Miliki Peran Penting, Penyelamatan Danau dan Waduk Kritis Diperlukan

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran Prof. Yayat Dahiyat, M.S., PhD, saat memberikan kuliah wadak (wada) bertema “Menyelamatkan Danau dan Waduk, Menyelamatkan Indonesia” dalam acara peringatan Dies Natalis ke-16 FPIK Unpad secara virtual, Rabu (7/7).

[unpad.ac.id] Indonesia banyak dilimpahi danau alami yang tersebar dari Aceh hingga Papua, baik di daratan pulau utama maupun pulau-pulau kecil. Selain alami, Indonesia juga memiliki banyak danau buatan atau waduk/reservoir. Keduanya memiliki peran penting dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia.

“Danau dan waduk berfungsi penting sebagai penyimpan air dan pengendali banjir, sebagai habitat kehidupan liar termasuk biota endemik, hingga sumber bahan baku air minum, transportasi, perikanan, pariwisata, dan budaya,” ujar Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran Prof. Yayat Dahiyat, M.S., PhD.

Hal tersebut diungkapkan Prof. Yayat saat memberikan kuliah wadak (wada) bertema “Menyelamatkan Danau dan Waduk, Menyelamatkan Indonesia” dalam acara peringatan Dies Natalis ke-16 FPIK Unpad secara virtual, Rabu (7/7).

Meski berperan penting, danau dan waduk tidak luput dari kerusakan. Menurut Prof. Yayan, kerusakan pertama adalah disebabkan adanya perubahan tata guna lahan di perkotaan. Perubahan ini telah menyebabkan penurunan area danau dan perubahan pola aliran sungai.

“Kuantitas air yang masuk ke danau berkurang bahkan tidak ada ketika kemarau,” kata Prof. Yayat.

Selain itu, aktivitas budidaya perikanan juga menjadi permasalahan di waduk. Aktivitas budidaya perikanan secara intensif telah memberikan asupan bahan organik yang cukup tinggi, terutama di sisa pakan. Hal ini memicu peningkatan kesuburan perairan dan tingkat trofik dari danau dan waduk.

Peningkatan kesuburan perairan bisa memicu kematian ikan secara massal dengan tiba-tiba, hingga memicu pertumbuhan gulma yang bisa menutup permukaan perairan danau dan waduk. “Secara ekologis beberapa jenis ikan tidak mampu bertahan pada danau akibat penuruan kualitas perairan,” tambah Prof. Yayat.

Masalah lainnya adalah pencemaran air di danau dan waduk. Tingginya aktivitas domestik di wilayah DAS memengaruhi kualitas perairan di wilayah danau dan waduk. Pada kondisi tertentu, hal ini akan sangat berbahaya bagi kelangsungan ekosistem.

Baca juga: Pakar Unpad: Aset Kripto Jangan Digunakan untuk Transaksi

Upaya Perbaikan

Karena memiliki peran krusial, perbaikan kualitas danau dan waduk mutlak diperlukan. Prof. Yayat menerangkan, pemerintah telah menyusun program penyelamatan dengan menjadikan beberapa danau menjadi prioritas nasional.

Beberapa upaya penyelamatan yang dilakukan adalah penataan keramba jaring apung (KJA). Penataan ini dilakukan agar KJA memenuhi daya dukung terhadap lingkungan. Hingga saat ini, jumlah KJA di beberapa waduk di Indonesia sudah mulai dibatasi.

Upaya lainnya adalah penataan wilayah DAS melalui sejumlah gerakan yang mengikutsertakan masyarakat hingga pengelolaan ekosistem danau dan waduk berupa melakukan reboisasi, membangun reservoir kecil untuk menahan sedimen, dan pelarangan pembuangan limbah industri ke sungai.

Di sektor perikanan, upaya penyelamatan danau dan waduk dilakukan dengan mengembangkan sistem perikanan ramah lingkungan berupa penggunaan sistem jaring ganda pada KJA, diversifikasi jenis ikan untuk budidaya, serta mengembangkan sistem perikanan tangkap.

Acara peringatan Dies Natalis ke-16 FPIK Unpad juga menghadirkan pembicara kunci Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI Dr. Safri Burhanuddin.*

Share this: