
[unpad.ac.id] Pelaksana tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Plt. Dirjen Dikti) Prof. NIzam, PhD, mendorong perguruan tinggi menghasilkan riset yang bisa dihilirisasikan oleh dunia usaha dan industri. Namun, perlu ada perubahan orientasi agar riset yang dihasilkan mampu diterima dan dimanfaatkan oleh pihak industri.
Hal tersebut disampaikan Prof. Nizam saat menjadi pembicara kunci pada Webinar “Research, Education, and Technological Innovation in Hybrid Life” yang digelar dalam rangka peringatan Dies Natalis ke-64 Unpad, Rabu (18/8).
Prof. Nizam mengatakan, mengacu pada teori inovasi linear yang dikembangkan sejak abad ke-20, perguruan tinggi melakukan berbagai riset dasar untuk kemudian dihilirisasikan melalui kolaborasi dengan industri sehingga mampu menghasilkan beragam produk aplikatif.
Namun, pendekatan linear tersebut memerlukan waktu cukup lama dari suatu inovasi riset perguruan tinggi untuk mencapai hilirisasi. “Teori tersebut sudah banyak ditinggalkan. Riset ilmu dasar sekalipun harus engaged dengan mitra dari industri untuk mempercepat adopsi,” kata Prof. Nizam.
Membangun jejaring dan peluang kerja sama antara pusat inovasi di perguruan tinggi dan mitra industri perlu dilakukan. Kampus perlu membangun ekosistem bersama dengan dunia usaha maupun dunia industri.
Lebih lanjut Prof. Nizam menjelaskan, melalui ekosistem tersebut, perguruan tinggi bisa mulai menyusun agenda riset yang didasarkan pada kebutuhan di hilir, hingga penguatan aktivitas tridarma perguruan tinggi
“Agenda riset di perguruan tinggi akan di-drive oleh kebutuhan nyata di dunia profesi. Dengan demikian inovasi perguruan tinggi akan secepat mungkin masuk ke dunia industri,” papar Nizam.
Prof. Nizam menekankan, kerja sama perguruan tinggi dengan dunia industri perlu diperdalam tidak sebatas kegiatan CSR saja. Kolaborasi dibutuhkan untuk menyiapkan talenta sumber daya manusia yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja, serta menciptakan riset dan pengembangan untuk inovasi yang lebih baik.

Webinar tersebut juga menghadirkan pembicara kunci lainnya, yaitu Guru Besar University of South Africa Prof. Janet Mcintyre dan Presiden Direktur Grup RS Hermina dr. Hasmoro. Acara juga menghadirkan sejumlah panelis.*