang menggantikan kata “gua” atau “aku”.

Karena dipakai oleh sosiolek, atau penutur dari kelompok sosial tertentu, maka orang di luar komunitas menjadi terpengaruh untuk menggunakan kata serupa dalam percakapan sehari-hari.

“Orang lain yang tidak paham dengan kata aing dianggap sebagai kata gagah yang menjadi penanda komunikasi. Saya melihat fenomena aing itu menjadi sering digunakan dan banyak digunakan di luar penutur bahasa Sunda,” kata Gugun.*

Share this: