Pemberian ASI Eksklusif Bukan Hanya Tanggung Jawab Ibu

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Dida A. Gurnida, dr., Sp.A(K), M.Kes., menjadi pembicara pada diskusi Satu Jam Berbicang Ilmu (Sajabi) yang digelar Dewan Profesor Unpad secara virtual, Sabtu (31/7).*

[unpad.ac.id] Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Dida A. Gurnida, dr., Sp.A(K), M.Kes., mengatakan bahwa pemberian ASI eksklusif pada bayi bukan hanya jadi peran ibu saja. Pemberian ASI eksklusif perlu dukungan berbagai pihak.

“Pemberian ASI ekslusif tidak hanya mengandalkan pengetahuan dan sikap positif ibu saja, tapi ketersediaan fasilitas dan waktu untuk memberikan ASI pada bayi menjadi hal yang perlu dipertimbangkan,” kata Prof. Dida pada diskusi Satu Jam Berbicang Ilmu (Sajabi) “ASI Eksklusif: Masalah dan Solusi” yang digelar Dewan Profesor Unpad secara virtual, Sabtu (31/7).

Prof. Dida menjelaskan, ASI merupakan makanan pertama yang alami bagi bayi. ASI menyediakan semua energi dan nutrisi yang dibutuhkan bayi hingga enam bulan pertama kehidupan.

“Menyusui adalah cara yang sangat baik dalam menyediakan makanan ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat,” ujar Guru Besar Ilmu Kesahatan Anak ini.

Pemberian ASI eksklusif juga diyakini dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi. Selain itu, bayi yang tidak disusui secara optimal dapat mengakibatkan rendahnya tingkat kecerdasan. Hal ini akan menimbulkan kerugian ekonomi negara di masa depan.

“Menyusui merupakan investasi terbaik untuk meningkatkan kesehatan, perkembangan sosial, serta ekonomi individu dan bangsa,” kata Prof. Dida.

Untuk itu, peran dan tanggung jawab bersama sangat dibutuhkan dalam mendukung pemberian ASI eksklusif pada bayi.

Dikatakan Prof. Dida, tenaga kesehatan wajib memberikan pengetahuan pada ibu menyusui mengenai pentingnya ASI eksklusif, hingga membantu bagaimana cara pemberian ASI pada bayi. Ibu menyusui pun diharapkan tidak ragu untuk menghubungi tenaga kesehatan jika menemukan masalah dalam menyusui.

Selain itu, dukungan keluarga, terutama peran aktif suami, juga penting dan diperlukan. Menurut Prof. Dida, budaya di keluarga sangat memengaruhi dalam upaya pemberian ASI eksklusif.

Baca juga: Perawat dan Mahasiswa Keperawatan Siap Cegah Diabetes Melitus dan Komplikasinya

“Besarnya campur tangan keluarga dalam perawatan bayi juga memengaruhi ibu dalam pemberian ASI eksklusif,” kata Prof. Dida.

Sementara bagi ibu yang bekerja, perlu penyediaan waktu dan fasilitas dari perusahaan untuk mendukung pemberian ASI. Di antaranya, adanya fasilitas cuti bagi ibu menyusui, serta penyediaan tempat yang nyaman bagi ibu untuk memerah ASI di kantor.

Hal ini juga ditegaskan dalam sejumlah regulasi dari pemerintah berikut sanksi yang akan diberikan kepada pihak yang dengan sengaja menghalangi pemberian ASI pada bayi. Prof. Dida pun menyayangkan masih minimnya penerapan sanksi terkait itu.

Ia menilai, minimnya penerapan sanksi di antaranya karena masih kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai peraturan tersebut.

Prof. Dida juga mengharapkan adanya peran media dalam upaya mendukung pemberian ASI eksklusif.

 “Media massa juga harus mendukung pemberian ASI eksklusif. Jangan mendukung untuk pemberian susu formula saja,” kata Prof. Dida.

Tanggung jawab bersama dalam pemberian ASI Eksklusif juga ditegaskan dalam tema Pekan Menyusui Sedunia 2021, yaitu “Protect Breastfeeding: a Shared Responsibility”. Tema ini berbicara mengenai bagaimana menyusui berkontribusi pada kelangsungan hidup, kesehatan, dan kesejahteraan semua orang, sehingga membutuhkan kontribusi berbagai pihak.

“Dengan tema ini kita harus ikut andil. Tidak boleh berdiam diri,” kata Prof. Dida.(arm)*

Share this: